Separuh Bulan
By : Abigaelle Easter Alamanda
Telepon
bordering nyaring sekali. Hari masih pagi, bahkan matahari juga belum
menampakkan sinarnya. Jennifer membuka sebelah matanya dan meraih gagang
telepon di meja di sampingnya.
“Ya?” katanya malas. Jennifer tetap menutup matanya sambil mendengarkan si penelepon tak tahu waktu bicara. Seketika matanya terbelalak dan jeritan keluar dari mulutnya.
“Ya?” katanya malas. Jennifer tetap menutup matanya sambil mendengarkan si penelepon tak tahu waktu bicara. Seketika matanya terbelalak dan jeritan keluar dari mulutnya.
Jennifer
telah menanti datangnya hari dimana ia akan mendengar kembali kabar tentang
cinta lamanya. Ia memang sudah tua dan matanya tak lagi bersinar seperti dulu,
tapi ia merasa semangat sekali untuk menyambut sang cinta lama datang
kepadanya. “Nenek, apa yang sedang nenek lakukan?” tanya seorang gadis remaja
sambil duduk di ujung kasur tidur sang nenek. “Nenek akan bertemu dengan cinta
pertama nenek.” begitu katanya. “Kukira cinta pertama nenek adalah kakek?”
tanya gadis itu lagi. “Tentu saja tidak.”
Jennifer
membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan sebuah liontin dengan bandulan
berbentuk separuh bulan purnama. Ia memandang ke cermin dan melihat pantulan
wajahnya sendiri disana. Ia membayangkan kekasihnya ada disini untuk memakaikan
liontin pemberiannya itu. “Apa kau sedang membayangkan Stephen?” tanya adiknya,
Melissa. “Tentu saja. Aku harap dia ada disini sekarang, bukannya berperang.”
jawab Jennifer. “Kenapa kau masih menunggunya? Stephen tidak pernah mengirimimu
surat. Dia membiarkanmu khawatir dan bertanya-tanya tentang keadaannya.
Sedangkan Mike, dia selalu mengirimimu surat.” kata Melissa. “Aku mencintai
Stephen. Aku percaya padanya. Aku yakin dia baik-baik saja. Dan jangan lagi
ungkit soal Mike dan surat-surat cinta omong kosongnya. Aku sudah membakar
surat-surat itu.”
Malam
itu menjadi hari penting bagi Jennifer, karena Stephen akan pulang dari perang
yang menjauhkan mereka sekian lama. Ditemani Melissa, Jennifer setia menunggu
di beranda rumahnya karena sebelum pergi berperang, Stephen berjanji akan
langsung menuju rumahnya saat kembali. “Ini sudah hampir dua jam dan dia belum
juga muncul.” gumam Jennifer khawatir. “Mungkin kepulangan mereka ditunda. Bisa
saja terjadi.” kata Melissa. Jennifer mengetuk-ngetukan jarinya ke meja dan
menggoyang-goyangkan kakinya, resah. Melissa ikut dibuat resah karena sudah
empat jam dan belum juga ada tanda-tanda. “Aku tidak bermaksud membuatmu semakin
resah, tapi apa kau yakin ia akan pulang dengan selamat?” tanya Melissa.
Jennifer menatapnya marah. “Kau selalu saja mendoakan hal-hal buruk terjadi
pada Stephen.” “Aku hanya bertanya.” katanya membela diri. Malam semakin larut
dan karena letih menunggu, akhirnya Jennifer dan Melissa sampai kepada
kesimpulan bahwa mungkin kepulangan para tentara tertunda.
Keesokan
harinya dana hari-hari berikutnya, Jennifer tetap melakukan hal yang sama.
Menunggu dan menunggu kepulangan Stephen dari medan perang. Menit berganti jam,
jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan
berganti tahun. Stephen tidak kunjung kembali. Jennifer begitu terpukul karena
ini adalah kali pertama Stephen berbohong padanya. Ia bilang ia akan kembali,
tetapi kenyataannya tidak. Begitu sakit hatinya, Jennifer memutuskan untuk
pindah ke Inggris dan memulai hidup baru tanpa Stephen.
Jennifer
menjalani hari-harinya dengan biasa saja. Ia bersekolah dan kemudian bekerja.
Ia bertemu dengan banyak orang dan kesedihannya akan Stephen perlahan-lahan
memudar. Jennifer mampu kembali hidup dalam kebahagiaan, setidaknya itulah yang
ia yakini. Ia hidup seorang diri tanpa pernah berpikir untuk menikah karena
jauh di dalam hatinya ia masih mengharapkan kepulangan Stephen. Ia masih berharap
untuk bertemu dengan Stephen. Jennifer adalah orang yang senang bersosialisasi,
namun ia menutup diri dari laki-laki yang ingin berkenalan dengannya atau
sekadar mengajaknya makan siang bersama. Ia begitu setia menanti Stephen selama
bertahun-tahun, sampai sebuah undangan pernikahan sampai ke tangannya.
