Manusia
Penyembah Selaput Dara
By : Adinda Mutiara Purnama
Halo, selamat datang!
Sekarang anda sedang
berada di negara yang mana perempuan akan kehilangan kehormatan bahkan harga
dirinya jika dia sudah tidak "perawan" lagi, saat statusnya belum
menikah. Bahkan jika dia seorang korban. Terlebih lagi, jika ia masih muda dan
cantik. Selain kehilangan kedua hal di atas dia juga akan kehilangan tempat
tinggal alias di usir dari tempat ia tinggal. Bahkan dia sudah dilabeli
"pelakor" atau "pelacur" tanpa tahu kejadian apa yang sudah
menimpanya. Ya, seperti itulah keadaan negara ini. Tidak, seperti itulah
keadaan di desaku. Miris bukan? Kalo aku boleh jawab, sangat.
Hari ini aku akan
bercerita tentang manusia-manusia penyembah selaput dara di desa ku. Cerita
yang akan kuceritakan ini bertokoh utama seorang gadis cantik yang baru saja
pindah ke daerahku, sebut saja dia Dara. Dari wajah, bentuk tubuh hingga sikap harus
diakui dia mencapai kata sempurna. Jadi
wajar saja bila banyak kaum adam yang sangat tertarik dengannya. Ya kaum adam,
termasuk aku. Jadi, cerita ini bermula dari cerita seorang gadis yang difitnah
menjadi kisah seorang gadis yang direnggut kesuciannya. Kejadian ini baru
terjadi beberapa minggu yang lalu, sehingga sampai detik aku bercerita sekarang
cerita ini masih hangat diperbincangkan.
Rekan-rekan sekalian
boleh saja menyiapkan cemilan untuk menemani kalian mendengar cerita ini,
barangkali ingin menyiapkan tisu. Aku perkenankan, karena cerita ini akan
menggetarkan hati kalian jikalau kalian masih manusia.
***
Jam sudah menunjukkan
pukul 22:30 WIB kala itu, sebuah mobil putih mewah melaju tepat di depan kami,
ketika aku dan para bapak-bapak yang masih asik nongkrong di warung Pak Bambang
sambil melihat dua petarung sedang berkutat dengan papan kotak hitam putih yang
pion-pionnya merupakan hidup dan mati seseorang yang menjalankannya. Seperti biasa,
mobil itu berhenti dan menurunkan seseorang di depan rumah berwarna hijau tosca
yang ditempati oleh seorang kembang desa bisa dibilang begitu karena siapa pun
warga disana sudah aku pastikan mengincarnya. Dara, begitulah namanya dia sudah
terbiasa pulang larut malam karena memang dia pernah bercerita jikalau tugasnya
di Kantor sangat padat sehingga mau tak mau dia harus menyelesaikan tugas itu
baru bisa pulang “Mau bagaimana lagi, Dara kan cuma bawahan, ya mau gak mau
harus menuruti atasan Mas. Dara gak mau macem-macem, nyari kerja susah soalnya”
aku masih teringat kata-katanya saat pertama kali kami, segerombolan kaum adam
melihatnya pulang larut malam. Memang sangat bahaya, bahkan harga dirinya akan
turun jika seorang wanita pulang larut malam apalagi jika yang melihat
kejadiannya adalah sekelompok ibu-ibu kampung rempong yang dengan senang
hatinya mengurusi urusan orang lain. Untung saja, kami para lelaki sehingga
memakluminya saat tahu apa alasannya sering pulang larut malam. Bayangkan jika
kami adalah segerombolan ibu-ibu rempong, belum apa-apa habis sudah Dara kena
makian dari mulut mamak-mamak yang hobi mengulek sambel di dapur.
***
Kau tahu kan sistem
nilai di desa sangat kuat, bahkan sangat dipercayai jika wanita yang pulang
malam-malam adalah wanita yang tidak baik. Sehingga apa yang dilakukan Dara
tetap dianggap menyimpang, padahal apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kata
menyimpang. Dan kau pasti sangat tahu apa yang dapat merubah citra positif
seseorang menjadi sangat negatif, ya betul gosip. Kasus gosip tersebut bermula
setelah Pak Hadi yang dengan bangga berpesan kepada anaknya “Jeng, kamu kalo udah gede nanti kayak Mbak Dara ya.
