Kamis, 04 Januari 2018

Manusia Penyembah Selaput Dara
By : Adinda Mutiara Purnama

Halo, selamat datang!
Sekarang anda sedang berada di negara yang mana perempuan akan kehilangan kehormatan bahkan harga dirinya jika dia sudah tidak "perawan" lagi, saat statusnya belum menikah. Bahkan jika dia seorang korban. Terlebih lagi, jika ia masih muda dan cantik. Selain kehilangan kedua hal di atas dia juga akan kehilangan tempat tinggal alias di usir dari tempat ia tinggal. Bahkan dia sudah dilabeli "pelakor" atau "pelacur" tanpa tahu kejadian apa yang sudah menimpanya. Ya, seperti itulah keadaan negara ini. Tidak, seperti itulah keadaan di desaku. Miris bukan? Kalo aku boleh jawab, sangat.
Hari ini aku akan bercerita tentang manusia-manusia penyembah selaput dara di desa ku. Cerita yang akan kuceritakan ini bertokoh utama seorang gadis cantik yang baru saja pindah ke daerahku, sebut saja dia Dara. Dari wajah, bentuk tubuh hingga sikap harus diakui dia mencapai kata sempurna.  Jadi wajar saja bila banyak kaum adam yang sangat tertarik dengannya. Ya kaum adam, termasuk aku. Jadi, cerita ini bermula dari cerita seorang gadis yang difitnah menjadi kisah seorang gadis yang direnggut kesuciannya. Kejadian ini baru terjadi beberapa minggu yang lalu, sehingga sampai detik aku bercerita sekarang cerita ini masih hangat diperbincangkan.
Rekan-rekan sekalian boleh saja menyiapkan cemilan untuk menemani kalian mendengar cerita ini, barangkali ingin menyiapkan tisu. Aku perkenankan, karena cerita ini akan menggetarkan hati kalian jikalau kalian masih manusia.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 22:30 WIB kala itu, sebuah mobil putih mewah melaju tepat di depan kami, ketika aku dan para bapak-bapak yang masih asik nongkrong di warung Pak Bambang sambil melihat dua petarung sedang berkutat dengan papan kotak hitam putih yang pion-pionnya merupakan hidup dan mati seseorang yang menjalankannya. Seperti biasa, mobil itu berhenti dan menurunkan seseorang di depan rumah berwarna hijau tosca yang ditempati oleh seorang kembang desa bisa dibilang begitu karena siapa pun warga disana sudah aku pastikan mengincarnya. Dara, begitulah namanya dia sudah terbiasa pulang larut malam karena memang dia pernah bercerita jikalau tugasnya di Kantor sangat padat sehingga mau tak mau dia harus menyelesaikan tugas itu baru bisa pulang “Mau bagaimana lagi, Dara kan cuma bawahan, ya mau gak mau harus menuruti atasan Mas. Dara gak mau macem-macem, nyari kerja susah soalnya” aku masih teringat kata-katanya saat pertama kali kami, segerombolan kaum adam melihatnya pulang larut malam. Memang sangat bahaya, bahkan harga dirinya akan turun jika seorang wanita pulang larut malam apalagi jika yang melihat kejadiannya adalah sekelompok ibu-ibu kampung rempong yang dengan senang hatinya mengurusi urusan orang lain. Untung saja, kami para lelaki sehingga memakluminya saat tahu apa alasannya sering pulang larut malam. Bayangkan jika kami adalah segerombolan ibu-ibu rempong, belum apa-apa habis sudah Dara kena makian dari mulut mamak-mamak yang hobi mengulek sambel di dapur.
***

