Minggu, 20 Mei 2018

SERAPAN BAHASA ARAB DALAM BAHASA INDONESIA

Kata serapan merupakan kata yang berasal dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah, maupun dari bahasa asing, seperti bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris.
Menurut penelitian, kosakata bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Indonesia sangat banyak. Jumlahnya diperkirakan mencapai 2000-3000 kata. Pengaruh bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Oleh karena itu, kosakata yang berasal dari bahasa Arab banyak digunakan pada laras keagamaan.
Proses penyerapan kata dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi empat macam yakni, adopsi, adaptasi, penghibridaan dan serapan terjemahan. Namun, penulis di sini akan membahas proses adopsi dan adaptasi karena proses tersebut yang sering digunakan dalam serapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
1.      Adopsi adalah serapan seutuhnya. Kata-kata yang masuk ke dalam bahasa Indonesia diserap secara utuh tanpa perubahan. Proses adopsi ini merupakan langkah pertama dan sangat praktis untuk mengisi kekurangan kata yang ada dalam bahasa Indonesia.  Di bawah ini merupakan beberapa contohnya :

Ø  Muslim. Dalam bahasa Indonesia berarti penganut agama Islam. Kata muslim diserap secara adopsi dari bahasa Arab, sehingga tidak mengalami perubahan baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun makna.
Ø  Halal. Dalam bahasa Indonesia berarti diizinkan (tidak dilarang oleh syarak). Kata halal diserap secara adopsi dari bahasa Arab, sehingga tidak mengalami perubahan baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun makna.

Ø  Haram. Dalam bahasa Indonesia berarti terlarang (oleh agama Islam), tidak halal. Kata haram diserap secara adopsi dari bahasa Arab, sehingga tidak mengalami perubahan baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun makna.

Ø  Masjid. Dalam bahasa Indonesia berarti rumah atau bangunan tempat beribadah orang Islam. Kata masjid diserap secara adopsi dari bahasa Arab, sehingga tidak mengalami perubahan, baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun makna.

Ø  Ahli. Dalam bahasa Indonesia berarti orang yang mahir, menguasai, paham sekali dalam suatu ilmu. Kata ahli diserap secara adopsi dari bahasa Arab, sehingga tidak mengalami perubahan, baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun makna.

Ø  Abad. Dalam bahasa Indonesia berarti jangka waktu yang lamanya seratus tahun. Kata abad diserap secara adopsi dari bahasa Arab, sehingga tidak mengalami perubahan, baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun makna.

1.      Adaptasi adalah serapan yang disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Penyesuaian yang terjadi pada tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. Unsur serapan dari bahasa asing pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Ejaannya dilakukan sesuai dengan keperluan sehingga bentuk aslinya masih dapat dibandingkan dengan bentuk penyesuaiannya. Di bawah ini beberapa contohnya :


·         Korban. Sebenarnya, korban berasal dari kata qurban. Secara harfiah dalam Arab-Melayu ditulis dengan “kaf” dan yang Arab asli ditulis dengan “qof” disertai pasangan “wau” dan “alif”. Kata pertama diartikan untuk hubungannya dengan kecelakaan, sedangkan kata kedua diartikan untuk hubungannya pada perayaan tahunan yang jatuh pada tanggal 10 dzulhijah. Foto di atas merujuk pada kata yang pertama.

·         Sekaten. Berasal dari dua syahadat atau ‘syahadatain’. Dalam bahasa Indonesia berarti pasar malam (terutama di Yogyakarta dan Surakarta) yang diadakan tiap tahun dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

·         Salat. Berasal dari kata Shalat dalam bahasa Arab yang diartikan secara harfiah dengan ‘doa’. Kemudian diserap menjadi salat yang dalam bahasa Indonesia berarti rukun Islam yang kedua, berupa ibadah kepada Allah swt. Wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
·         Imsakiyah. Diambil dari bahasa Arab yaitu amsaka yumsiku imsak yang berarti menahan.  Kemudian diserap menjadi imsak yang dalam bahasa Indonesia berarti saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

·         Ramadan. Berarti bulan ke-9 tahun Hijriah pada bulan ini orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa. Diserap dari bahasa Arab yakni Ramadhan yang kemudian mengalami penggantian konsonan dari “d dengan titik di bawah atau dlad”  menjadi fonem “d”.
·         Kasidah. Memiliki arti bentuk puisi, berasal dari kesusastraan Arab, bersifat pujaan, biasanya dinyanyikan. Dalam bahasa Arab qasida, qasidah yang diserap dan mengalami penggantian konsonan “qa” menjadi fonem “k”.

 ·         Subuh. Berarti waktu antara terbit fajar dan menjelang terbit matahari, waktu salat wajib subuh. Berasal dari bahasa Arab subh yang kemudian diadaptasi dengan penambahan vokal /u/ karena vokal pertama juga /u/.

·         Tarawih. Dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari tarwih yang diartikan sebagai waktu sesaat untuk istirahat. Diadaptasi menjadi tarawih dalam bahasa Indonesia yang berarti salat sunah pada malam hari (sesudah Isya, sebelum Subuh) pada bulan Ramadan.

Demikian pembahasan serapan kata dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dengan proses adaptasi dan adopsi. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya dan mohon maaf jika terdapat kesalahan.


Nama                           : Karomatul Faiza
Kelas                           : 1 SI 1
NIM                            : 1210617031
Mata Kuliah                : Bahasa Bantu
Dosen Pengampu        : Miftahul Khairah, M. Hum

Kamis, 04 Januari 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karuniaNya sehingga tugas akhir mata kuliah Keterampilan Berbahasa Reseptif Membaca ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah tersebut, Ibu Gres Grasia Azmin, S.Hum, M.Si karena telah mengajar dan membimbing kami selama masa perkuliahan dan bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik

Kami juga menghaturkan terimakasih kepada sastrawan Andrea Hirata dalam kutipannya “Hal paling sinting yang mungkin dilakukan umat manusia di muka bumi ini sebagian besar berasal muasal dari cinta.” karena telah menjadi inspirasi kami dalam menulis cerpen ini.