Sudah cantik, sikapnya baik, wawasannya luas, kerjanya bagus lagi. Jadi Humas
perusahaan terkenal”. “Kok mencontohnya Dara si Pak, memang tidak ada yang lain
lagi?” Tanya Bu Aminah sambil menaruh kopi hitam untuk Pak Hadi dan teh manis
untuk Ajeng. Memang dasar, Pak Hadi pria sejati dia tak mengerti maksud apa
yang terbesit dalam omongan istrinya itu. Dipikirnya, suaminya itu ada main
dengan gadis muda yang baru pindah itu. Sehingga, Bu Aminah memergoki Dara yang
biasa pulang sekitar jam 10.00-01.00. Dengan bermodalkan kamera hp dan
kemampuannya mengarang cerita, akhirnya desas-desus tentang Dara seorang
pelacur pun bermulai.
Hebat sekali bukan, hanya dengan kekuatan satu mulut
dan foto yang tak jelas apa maknanya isu itu beredar dan membuat harga diri
seseorang tercoreng. Setelah gosip ini beredar, Dara yang awalnya diterima baik
oleh warga desa secara perlahan diasingkan. Ironinya dia tak tahu gosip apa
yang beredar tentang dirinya yang diracik dengan hebat oleh seorang wanita yang
sedang dilanda cemburu hanya karena seorang suami menjadikannya sebagai contoh
kepada anaknya.
Setelah gosip itu mereda, aku kira masalah sudah
berlalu. Ternyata, ibu-ibu desaku sangat berproduktif membuat gosip, mulai dari
Dara yang dituduh tidak mau bergaul dengan warga desa padahal dia sedang
sibuk-sibuknya, sampai gosip bahwa dia
simpanan juragan kaya di desaku. Kreatif sekali pikirku, tertular sinetron yang
mana lagi mereka sehingga dapat dengan mudah menyimpulkan segala sesuatunya
hanya dengan perkiraan mereka saja. Aku kadang berpikir, bagaimana jika mereka
yang difitnah seperti itu, apa mereka akan terima dan akan tetap menjalani
hidup dengan tenang jika mereka tahu apa yang sedang dibicarakan lingkungan
tentang mereka. Pusing bukan main aku kalau mendengar hal-hal yang demikian.
***
Kembali ke topik awal, Dara yang baru pulang waktu
itu langsung masuk ke dalam rumahnya. Kami seperti biasa tidak terlalu tertarik
dengan apa yang dilakukannya. Karena semua sudah tahu bahwa dia adalah seorang
wanita karir yang sibuk dan kini harus beristirahat untuk melanjutkan karirnya
besok.
Tak terasa waktu
sudah menunjukkan pukul 23:30 yang artinya kami juga sudah lelah untuk berjaga
semalam suntuk, sudah waktunya kami pulang. Bapak-bapak yang lain pulang duluan
sedangkan aku masih disana untuk membantu-bantu Juki sebelum menutup warung.
Namanya juga bujang, jadi mau pulang kapan saja aku tidak ada yang mencari. Di
tengah kesibukan kami, aku melihat seperti ada seseorang yang masuk melompati
pagar rumah milik Dara. Mungkin aku sedang mengantuk? Aku berusaha berpikiran
positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya. Kembali ke pekerjaanku. Aku
masih harus membantu Juki sampai kami yakin tidak ada satu barang jualannya
tertinggal. Kau tahu kan, pedagang itu sangat mencari untung walaupun Juki
memang orang yang dermawan. Tapi tetap saja, yang namanya untung rugi sangat
berpengaruh baginya.
Setelah selesai
membantu Juki aku pun langsung melangkahkan kakiku untuk segera pulang. Namun,
pikiranku masih berkutat dengan apa yang tadi aku lihat. Aku masih memikirkan
nasib Dara. Apakah dia kemalingan atau akan ada sesuatu yang lain yang terjadi.