Kau tahu kan sistem nilai di desa sangat kuat, bahkan sangat dipercayai jika wanita yang pulang malam-malam adalah wanita yang tidak baik. Sehingga apa yang dilakukan Dara tetap dianggap menyimpang, padahal apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kata menyimpang. Dan kau pasti sangat tahu apa yang dapat merubah citra positif seseorang menjadi sangat negatif, ya betul gosip. Kasus gosip tersebut bermula setelah Pak Hadi yang dengan bangga berpesan kepada anaknya “Jeng, kamu  kalo udah gede nanti kayak Mbak Dara ya. Sudah cantik, sikapnya baik, wawasannya luas, kerjanya bagus lagi. Jadi Humas perusahaan terkenal”. “Kok mencontohnya Dara si Pak, memang tidak ada yang lain lagi?” Tanya Bu Aminah sambil menaruh kopi hitam untuk Pak Hadi dan teh manis untuk Ajeng. Memang dasar, Pak Hadi pria sejati dia tak mengerti maksud apa yang terbesit dalam omongan istrinya itu. Dipikirnya, suaminya itu ada main dengan gadis muda yang baru pindah itu. Sehingga, Bu Aminah memergoki Dara yang biasa pulang sekitar jam 10.00-01.00. Dengan bermodalkan kamera hp dan kemampuannya mengarang cerita, akhirnya desas-desus tentang Dara seorang pelacur pun bermulai.
Hebat sekali bukan, hanya dengan kekuatan satu mulut dan foto yang tak jelas apa maknanya isu itu beredar dan membuat harga diri seseorang tercoreng. Setelah gosip ini beredar, Dara yang awalnya diterima baik oleh warga desa secara perlahan diasingkan. Ironinya dia tak tahu gosip apa yang beredar tentang dirinya yang diracik dengan hebat oleh seorang wanita yang sedang dilanda cemburu hanya karena seorang suami menjadikannya sebagai contoh kepada anaknya.
Setelah gosip itu mereda, aku kira masalah sudah berlalu. Ternyata, ibu-ibu desaku sangat berproduktif membuat gosip, mulai dari Dara yang dituduh tidak mau bergaul dengan warga desa padahal dia sedang sibuk-sibuknya,  sampai gosip bahwa dia simpanan juragan kaya di desaku. Kreatif sekali pikirku, tertular sinetron yang mana lagi mereka sehingga dapat dengan mudah menyimpulkan segala sesuatunya hanya dengan perkiraan mereka saja. Aku kadang berpikir, bagaimana jika mereka yang difitnah seperti itu, apa mereka akan terima dan akan tetap menjalani hidup dengan tenang jika mereka tahu apa yang sedang dibicarakan lingkungan tentang mereka. Pusing bukan main aku kalau mendengar hal-hal yang demikian.
***

Kembali ke topik awal, Dara yang baru pulang waktu itu langsung masuk ke dalam rumahnya. Kami seperti biasa tidak terlalu tertarik dengan apa yang dilakukannya. Karena semua sudah tahu bahwa dia adalah seorang wanita karir yang sibuk dan kini harus beristirahat untuk melanjutkan karirnya besok. 
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:30 yang artinya kami juga sudah lelah untuk berjaga semalam suntuk, sudah waktunya kami pulang. Bapak-bapak yang lain pulang duluan sedangkan aku masih disana untuk membantu-bantu Juki sebelum menutup warung. Namanya juga bujang, jadi mau pulang kapan saja aku tidak ada yang mencari. Di tengah kesibukan kami, aku melihat seperti ada seseorang yang masuk melompati pagar rumah milik Dara. Mungkin aku sedang mengantuk? Aku berusaha berpikiran positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kembali ke pekerjaanku. Aku masih harus membantu Juki sampai kami yakin tidak ada satu barang jualannya tertinggal. Kau tahu kan, pedagang itu sangat mencari untung walaupun Juki memang orang yang dermawan. Tapi tetap saja, yang namanya untung rugi sangat berpengaruh baginya.