Dan harapan kami semoga cerpen ini dapat menjadi hiburan dan memberikan nilai moral bagi pembacanya, dan tidak hanya menjadi sekedar kewajiban mengerjakan tugas saja.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan dalam cerpen ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi perubahan progresif bagi kami selaku penulis dan mahasiswa.








                                                                                                                        Jakarta, Januari 2018
                                                                                                                        Tim Penulis

Manusia Penyembah Selaput Dara
By : Adinda Mutiara Purnama

Halo, selamat datang!
Sekarang anda sedang berada di negara yang mana perempuan akan kehilangan kehormatan bahkan harga dirinya jika dia sudah tidak "perawan" lagi, saat statusnya belum menikah. Bahkan jika dia seorang korban. Terlebih lagi, jika ia masih muda dan cantik. Selain kehilangan kedua hal di atas dia juga akan kehilangan tempat tinggal alias di usir dari tempat ia tinggal. Bahkan dia sudah dilabeli "pelakor" atau "pelacur" tanpa tahu kejadian apa yang sudah menimpanya. Ya, seperti itulah keadaan negara ini. Tidak, seperti itulah keadaan di desaku. Miris bukan? Kalo aku boleh jawab, sangat.
Hari ini aku akan bercerita tentang manusia-manusia penyembah selaput dara di desa ku. Cerita yang akan kuceritakan ini bertokoh utama seorang gadis cantik yang baru saja pindah ke daerahku, sebut saja dia Dara. Dari wajah, bentuk tubuh hingga sikap harus diakui dia mencapai kata sempurna.  Jadi wajar saja bila banyak kaum adam yang sangat tertarik dengannya. Ya kaum adam, termasuk aku. Jadi, cerita ini bermula dari cerita seorang gadis yang difitnah menjadi kisah seorang gadis yang direnggut kesuciannya. Kejadian ini baru terjadi beberapa minggu yang lalu, sehingga sampai detik aku bercerita sekarang cerita ini masih hangat diperbincangkan.
Rekan-rekan sekalian boleh saja menyiapkan cemilan untuk menemani kalian mendengar cerita ini, barangkali ingin menyiapkan tisu. Aku perkenankan, karena cerita ini akan menggetarkan hati kalian jikalau kalian masih manusia.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 22:30 WIB kala itu, sebuah mobil putih mewah melaju tepat di depan kami, ketika aku dan para bapak-bapak yang masih asik nongkrong di warung Pak Bambang sambil melihat dua petarung sedang berkutat dengan papan kotak hitam putih yang pion-pionnya merupakan hidup dan mati seseorang yang menjalankannya. Seperti biasa, mobil itu berhenti dan menurunkan seseorang di depan rumah berwarna hijau tosca yang ditempati oleh seorang kembang desa bisa dibilang begitu karena siapa pun warga disana sudah aku pastikan mengincarnya. Dara, begitulah namanya dia sudah terbiasa pulang larut malam karena memang dia pernah bercerita jikalau tugasnya di Kantor sangat padat sehingga mau tak mau dia harus menyelesaikan tugas itu baru bisa pulang “Mau bagaimana lagi, Dara kan cuma bawahan, ya mau gak mau harus menuruti atasan Mas. Dara gak mau macem-macem, nyari kerja susah soalnya” aku masih teringat kata-katanya saat pertama kali kami, segerombolan kaum adam melihatnya pulang larut malam. Memang sangat bahaya, bahkan harga dirinya akan turun jika seorang wanita pulang larut malam apalagi jika yang melihat kejadiannya adalah sekelompok ibu-ibu kampung rempong yang dengan senang hatinya mengurusi urusan orang lain. Untung saja, kami para lelaki sehingga memakluminya saat tahu apa alasannya sering pulang larut malam. Bayangkan jika kami adalah segerombolan ibu-ibu rempong, belum apa-apa habis sudah Dara kena makian dari mulut mamak-mamak yang hobi mengulek sambel di dapur.
***

Kau tahu kan sistem nilai di desa sangat kuat, bahkan sangat dipercayai jika wanita yang pulang malam-malam adalah wanita yang tidak baik. Sehingga apa yang dilakukan Dara tetap dianggap menyimpang, padahal apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kata menyimpang. Dan kau pasti sangat tahu apa yang dapat merubah citra positif seseorang menjadi sangat negatif, ya betul gosip. Kasus gosip tersebut bermula setelah Pak Hadi yang dengan bangga berpesan kepada anaknya “Jeng, kamu  kalo udah gede nanti kayak Mbak Dara ya. Sudah cantik, sikapnya baik, wawasannya luas, kerjanya bagus lagi. Jadi Humas perusahaan terkenal”. “Kok mencontohnya Dara si Pak, memang tidak ada yang lain lagi?” Tanya Bu Aminah sambil menaruh kopi hitam untuk Pak Hadi dan teh manis untuk Ajeng. Memang dasar, Pak Hadi pria sejati dia tak mengerti maksud apa yang terbesit dalam omongan istrinya itu. Dipikirnya, suaminya itu ada main dengan gadis muda yang baru pindah itu. Sehingga, Bu Aminah memergoki Dara yang biasa pulang sekitar jam 10.00-01.00. Dengan bermodalkan kamera hp dan kemampuannya mengarang cerita, akhirnya desas-desus tentang Dara seorang pelacur pun bermulai.
Hebat sekali bukan, hanya dengan kekuatan satu mulut dan foto yang tak jelas apa maknanya isu itu beredar dan membuat harga diri seseorang tercoreng. Setelah gosip ini beredar, Dara yang awalnya diterima baik oleh warga desa secara perlahan diasingkan. Ironinya dia tak tahu gosip apa yang beredar tentang dirinya yang diracik dengan hebat oleh seorang wanita yang sedang dilanda cemburu hanya karena seorang suami menjadikannya sebagai contoh kepada anaknya.
Setelah gosip itu mereda, aku kira masalah sudah berlalu. Ternyata, ibu-ibu desaku sangat berproduktif membuat gosip, mulai dari Dara yang dituduh tidak mau bergaul dengan warga desa padahal dia sedang sibuk-sibuknya,  sampai gosip bahwa dia simpanan juragan kaya di desaku. Kreatif sekali pikirku, tertular sinetron yang mana lagi mereka sehingga dapat dengan mudah menyimpulkan segala sesuatunya hanya dengan perkiraan mereka saja. Aku kadang berpikir, bagaimana jika mereka yang difitnah seperti itu, apa mereka akan terima dan akan tetap menjalani hidup dengan tenang jika mereka tahu apa yang sedang dibicarakan lingkungan tentang mereka. Pusing bukan main aku kalau mendengar hal-hal yang demikian.
***