Pikiranku sudah meraba kemana-mana, jadi ngeri sendiri. Dengan sekuat tenaga
aku mengelak pikiran-pikiran negatif itu. Karena aku percaya pikiran positif
akan berdampak pada kenyataann yang positif. Mana mungkin aku mau warga desaku
mengalami kejadian yang tidak-tidak, meski itu menimpa para biang gosip
sekalipun.
***
Tidak seperti
biasa, pagi ini aku sudah mendengar suara yang bising. Seperti suara warga yang
menangkap basah seorang pencuri. Aku bisa merasakan energi negatif dari suara
mereka. Namun, ada hal aneh menurutku, dan benar saja saat aku memutuskan untuk
melihat apa yang sedang terjadi, ternyata mereka sedang menggiring Dara untuk
dibawa ke Balai Desa. Sangat tidak masuk akal pikirku, apa yang dia lakukan
sampai dia harus digiring ke Balai Desa. Lebih tidak masuk akal lagi, dia
digiring dengan pakaian yang tidak beraturan, maksudku bajunya seperti
seseorang yang telah dilecehkan. Oh tunggu, apa sesuatu hal yang buruk terjadi
padanya? Apa jangan-jangan seseorang yang aku lihat semalam adalah seseorang
yang melakukan hal tersebut padanya. Hatiku langsung tak tenang, berarti apa
yang semalam aku lihat memang seseorang yang masuk tanpa izin ke dalam
rumahnya. Aku harus menghampiri segerombolan warga yang sedang emosi itu, aku
juga harus menjelaskan apa yang terjadi.
Dengan sekuat
tenaga, aku berlari mengikuti kelompok warga yang sedang menuju, bukan tapi
sudah sampai di Balai Desa. “Ibu-ibu Bapak-bapak tenang dulu, Mbak Dara tidak
bersalah saya berani sumpah. Mbak Dara telah diperkosa” kataku dengan sangat
keras dan nafas yang tak beraturan setelah berlari kencang. Semua warga yang
tadinya berisik kemudian terdiam, lalu Bu Aminah bertanya kepadaku “Mana
buktinya Mam? Apa kamu punya bukti. Jaman sekarang omongan bisa dibuat-buat.
Saya tahu kamu sama laki-laki se-desa suka sama dia. Tapi, kamu juga harus
punya bukti buat ngebela perempuan jalang ini”. Wah aku tidak habis pikir,
bahkan dia seharusnya tidak berkata seperti itu. Apakah dia tidak sadar, bahwa
dialah orang yang membuat bualan-bualan yang demikian? Bisa-bisanya dia tidak
berkaca sebelum berbicara. “Demi Tuhan, saya gak bohong. Tadi malam saya lihat
ada orang tanpa permisi masuk rumah Mbak Dara. Dia masuk lompat lewat pager”
Aku masih berusaha untuk membela Dara, lantas dia tak berhak menerima perlakukan
seperti ini. Aku lihat Dara dengan pakaian yang compang camping, mukanya penuh
airmata, rambutnya sangat kusut, berusaha terus meyakinkan warga bahwa apa yang
dikatakan olehku adalah hal yang nyata. Bisa-bisanya Bu Aminah berpegang teguh
dengan pendiriannya dan naasnya, dia berhasil meyakinkan seluruh warga dengan
mengatakan yang tidak-tidak.
Apakah dia tidak
punya rasa kemanusiaan? Apakah dia tidak merasa iba sebagai seorang ibu dari anak
yang juga seorang gadis? Bagaimana jika anak gadisnya yang mengalami hak
serupa? Aku yakin dia akan berkoar-koar minta peradilan. Sungguh, kalau bisa
membungkam mulutnya ingin aku bungkam sekarang juga mulut yang dengan entengnya
memutarbalikan fakta, mulut yang dengan enaknya menasehati seseorang padahal
dia sendiri juga seperti itu. Dasar para biadab, manusia penyembah selaput
dara. Puaskah kalian, akhirnya Dara harus diusir dari desa, bahkan saat dia
menjadi korban.
Saat
itu aku berpikir, apakah harus bernasib sama untuk peduli kepada seseorang ?

0 komentar:
Posting Komentar