Berkali-kali ia baca ulang undangan itu, ia cermati kata demi kata, huruf demi
huruf agar tidak ada yang terlewat olehnya. Nama Stephen Walbert tertulis
disana dan dibawah namanya tertulis nama wanita lain. Bagai disambar petir di
siang bolong, Jennifer roboh dan menangis sejadi-jadinya.
“Jahat
sekali dia, Nek.” kata gadis remaja itu sambil menyisir rambut neneknya
perlahan. “Awalnya kupikir begitu. Tetapi belakangan aku mulai mengerti
alasannya.” Katanya. “Lalu, setelah mendapat kabar itu, nenek bagaimana?”
Terkejut
dengan kabar pernikahan Stephen yang begitu tiba-tiba, Jennifer semakin menutup
diri dari lingkungannya. Ia begitu terpukul karena satu-satunya surat yang
pernah dikirimkan Stephen adalah surat undangan pernikahannya dengan wanita
lain. Jennifer membuang undangan pernikahan itu dan memilih untuk tidak datang.
Ia tahu, itu adalah hal paling berat yang pernah ia lakukan.
Bertahun-tahun
Jennifer menutup diri dan hanya mementingkan pekerjaan yang dimilikinya,
Jennifer tersadar bahwa usianya sudah memasuki kepala tiga. Ayah dan ibunya
kerap kali mengirimkan surat membujuknya untuk segera menikah, namun Jennifer
menolaknya. Ia masih begitu terluka dari kenyataan bahwa Stephen dengan begitu
mudahnya meninggalkannya dengan wanita lain.
Seiring
berjalannya waktu, Jennifer mulai merasa bahwa dirinya tidak bisa hidup seorang
diri terus menerus. Ia membutuhkan teman hidup untuk berbagi cerita dan berbagi
rasa. Namun sulit rasanya baginya menemukan pendamping. Karena sikapnya yang
dingin dan menutup diri dari lingkungan sekitar, laki-laki menjadi enggan untuk
mendekatinya. Namun ada satu orang yang secara terang-terangan mengajaknya
menikah. Dia adalah Mike. Mike yang sama yang selalu mengiriminya surat dari
medan perang namun tak pernah ia balas. Mike, yang kala itu sudah menjadi duda
dengan dua anak yang masih kecil, memutuskan untuk menikahi Jennifer. Jennifer
tahu bahwa Mike memang benar-benar mencintainya, maka menerima lamaran Mike dan
mereka menikah meskipun Jennifer tidak benar-benar mencintainya.
Waktu
yang dihabiskan Jennifer seumur hidupnya dengan Mike merupakan hari-hari berat.
Jennifer tidak bisa memberikan keturunan bagi Mike, namun Mike tetap
mencintainya. Begitupun anak-anak Mike dari istrinya terdahulu. Mereka begitu
menyayangi Jennifer. Mereka selalu menyemangati Jennifer dengan kasih sayang
mereka dan ini membuat Jennifer merasa sangat beruntung sekaligus menyesal
karena tidak memberikan Mike kesempatan di masa lalu. Jennifer akhirnya bisa
mencintai Mike dengan sungguh-sungguh karena cinta dan kasih yang diberikannya
lebih dulu.
Semua
berjalan begitu indah, sampai Jennifer harus sekali lagi dibuat patah hati
karena Mike meninggal akibat kelelahan. Belum genap 10 tahun ia menikah dan merasakan
kebahagiaan yang telah lama pergi, ia harus berhadapan lagi dengan pahitnya
kenyataan. Sejak kepergian Mike, Jennifer hanya fokus pada pekerjaan dan
membesarkan anak-anak sambungnya.
“Apa
nenek kembali ke Amerika untuk bertemu dengan cinta pertama nenek?” tanya sang
cucu. “Benar, tapi tidak sepenuhnya benar.” jawab Jennifer. “Apa maksudnya?”
“Maksud nenek, alasan utama nenek kembali ke Amerika adalah ingin kembali ke
kampung halaman. Alasan lainnya adalah untuk bertemu dengan Stephen. Dan hari
ini nenek akan bertemu dengannya lagi, setelah puluhan tahun.” Sang cucu
tersenyum kecil. “Nenek terlihat bahagia sekali.” Jennifer tersipu malu
mendengar cucunya berkata seperti itu, Tapi ia tidak memungkiri bahwa
kenyataannya memang ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Stephen. Saat
Jennifer hendak memakai liontin separuh bulan itu di lehernya, telepon kembali
berdering. “Biar aku saja.” kata cucunya sambil berlari kecil untuk mengangkat
telepon itu. “Halo? Aku Diana, cucu Ibu Meyerink. Ada yang bisa ku bantu?”
tanya sang cucu. Raut wajahnya yang tadi ceria kemudian menjadi muram. “Apa kau
yakin? Baiklah, akan ku sampaikan. Terima kasih.” Diana menutup teleponnya dan
berbalik menghadap sang nenek. “Ada apa?” tanya Jennifer. “Nek, kurasa nenek
harus ganti baju menjadi baju hitam.” katanya tanpa berani memandang sang
nenek. “Tuan Stephen meninggal dunia.” lanjutnya. Liontin separuh bulan yang
digenggamnya jatuh begitu saja ke lantai dan hancur.

0 komentar:
Posting Komentar