Kembali ke topik awal, Dara yang baru pulang waktu itu langsung masuk ke dalam rumahnya. Kami seperti biasa tidak terlalu tertarik dengan apa yang dilakukannya. Karena semua sudah tahu bahwa dia adalah seorang wanita karir yang sibuk dan kini harus beristirahat untuk melanjutkan karirnya besok. 
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:30 yang artinya kami juga sudah lelah untuk berjaga semalam suntuk, sudah waktunya kami pulang. Bapak-bapak yang lain pulang duluan sedangkan aku masih disana untuk membantu-bantu Juki sebelum menutup warung. Namanya juga bujang, jadi mau pulang kapan saja aku tidak ada yang mencari. Di tengah kesibukan kami, aku melihat seperti ada seseorang yang masuk melompati pagar rumah milik Dara. Mungkin aku sedang mengantuk? Aku berusaha berpikiran positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kembali ke pekerjaanku. Aku masih harus membantu Juki sampai kami yakin tidak ada satu barang jualannya tertinggal. Kau tahu kan, pedagang itu sangat mencari untung walaupun Juki memang orang yang dermawan. Tapi tetap saja, yang namanya untung rugi sangat berpengaruh baginya.

Setelah selesai membantu Juki aku pun langsung melangkahkan kakiku untuk segera pulang. Namun, pikiranku masih berkutat dengan apa yang tadi aku lihat. Aku masih memikirkan nasib Dara. Apakah dia kemalingan atau akan ada sesuatu yang lain yang terjadi. Pikiranku sudah meraba kemana-mana, jadi ngeri sendiri. Dengan sekuat tenaga aku mengelak pikiran-pikiran negatif itu. Karena aku percaya pikiran positif akan berdampak pada kenyataann yang positif. Mana mungkin aku mau warga desaku mengalami kejadian yang tidak-tidak, meski itu menimpa para biang gosip sekalipun.

***
Tidak seperti biasa, pagi ini aku sudah mendengar suara yang bising. Seperti suara warga yang menangkap basah seorang pencuri. Aku bisa merasakan energi negatif dari suara mereka. Namun, ada hal aneh menurutku, dan benar saja saat aku memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi, ternyata mereka sedang menggiring Dara untuk dibawa ke Balai Desa. Sangat tidak masuk akal pikirku, apa yang dia lakukan sampai dia harus digiring ke Balai Desa. Lebih tidak masuk akal lagi, dia digiring dengan pakaian yang tidak beraturan, maksudku bajunya seperti seseorang yang telah dilecehkan. Oh tunggu, apa sesuatu hal yang buruk terjadi padanya? Apa jangan-jangan seseorang yang aku lihat semalam adalah seseorang yang melakukan hal tersebut padanya. Hatiku langsung tak tenang, berarti apa yang semalam aku lihat memang seseorang yang masuk tanpa izin ke dalam rumahnya. Aku harus menghampiri segerombolan warga yang sedang emosi itu, aku juga harus menjelaskan apa yang terjadi.

Dengan sekuat tenaga, aku berlari mengikuti kelompok warga yang sedang menuju, bukan tapi sudah sampai di Balai Desa. “Ibu-ibu Bapak-bapak tenang dulu, Mbak Dara tidak bersalah saya berani sumpah. Mbak Dara telah diperkosa” kataku dengan sangat keras dan nafas yang tak beraturan setelah berlari kencang. Semua warga yang tadinya berisik kemudian terdiam, lalu Bu Aminah bertanya kepadaku “Mana buktinya Mam? Apa kamu punya bukti. Jaman sekarang omongan bisa dibuat-buat. Saya tahu kamu sama laki-laki se-desa suka sama dia. Tapi, kamu juga harus punya bukti buat ngebela perempuan jalang ini”. Wah aku tidak habis pikir, bahkan dia seharusnya tidak berkata seperti itu. Apakah dia tidak sadar, bahwa dialah orang yang membuat bualan-bualan yang demikian? Bisa-bisanya dia tidak berkaca sebelum berbicara. “Demi Tuhan, saya gak bohong. Tadi malam saya lihat ada orang tanpa permisi masuk rumah Mbak Dara. Dia masuk lompat lewat pager” Aku masih berusaha untuk membela Dara, lantas dia tak berhak menerima perlakukan seperti ini. Aku lihat Dara dengan pakaian yang compang camping, mukanya penuh airmata, rambutnya sangat kusut, berusaha terus meyakinkan warga bahwa apa yang dikatakan olehku adalah hal yang nyata. Bisa-bisanya Bu Aminah berpegang teguh dengan pendiriannya dan naasnya, dia berhasil meyakinkan seluruh warga dengan mengatakan yang tidak-tidak.

Apakah dia tidak punya rasa kemanusiaan? Apakah dia tidak merasa iba sebagai seorang ibu dari anak yang juga seorang gadis? Bagaimana jika anak gadisnya yang mengalami hak serupa? Aku yakin dia akan berkoar-koar minta peradilan. Sungguh, kalau bisa membungkam mulutnya ingin aku bungkam sekarang juga mulut yang dengan entengnya memutarbalikan fakta, mulut yang dengan enaknya menasehati seseorang padahal dia sendiri juga seperti itu. Dasar para biadab, manusia penyembah selaput dara. Puaskah kalian, akhirnya Dara harus diusir dari desa, bahkan saat dia menjadi korban.

Saat itu aku berpikir, apakah harus bernasib sama untuk peduli kepada seseorang ?











Akhir Yang Tak Diinginkan
By : Adinda Mutiara Purnama

Kata orang jika kita berusaha, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Kata orang jika kita berkorban, apapun yang kita korbankan tak akan sia-sia.
Kata orang….
Terlalu banyak kata orang yang aku dengar, begitu manis sampai-sampai aku terbuai dengan mimpi-mimpi indah yang nyatanya tak bisa aku miliki. Aku hanyalah aku, pria dungu yang rela melakukan apapun demi cinta. Bodohnya aku terlena dengan manis fiktif yang ada di awalnya sampai aku lupa bahwa dalam cinta tidak melulu kesenangan yang dapat kita rasakan.  Aku lupa, sungguh sangat lupa.
Aku pernah menjalin sebuah hubungan, yang mana hubungan itu sudah kandas sekarang. Apa kau tahu apa alasan kandasnya hubunganku? “Jenuh”. Aku masih tak habis pikir bagaimana rasa jenuh dapat mengakhiri sebuah hubungan yang sudah terjalin lama? Aku sempat berkaca pada diriku sendiri, apa kurangnya aku? Apa aku terlalu naïf ? Apa aku membosankan? Apa aku… terlalu banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan. Teman-teman ku banyak yang sepertiku, maksudnya menjalin hubungan dalam waktu yang lama, tapi hanya aku di antara mereka yang harus mengalami kejadian pahit seperti ini. Apa Tuhan tidak sayang padaku? Atau apa aku terlalu sering bercumbu dengan makhluknya sehingga dia cemburu? Ah aku tak tahu apa-apa.
Hubungan yang aku jalani dulu sama seperti pasangan biasa, memang pasti ada konflik namun aku selalu bisa bernegosiasi dengannya agar hubungan ini tetap terjaga keselarasannya. Dan dia yang selalu saja luluh dengan negosiasiku, kami pun berdamai lagi. Seperti itu, ya seperti itu. Sangat sederhana namun terasa spesial.
Dalam seminggu selalu aku sisipkan satu hari agar kami dapat bersama, walau sesibuk apapun aku berusaha untuk ada saat satu hari itu. Kami sama-sama sibuk, aku dan dia bukanlah seorang kaula muda yang hanya sibuk dengan urusan asmara. Aku masih ingat tugasku sebagai seorang anak dan juga mahasiswa, begitu pun dia. Jadi, jika frekuensi pertemuan kami sudah agak berkurang maka kami akan tetapkan satu hari itu untuk seharian bersama. Entah menghabiskan waktu untuk pergi ke bioskop untuk menonton film, mengunjungi taman rekreasi untuk melepaskan kejenuhan setelah lelah dengan aktifitas, atau bahkan hanya sekedar untuk mendengarkan keluh kesahnya tentang kesibukannya. Aku selalu senang dengan itu.
Sepanjang itu, hubungan kami tidak ada masalah. Ya, tidak ada masalah besar yang membuat kami bertengkar hebat. Tunggu, aku belum cerita ya? Kami jarang sekali bertemu dengan konflik yang sangat serius. Konflik yang sering kami hadapi paling ya hanya miss komunikasi. Dalam hubungan tentu saja komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting. Pasalnya, bagaimana cara menjalin hubungan jika kita tidak berkomunikasi? Suatu hubungan bisa saja bermulai dari sebuah komunikasi singkat yang kian melebar lantaran dua sejoli yang berkomunikasi itu terbentur dengan rasa “nyaman” yang membuat satu sama lain ingin terus menerus mengetahui kabar masing-masing. Sesederhana itu, memang. Sama seperti aku dan dia. Dulu kami hanya suka bertitip-titip salam lewat teman ku yang kebetulan juga dekat dengannya. Hingga aku memberanikan diri untuk menanyakan kontaknya dan kemudian kami berhubungan via ponsel, lalu meningkat menjadi sering membuat janji untuk sekedar jalan bersama. Dan akhirnya, aku menyatakan perasaanku kepadanya. Oh sungguh, saat itu dewa fortuna sedang berpihak padaku sehingga rencanaku berhasil dan membuatnya menjadi milikku. Lalu, kami pun dimabuk asmara. Terutama aku.
Hingga suatu hari, malam itu saat aku baru pulang setelah mengerjakan tugas dengan teman-temanku. Ponsel ku berdering dan menunjukkan namanya sebagai pemiliki notif tersebut. Aku pun langsung membuka pesanku saat itu, aku berharap ada kabar bahagia. Ternyata, memang benar apa kata orang jangan terlalu banyak berharap dengan manusia nanti kau kecewa. Tiba-tiba saja dia mengirimiku pesan “kita putus  ya” aku kaget bukan main, apa alasannya? Hubungan kami seminggu terakhir sedang dalam mode baik-baik saja. Lalu, apa ini? Putus sepihak? Melalui chat? Tidak bisa aku terima, tentu. Aku membalas pesannya dengan kalimat “kenapa tiba-tiba?” coba kau tebak apa balasannya? “Aku jenuh”. Deg, lagi-lagi berhasil membuatku terkejut sekali lagi. Jenuh? Apa aku menjenuhkan? Kenapa dia sebelumnya tidak pernah berbicara tentang ini? Padahal kita sudah sepakat untuk saling berterus terang jika kita merasa ada yang mengganjal pada hubungan itu. Tapi, dia melanggarnya.
Aku yang tentu saja tak terima, ini bukan soal harga diri tetapi ini soal kejelasan. Aku masih tak bisa percaya, dia bahkan mengakhiri hubungan lewat chat. Aku langsung meluncur ke rumahnya. Berhubung jarak yang ku tempuh tidak begitu jauh, aku sampai kesana sekitar 20 menit. Beruntung rumahnya tidak memiliki pagar, jadi aku tak perlu repot-repot membuka pagar. Sesampainya disana aku langsung menaruh motorku dan mendekati pintu untuk mengajaknya berbicara. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit aku mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada jawaban darinya.  Dia hanya tinggal dengan kakaknya dan adik laki-lakinya, kakaknya saat ini tidak ada di rumah dan entah adiknya. Mungkin dia menyuruh adiknya untuk tidak meresponku. 20 menit berlalu aku masih tolelir, sudah lewat 30 menit aku langsung membombardirnya lewat whats app. Aku bahkan melakukan panggilan sebanyak 10 kali namun diabaikan semua. Satu jam, dan aku masih disana tanpa sebuah kejelasan. Saat aku sudah hampir menyerah, akhirnya dia pun keluar. Aku yang antusias beda dengan dia yang malah melontarkan kalimat “Kenapa masih disini ? Pulanglah, tidak ada yang perlu kujelaskan”. Tidak ada yang perlu dijelaskan katanya? Tentu saja semuanya perlu dijelaskan. Semuanya tidak ada yang masuk akal. Mulai dari pesan itu sampai kenapa dia membiarkan aku selama satu jam di luar? Aku semakin dibuat keheranan. Tapi yang membuat ku heran, malah dengan entengnya masuk kembali ke dalam dan mengunci pintunya rapat-rapat seolah tidak mengizinkanku untuk berharap dia kembali dengan sangat. Aku terdiam sejenak, aku mematung selama 5 menit di depan pintunya. Sangat bodoh aku waktu itu, bukannya langsung pergi malah mematung. Wah, penantian ku sia-sia? Bahkan aku tak dihargi sama sekali.
Selang seminggu setelah hubungan kami berakhir. Aku yang masih diselimuti rasa sedih, pundung, galau, dan segala macam rasa menyedihkan lainnya tak sengaja melihat pemandangan yang sangat membuatku terkejut. Aku melihatnya sedang bersama seorang pria lain. Dia sedang bersenang-senang, sedangkan aku masih mengenang saat-saat bersamanya. Aku terpelatuk, saat itu aku berpikir apa usahaku kurang suka? Apa aku pernah melakukan kejahatan seperti ini sebelumnya? Kenapa aku? Aku benar-benar tidak mengerti. Yang bisa ku mengerti adalah, dia jenuh karena ada seseorang yang mampu menggantikan peranku di hidupnya. Dia jenuh karena sudah ada seseorang yang mampu membuat bibirnya tersenyum selain aku. Dia jenuh, karena dia sudah menemukan yang lebih baik dariku.
Untuk kamu, masa laluku terima kasih pernah kau sempatkan hadir dalam hidupku. Walaupun bukan akhir bahagia yang terukir. Tapi, aku disini mendo’akanmu agar terus bahagia dengan kisah barumu. Meskipun, itu bukan denganku.



Permainan Takdir
By : Adinda Mutiara Purnama
Takdir itu lucu,
Takdir itu menyebalkan,
Namun takdir juga bisa menjadi menyenangkan.
Apa kau percaya dengan kata-kata “Jika kita memang jodoh maka kita akan dipertemukan kembali” ? Kalau kau bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab iya. Karena hal ini baru saja terjadi kepadaku. Sungguh, aku tak tahu harus berterima kasih kepada Tuhan dengan cara apalagi. Aku harus bersyukur dengan bagaimana lagi? Yang aku bisa hanya mengucapkan terima kasih dan berdo’a dengan setulus hati sebab aku sudah dipertemukan bahkan dipersatukan dengan seseorang yang sudah lama aku cintai. Pertemuan kami memang memakan waktu yang sangat lama, namun perlu kuakui pepatah yang mengatakan “usaha tidak akan mengkhianati hasil” sangat benar sekali. Aku dan dia sama-sama saling mencari satu sama lain saat kami belum dipertemukan kembali.
Selama kurang lebih 4 tahun setelah aku harus pindah ke negeri seberang, Jepang. Aku kembali mencari wanita yang selama ini aku cintai. Untung saja peralatan jaman sekarang sudah sangat canggih, sehingga dengan menekan beberapa tombol di layar saja kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan termasuk menghubungkanmu kembali dengan seseorang yang sudah lama tidak kau jumpai. Hanya dengan bermodalkan gadget dan memori otakku yang masih berfungsi, aku menelusuri akun facebookku berharap aku dapat dengan segera menemui apa yang sedang aku cari. Aku masih mengingat namanya, wajahnya, suara, bahkan hari-hari yang kita lalui bersama. Park Yura, wanita yang berhasil membuatku membuka hati lagi setelah 3 tahun aku trauma menjalin hubungan. Saat itu, aku hanyalah pria bodoh yang menyedihkan. Aku sangat terlarut dalam kesedihan, lantaran mantan kekasihku menduakanku dengan pria yang bisa dikatakan lebih mapan daripada aku. Bodohnya aku malah mengunci pintu hatiku, sedangkan perempuan jalang itu tengah berbahagia dengan kekasih barunya. Kau tahu apa perkataanya saat memutuskan untuk berpisah denganku “Maaf tapi aku sudah menemukan pria yang lebih kaya darimu” katanya sambil berlalu meninggalkanku yang masih tercengang mendengar ucapannya. Naas sekali nasibku, harus bertemu dengan wanita ular seperti Kim Bora. Lebih naasnya lagi, pertemuan pertamaku dengan Yura sangat memalukan.
Aku ingat, ketika aku sedang sedih-sedihnya sampai aku tidak sadar meneguk 3 botol soju sekaligus. Setelahnya aku menyusuri jalanan Seoul dengan langkah terpontang-panting sambil bergurau memaki-maki wanita ular itu. Aku tak sadar, aku benar-benar tak sadar sampai aku tak sadar melakukan panggilan kepada wanita ular itu setelah 3 tahun aku putus kontak dengannya “Hey Kim Bora, kau akan menyesal telah memutuskan pria sepertiku” aku langsung berteriak seperti itu ketika panggilanku diterima olehnya. Kau tahu apa jawabannya? Ya, katanya “Kau yang sangat menyesal sepertinya” balasnya singkat jelas dan padat. Kalau seandainya dia ada dihadapanku, rasanya ingin aku hajar dia.
Lalu, langkah kaki mengantarku ke Sungai Han. Aku yang masih dalam pengaruh alkohol hanya terima-terima saja saat kakiku menuntun jalan ku kesana. Aku hampir saja bunuh diri kalau saat itu seorang wanita tidak mencoba untuk menolongku, entah kenapa kata-katanya seakan menyadarkanku “Kau boleh punya masalah, kau berhak melakukan apapun yang kau mau. Tapi ingat, kau juga berhak untuk hidup lebih lama lagi dan bahagia”. Saat mendengarnya entah kenapa aku merasa seperti seseorang yang bodoh. Benar-benar bodoh, aku tak menyangka kenapa aku bisa disana, aku tak menyangka apa yang nafsuku inginkan. Aku masih tak menyangka aku hampir melakukan hal yang gila hanya karena patah hati. Kalau saja tidak ada wanita itu, mungkin besok aku akan menjadi berita heboh di koran pikirku. Entah kenapa, kata-katanya tadi sekaligus menjadi penawar alkohol yang ada dalam diriku. Sepertinya semua soju yang aku minum tadi lenyap hilang ditelan kata-kata wanita itu, dan ajaibnya aku tak merasakan mual sama sekali, padahal aku bukan orang yang kuat minum. Kalau kau bertanya-tanya siapa wanita itu, dia adalah Park Yura.
Aku merasa langsung jatuh hati padanya, aku merasa tiba-tiba aku dicintai oleh seseorang setelah hatiku diporak-porandakan habis-habisan oleh seekor ular jalang. Terasa seperti lahir kembali, ya seperti itu. Aku harus bersyukur atau tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Mungkin kalau aku tidak mengalami kejadian ini aku tak bertemu dengannya sekarang. Mungkin aku tak akan jatuh cintanya kepadanya seperti sekarang. Setelah pertemuan singkat di Sungai Han, aku dan Yura sering bertemu untuk sekedar jalan-jalan atau aku yang memang sengaja datang ketempatnya hanya untuk melihatnya, konyol bukan? Ya memang, namun itulah manusia saat sedang dimabuk asmara. Kau akan melakukan apapun untuk melihatnya, meski hal itu kedengaran konyol. Tapi jika kau tidak melakukannya, kau akan gundah gulana menahan rindu seharian. Daripada aku gila lagi pikirku, lebih baik aku mengunjunginya.
Lima bulan berlalu, aku dan Yura sudah semakin akrab. Aku semakin tahu bagaimana sikapnya, apa makanan kesukaannya, siapa idola favoritnya, apa kesukaannya, hingga apa yang disebut aibnya aku tahu semua. Meski begitu, aku tetap mencintainya. Tidak, bahkan itu yang membuatku mencintainya. Ya, dirinya yang seperti itu. Menyenangkan. Namun, kisah itu dituliskan tidak selalu berbuah manis. Orang tuaku menyuruhku untuk pindah ke Jepang untuk melanjutkan pendidikanku. Dan saat aku harus pindah ke Jepang, aku masih belum menyatakan perasaanku. Menyedihkan. Tapi, aku memberikannya kalung dengan bentuk bintang di tengahnya saat dia akan mengantarkan kepergianku kala itu. “Hey pakailah ini, dan ingat suatu saat nanti saat kita bertemu kembali kalung ini harus tetap ada di lehermu ya” kataku sambil memakaikannya. Apa ini terlihat berlebihan, aku tidak peduli. Aku hanya ingin memberikannya kenang-kenangan sebelum kita berpisah. Dia hanya mengangguk dan berkata kepadaku “Kau harus berjanji, bahwa kita akan bertemu kembali Seonho-ssi”. Deg, senang sekali rasanya aku mendengar perkataan itu. Entah kenapa aku refleks sampai memeluknya erat seakan tidak ingin berpisah dengannya. Walaupun begitu, aku tetap harus pergi karena pesawat yang akan mengantarku ke Jepang sudah siap mengangkutku dan semua penumpang lainnya.

Sudah 4 tahun di Jepang, sebenarnya aku sering berkomunikasi dengannya melalui ponsel. Namun, 2 tahun yang lalu aku harus merelakan ponselku sehingga aku tidak dapat mengirim kabar dengannya. Bodohnya aku lupa dengan password LINE yang biasa aku gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Dengan terpaksa 2 tahun aku harus kuat menahan rindu kepadanya. Waktu itu aku tidak terpikirkan untuk mencarinya lewat akun sosial yang lain, kalau saja aku langsung berpikir menhubunginya lewat facebook mungkin aku tidak akan merasakan yang namanya putus kontak dengannya. Namun, sekarang aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi, karena sekarang kami sudah dipertemukan kembali dan mohon doakan supaya kami bisa bersama selamanya. 

Sore Fajar
By : Karomatul Faiza

            Sore benar-benar pergi naik gunung, dia tak izin dengan kedua orang tuanya, karena dia tahu jika mereka takkan memberikannya izin. Semuanya terasa melelahkan, bagaimana tidak lelah? Dia tak pernah mengambil cuti kerja di kantornya selama empat tahun, kecuali jika lebaran dan sedang sakit, itu pun hanya dua hari. Sore memiliki tubuh yang kuat dan hidup dengan sehat, hanya jam tidurnya yang memang tak tentu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga bos di kantornya pun sangat menyukainya karena hasil pekerjaan yang memuaskan. Sore selalu ingin terlihat sibuk, menurutnya jika waktu luang hanya akan membuat ia memikirkan yang tidak-tidak. Tentang jodoh, misalnya.
                                                                        *
            Fajar akhirnya mengikuti ajakan temannya untuk naik gunung. Itu juga karena temannya mau membiayai semua keperluannya. Jika tidak,mana mungkin Fajar mau ikut, untuk makan sehari-hari saja dia susah. Menjadi pengangguran itu memang tak mudah bagi siapapun. Lagi pula, gunung itu tak terlalu tinggi baginya yang baru dua kali naik gunung, 2565 mdpl. Ketinggian itu membuatnya merasa dingin pastinya, tetapi disisi lain ia merasa menang dari segala masalah yang ia tinggal di bawah.
                                                                        *
Apakah aku gila? Tanya Sore pada dirinya sendiri. Naik gunung sendirian dan dia seorang perempuan, mungkin ini hal paling gila yang dia lakukan di hidupnya yang biasanya hanya diisi dengan kesibukan.
Awalnya Sore ikut dengan sebuah rombongan pecinta alam dari Jakarta, namun di perjalanan dia merasa lelah lalu istirahat terlalu lama hingga tak sadar sudah ditinggal rombongan. Ini perjalanan naik gunung pertama baginya, dia tak tahu bagaimana medannya. Keputusan untuk naik gunung pun sangat mendadak, tak ada persiapan sama sekali. Tetapi, ia tetap melanjutkan perjalanan, ia ingin merasakan berada di puncak ketinggian 2565 mdpl.
                                                                        *
Fajar kehilangan teman-temannya di tengah perjalanan karena dia jalan dengan terlalu santai. Sial baginya, semua perlengkapan logistik tak ada padanya kecuali satu botol air mineral kemasan satu liter yang saat ini hanya tinggal setengah. Dia ragu-ragu apa harus turun atau melanjutkan perjalanan ke atas. Tampaknya tak ada sumber mata air di gunung ini, kehausan itu yang lebih mengkhawatirkan daripada kelaparan.
Kemudian, ia melihat seorang perempuan lewat di depannya ketika ia sedang bangkit dari istirahat di bawah pohon. Perempuan itu sepertinya sendirian naik gunung tengah malam. Seketika Fajar merasa tak ingin turun, ia tak mau kalah dengan perempuan itu.
“Kalau naik gunung jangan ganjil jumlah orangnya, entar waktu turun ada yang kurang.” Fajar mengatakannya sembari menjajari langkah perempuan sendirian itu.
“Iya, pasti ada yang kurang pas turun. Kurang beban dari logistik dan air yang dibawa.” Jawab perempuan itu dengan hanya melihat ke arah Fajar sekilas.
Wajah perempuan sendirian yang rambutnya diikat kuncir kuda itu tampak tersenyum sedikit, matanya bulat besar penuh ketegasan, hidungnya sedikit besar tapi mancung, bibirnya tebal dengan warna kemerahan meski tanpa olesan gincu, yang paling Fajar suka dari wajahnya yakni alis, alisnya begitu hitam tebal dan bertemu di tengah jarak antara kedua alis itu. Sepertinya, perempuan yang menarik dan pasti suka menyendiri.
                                                                        *
Sore sedikit terkejut ketika seorang laki-laki menyapanya dengan berkata hal-hal yang menurutnya takhayul. Tetapi, disisi lain sedikit merasa senang karena ia jadi tak sendirian.
Laki-laki itu tampaknya sendirian juga, Sore tak melihat ada rombongan bersamanya. Jadi, mereka berdua akhirnya berjalan bersama. Wajah laki-laki itu membuatnya yakin bahwa ia orang yang baik. Sebuah praduga memang, tetapi dugaannya biasanya selalu tepat. Laki-laki itu memiliki alis yang tak terlalu tebal, tetapi sangat terlihat meyakinkan. Hidungnya bahkan membuat Sore ingin menekannya, karena menjorok ke dalam. Bibirnya  tidak tebal juga tidak tipis tapi agak gelap, sepertinya perokok. Dari keseluruhan wajahnya, yang paling disukai Sore adalah tulang rahangnya, tampak sangat tegas dan keras.
            Fajar, namanya. Lucu setiap yang dikatakannya. Tingkahnya menjaga. Menghabiskan air mineral kerjaannya. Melakukan perjalanan seperti ini dengannya sangat menyenangkan, dia seperti memiliki energi positif yang selalu membuatku merasa bahagia dan merasa aman meski kita baru saling mengenal. Tawanya sangat menular, membuatku lupa bahwa baru kali ini aku tertawa selepas ini karena laki-laki yang baru kutemui.
                                                                        *
Sesampainya di puncak, Fajar membantu Sore mendirikan tenda. Setelah itu, mereka membuat makanan seadanya. Fajar merasa beruntung bertemu Sore, ia jadi tak merasa kehausan dan kelaparan itu yang paling utama. Namun, disadarinya juga ia gembira melihat tawa pada wajah Sore, manis langsung terasa. Tampaknya, Sore tak pernah tertawa sesering ini di hidupnya.
“Bukankah menyenangkan berada di atas sini ?” Fajar berkata sembari memandangi sinar mentari yang baru menampakkan diri.
“Menyebalkan, jika bersama orang sepertimu yang hampir menghabiskan bekal air mineralku.” Jawab Sore dengan gurauan.
“Padahal aku sedang ingin serius.”
“Serius untuk apa?”
“Serius menghabiskan air mineralmu.” Fajar mengatakannya dan langsung meminum air mineral Sore lagi, untuk kesekian kalinya. Mereka tertawa, entah menertawakan apa.
Satu yang pasti dari kebersamaan mereka, kenangan tercipta. Mereka tanpa sadar saling menghibur meski tak tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi satu sama lain.
Setelah menghabiskan bekal minum dan makan milik Sore serta memastikan semuanya aman, Fajar mencari teman-temannya. Untung saja, tenda teman-teman Fajar ternyata tak jauh dari tenda milik Sore. Teman-teman Fajar hampir saja mau melaporkan kehilangan seseorang karena takut jika Fajar ternyata jatuh di perjalanan. Untungnya Fajar hanya ketinggalan dan kembali dengan keadaan baik-baik.
                                                                        *
            Sore turun dengan Fajar dan teman-temannya. Setelah sampai di bawah, tiba-tiba Fajar memberikan sebuah liontin perak berbentuk matahari pada Sore.
“Untuk apa kau memberikan ini padaku?”
“Untuk kau buang, itu pemberian dari seseorang padaku, lalu ku berikan lagi padamu. Untuk kenang-kenangan kalau kita pernah bertemu, mau kau buang atau kau simpan itu terserah padamu.”
“Terima kasih Fajar, semoga aku tak menghilangkannya.”
Sampai disitu, mereka berpisah menuju kepulangan masing-masing. Setelah cukup lama, Sore baru sadar kalau ia tak tahu dimana Fajar tinggal. Sudah lah, mungkin memang mereka hanya ditakdirkan untuk bertemu dalam satu perjalanan saja, pikirnya. Namun dalam lubuk hatinya, Sore menyimpan sedikit harapan bahwa mereka bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Meskipun itu kemungkinan yang sangat kecil, ia tetap berharap meski pada udara kosong sekalipun.
                                                                        *
Fajar menyesal tak menanyakan alamat atau kontak yang bisa dihubungi pada Sore. Bagaimana cara untuk menemukannya lagi, sedangkan yang ia tahu hanya nama Sore dan wajahnya yang manis itu. Sungguh, terkadang kebahagiaan  membuatku sedikit bodoh, pikirnya.
Tahun berlalu sejak perjalanan naik gunung bersama Sore kala itu. Fajar belum bertemu lagi dengan Sore meski hanya sekali, itu juga belum pernah. Lambat laun, semuanya berubah, Fajar sudah tua ketika ia didiagnosa menderita penyakit Leukimia. Ia sendirian, mengharapkan satu mimpi yang belum kejadian.