Setelah selesai membantu Juki aku pun langsung melangkahkan kakiku untuk segera pulang. Namun, pikiranku masih berkutat dengan apa yang tadi aku lihat. Aku masih memikirkan nasib Dara. Apakah dia kemalingan atau akan ada sesuatu yang lain yang terjadi. Pikiranku sudah meraba kemana-mana, jadi ngeri sendiri. Dengan sekuat tenaga aku mengelak pikiran-pikiran negatif itu. Karena aku percaya pikiran positif akan berdampak pada kenyataann yang positif. Mana mungkin aku mau warga desaku mengalami kejadian yang tidak-tidak, meski itu menimpa para biang gosip sekalipun.

***
Tidak seperti biasa, pagi ini aku sudah mendengar suara yang bising. Seperti suara warga yang menangkap basah seorang pencuri. Aku bisa merasakan energi negatif dari suara mereka. Namun, ada hal aneh menurutku, dan benar saja saat aku memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi, ternyata mereka sedang menggiring Dara untuk dibawa ke Balai Desa. Sangat tidak masuk akal pikirku, apa yang dia lakukan sampai dia harus digiring ke Balai Desa. Lebih tidak masuk akal lagi, dia digiring dengan pakaian yang tidak beraturan, maksudku bajunya seperti seseorang yang telah dilecehkan. Oh tunggu, apa sesuatu hal yang buruk terjadi padanya? Apa jangan-jangan seseorang yang aku lihat semalam adalah seseorang yang melakukan hal tersebut padanya. Hatiku langsung tak tenang, berarti apa yang semalam aku lihat memang seseorang yang masuk tanpa izin ke dalam rumahnya. Aku harus menghampiri segerombolan warga yang sedang emosi itu, aku juga harus menjelaskan apa yang terjadi.

Dengan sekuat tenaga, aku berlari mengikuti kelompok warga yang sedang menuju, bukan tapi sudah sampai di Balai Desa. “Ibu-ibu Bapak-bapak tenang dulu, Mbak Dara tidak bersalah saya berani sumpah. Mbak Dara telah diperkosa” kataku dengan sangat keras dan nafas yang tak beraturan setelah berlari kencang. Semua warga yang tadinya berisik kemudian terdiam, lalu Bu Aminah bertanya kepadaku “Mana buktinya Mam? Apa kamu punya bukti. Jaman sekarang omongan bisa dibuat-buat. Saya tahu kamu sama laki-laki se-desa suka sama dia. Tapi, kamu juga harus punya bukti buat ngebela perempuan jalang ini”. Wah aku tidak habis pikir, bahkan dia seharusnya tidak berkata seperti itu. Apakah dia tidak sadar, bahwa dialah orang yang membuat bualan-bualan yang demikian? Bisa-bisanya dia tidak berkaca sebelum berbicara. “Demi Tuhan, saya gak bohong. Tadi malam saya lihat ada orang tanpa permisi masuk rumah Mbak Dara. Dia masuk lompat lewat pager” Aku masih berusaha untuk membela Dara, lantas dia tak berhak menerima perlakukan seperti ini. Aku lihat Dara dengan pakaian yang compang camping, mukanya penuh airmata, rambutnya sangat kusut, berusaha terus meyakinkan warga bahwa apa yang dikatakan olehku adalah hal yang nyata. Bisa-bisanya Bu Aminah berpegang teguh dengan pendiriannya dan naasnya, dia berhasil meyakinkan seluruh warga dengan mengatakan yang tidak-tidak.

Apakah dia tidak punya rasa kemanusiaan? Apakah dia tidak merasa iba sebagai seorang ibu dari anak yang juga seorang gadis? Bagaimana jika anak gadisnya yang mengalami hak serupa? Aku yakin dia akan berkoar-koar minta peradilan. Sungguh, kalau bisa membungkam mulutnya ingin aku bungkam sekarang juga mulut yang dengan entengnya memutarbalikan fakta, mulut yang dengan enaknya menasehati seseorang padahal dia sendiri juga seperti itu. Dasar para biadab, manusia penyembah selaput dara. Puaskah kalian, akhirnya Dara harus diusir dari desa, bahkan saat dia menjadi korban.

Saat itu aku berpikir, apakah harus bernasib sama untuk peduli kepada seseorang ?











0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace