SERAPAN BAHASA
ARAB DALAM BAHASA INDONESIA
Kata
serapan merupakan kata yang berasal dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun
bahasa asing yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan
penuturan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia
menyerap unsur dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah, maupun dari
bahasa asing, seperti bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris.
Menurut
penelitian, kosakata bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Indonesia sangat
banyak. Jumlahnya diperkirakan mencapai 2000-3000 kata. Pengaruh bahasa Arab ke
dalam bahasa Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Oleh
karena itu, kosakata yang berasal dari bahasa Arab banyak digunakan pada laras keagamaan.
Proses
penyerapan kata dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi empat macam yakni,
adopsi, adaptasi, penghibridaan dan serapan terjemahan. Namun, penulis di sini
akan membahas proses adopsi dan adaptasi karena proses tersebut yang sering digunakan
dalam serapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
1. Adopsi adalah serapan seutuhnya. Kata-kata yang
masuk ke dalam bahasa Indonesia diserap secara utuh tanpa perubahan. Proses
adopsi ini merupakan langkah pertama dan sangat praktis untuk mengisi kekurangan
kata yang ada dalam bahasa Indonesia. Di
bawah ini merupakan beberapa contohnya :
Ø Muslim. Dalam bahasa Indonesia berarti penganut agama
Islam. Kata muslim diserap secara adopsi dari bahasa Arab, sehingga tidak
mengalami perubahan baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun makna.
Ø Halal. Dalam bahasa Indonesia berarti diizinkan (tidak
dilarang oleh syarak). Kata halal diserap secara adopsi dari bahasa Arab,
sehingga tidak mengalami perubahan baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun
makna.
Ø Haram. Dalam bahasa Indonesia berarti terlarang (oleh
agama Islam), tidak halal. Kata haram diserap secara adopsi dari bahasa Arab,
sehingga tidak mengalami perubahan baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun
makna.
Ø Masjid. Dalam bahasa Indonesia berarti rumah atau bangunan
tempat beribadah orang Islam. Kata masjid diserap secara adopsi dari bahasa
Arab, sehingga tidak mengalami perubahan, baik dari segi bunyi, kelas kata,
maupun makna.
Ø Ahli. Dalam bahasa Indonesia berarti orang yang mahir,
menguasai, paham sekali dalam suatu ilmu. Kata ahli diserap secara adopsi dari
bahasa Arab, sehingga tidak mengalami perubahan, baik dari segi bunyi, kelas
kata, maupun makna.
Ø Abad. Dalam bahasa Indonesia berarti jangka waktu yang
lamanya seratus tahun. Kata abad diserap secara adopsi dari bahasa Arab,
sehingga tidak mengalami perubahan, baik dari segi bunyi, kelas kata, maupun
makna.
1. Adaptasi adalah serapan yang disesuaikan dengan
kaidah bahasa Indonesia. Penyesuaian yang terjadi pada tataran fonologi,
morfologi, dan sintaksis. Unsur serapan dari bahasa asing pengucapannya dan
penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Ejaannya dilakukan
sesuai dengan keperluan sehingga bentuk aslinya masih dapat dibandingkan dengan
bentuk penyesuaiannya. Di bawah ini beberapa contohnya :
·
Korban. Sebenarnya,
korban berasal dari kata qurban. Secara harfiah dalam Arab-Melayu ditulis
dengan “kaf” dan yang Arab asli ditulis dengan “qof” disertai pasangan “wau”
dan “alif”. Kata pertama diartikan untuk hubungannya dengan kecelakaan,
sedangkan kata kedua diartikan untuk hubungannya pada perayaan tahunan yang
jatuh pada tanggal 10 dzulhijah. Foto di atas merujuk pada kata yang pertama.
·
Sekaten.
Berasal dari dua syahadat atau
‘syahadatain’. Dalam bahasa Indonesia berarti pasar malam (terutama di
Yogyakarta dan Surakarta) yang diadakan tiap tahun dalam peringatan Maulid Nabi
Muhammad saw.
·
Salat. Berasal dari
kata Shalat dalam bahasa Arab yang diartikan secara harfiah dengan ‘doa’.
Kemudian diserap menjadi salat yang dalam bahasa Indonesia berarti rukun Islam
yang kedua, berupa ibadah kepada Allah swt. Wajib dilakukan oleh setiap muslim
mukalaf, dengan syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dengan takbir dan
diakhiri dengan salam.
·
Imsakiyah. Diambil
dari bahasa Arab yaitu amsaka yumsiku
imsak yang berarti menahan. Kemudian
diserap menjadi imsak yang dalam bahasa Indonesia berarti saat dimulainya tidak
melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
·
Ramadan. Berarti
bulan ke-9 tahun Hijriah pada bulan ini orang Islam yang sudah akil balig
diwajibkan berpuasa. Diserap dari bahasa Arab yakni Ramadhan yang
kemudian mengalami penggantian konsonan dari “d dengan titik di bawah atau
dlad” menjadi fonem “d”.
·
Kasidah. Memiliki arti
bentuk puisi, berasal dari kesusastraan Arab, bersifat pujaan, biasanya
dinyanyikan. Dalam bahasa Arab qasida, qasidah yang diserap dan mengalami
penggantian konsonan “qa” menjadi fonem “k”.
·
Tarawih. Dalam bahasa
Arab adalah bentuk jamak dari tarwih
yang diartikan sebagai waktu sesaat untuk istirahat. Diadaptasi menjadi tarawih
dalam bahasa Indonesia yang berarti salat sunah pada malam hari (sesudah Isya,
sebelum Subuh) pada bulan Ramadan.
Demikian pembahasan
serapan kata dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dengan proses adaptasi
dan adopsi. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya dan mohon maaf
jika terdapat kesalahan.
Nama : Karomatul Faiza
Kelas : 1 SI 1
NIM : 1210617031
Mata Kuliah : Bahasa Bantu
Dosen Pengampu : Miftahul Khairah, M. Hum