Sore sedang membuka laptopnya lalu ia teringat pada temannya yang katanya mengirim foto di facebooknya. Tiba-tiba ia menemukan sebuah nama yang mengingatkan pada kejadian bertahun-tahun silam, perjalanan yang penuh kenangan hingga kini belum terlupakan.
Setelah tahu cerita Fajar yang menghubunginya, ia bergegas mencari nama rumah sakit di mana Fajar sedang dirawat. Sore pergi hingga keluar kota untuk menemui Fajar yang sedang sakit, ia hanya ingin menemuinya, itu saja cukup baginya.
“Kenapa sekarang rambutmu telah memutih?” tanya Sore pada Fajar yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
“Aku mengecatnya saat aku tahu bahwa kau akan datang menemuiku.”
“Kau tak berubah rupanya, masih suka bergurau.”
“Aku selalu mencarimu, tapi tetap saja tak kutemukan.”
“Bohong, bukankah kau setiap hari menemui sore setelah siang dan sebelum malam.”
“Sore yang ini yang selalu ku cari.” Jawab Fajar  dengan menggenggam tangan Sore dan menyelipkan sebuah kertas. “Bacalah tulisanku yang jelek itu ketika kau sedang tidak sibuk.”
“Aku masih menyimpan liontin matahari yang kau berikan padaku, haruskah ku kembalikan padamu?”
“Tidak usah, itu telah menjadi milikmu dan akan selalu menjadi milikmu.”
“Syukurlah aku tak perlu mengembalikannya, jadi aku bisa tetap memiliki jimat keberuntunganku ini.”
"Sebenarnya liontin ini adalah pemberian ibuku." Fajar berkata sambil memegang liontinnya "Ibuku memberikannya dan berharap agar aku memberikan liontin ini pada seseorang yang istimewa."
"Jadi, aku adalah orang yang istimewa?" tanya Sore. 
Fajar memberikan liontin itu lagi pada Sore dengan berkata "Kau istimewa karena kau selalu jadi dirimu sendiri. Lebih istimewa lagi karena kau tak marah ketika ku habiskan bekal air mineralmu."
Mereka lalu tertawa, semuanya telah berbeda. Tak lagi sama meski perpisahan itu telah kembali. Sangat menyenangkan ketika akhirnya bisa mewujudkan satu harapan meskipun itu butuh waktu yang sangat lama, tapi tetap saja itu adalah sebuah pencapaian bukan?
Sore datang dengan gembira, mengantar Fajar pergi dengan bahagia.
            Sore itu manis, aku baru tahu rasanya
            Sore itu cantik, aku baru tahu senyumnya
            Sore itu buruk, aku baru tahu setelah kehilangannya
            Sore akan datang, jika Fajar akan menghilang
Sepenggal dari tulisan jelek yang diberikan Fajar pada Sore.

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace