Kamis, 04 Januari 2018




Separuh Bulan
By : Abigaelle Easter Alamanda

Telepon bordering nyaring sekali. Hari masih pagi, bahkan matahari juga belum menampakkan sinarnya. Jennifer membuka sebelah matanya dan meraih gagang telepon di meja di sampingnya.
“Ya?” katanya malas. Jennifer tetap menutup matanya sambil mendengarkan si penelepon tak tahu waktu bicara. Seketika matanya terbelalak dan jeritan keluar dari mulutnya.

Jennifer telah menanti datangnya hari dimana ia akan mendengar kembali kabar tentang cinta lamanya. Ia memang sudah tua dan matanya tak lagi bersinar seperti dulu, tapi ia merasa semangat sekali untuk menyambut sang cinta lama datang kepadanya. “Nenek, apa yang sedang nenek lakukan?” tanya seorang gadis remaja sambil duduk di ujung kasur tidur sang nenek. “Nenek akan bertemu dengan cinta pertama nenek.” begitu katanya. “Kukira cinta pertama nenek adalah kakek?” tanya gadis itu lagi. “Tentu saja tidak.”

Jennifer membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan sebuah liontin dengan bandulan berbentuk separuh bulan purnama. Ia memandang ke cermin dan melihat pantulan wajahnya sendiri disana. Ia membayangkan kekasihnya ada disini untuk memakaikan liontin pemberiannya itu. “Apa kau sedang membayangkan Stephen?” tanya adiknya, Melissa. “Tentu saja. Aku harap dia ada disini sekarang, bukannya berperang.” jawab Jennifer. “Kenapa kau masih menunggunya? Stephen tidak pernah mengirimimu surat. Dia membiarkanmu khawatir dan bertanya-tanya tentang keadaannya. Sedangkan Mike, dia selalu mengirimimu surat.” kata Melissa. “Aku mencintai Stephen. Aku percaya padanya. Aku yakin dia baik-baik saja. Dan jangan lagi ungkit soal Mike dan surat-surat cinta omong kosongnya. Aku sudah membakar surat-surat itu.”

Malam itu menjadi hari penting bagi Jennifer, karena Stephen akan pulang dari perang yang menjauhkan mereka sekian lama. Ditemani Melissa, Jennifer setia menunggu di beranda rumahnya karena sebelum pergi berperang, Stephen berjanji akan langsung menuju rumahnya saat kembali. “Ini sudah hampir dua jam dan dia belum juga muncul.” gumam Jennifer khawatir. “Mungkin kepulangan mereka ditunda. Bisa saja terjadi.” kata Melissa. Jennifer mengetuk-ngetukan jarinya ke meja dan menggoyang-goyangkan kakinya, resah. Melissa ikut dibuat resah karena sudah empat jam dan belum juga ada tanda-tanda. “Aku tidak bermaksud membuatmu semakin resah, tapi apa kau yakin ia akan pulang dengan selamat?” tanya Melissa. Jennifer menatapnya marah. “Kau selalu saja mendoakan hal-hal buruk terjadi pada Stephen.” “Aku hanya bertanya.” katanya membela diri. Malam semakin larut dan karena letih menunggu, akhirnya Jennifer dan Melissa sampai kepada kesimpulan bahwa mungkin kepulangan para tentara tertunda.

Keesokan harinya dana hari-hari berikutnya, Jennifer tetap melakukan hal yang sama. Menunggu dan menunggu kepulangan Stephen dari medan perang. Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Stephen tidak kunjung kembali. Jennifer begitu terpukul karena ini adalah kali pertama Stephen berbohong padanya. Ia bilang ia akan kembali, tetapi kenyataannya tidak. Begitu sakit hatinya, Jennifer memutuskan untuk pindah ke Inggris dan memulai hidup baru tanpa Stephen.

Jennifer menjalani hari-harinya dengan biasa saja. Ia bersekolah dan kemudian bekerja. Ia bertemu dengan banyak orang dan kesedihannya akan Stephen perlahan-lahan memudar. Jennifer mampu kembali hidup dalam kebahagiaan, setidaknya itulah yang ia yakini. Ia hidup seorang diri tanpa pernah berpikir untuk menikah karena jauh di dalam hatinya ia masih mengharapkan kepulangan Stephen. Ia masih berharap untuk bertemu dengan Stephen. Jennifer adalah orang yang senang bersosialisasi, namun ia menutup diri dari laki-laki yang ingin berkenalan dengannya atau sekadar mengajaknya makan siang bersama. Ia begitu setia menanti Stephen selama bertahun-tahun, sampai sebuah undangan pernikahan sampai ke tangannya. Berkali-kali ia baca ulang undangan itu, ia cermati kata demi kata, huruf demi huruf agar tidak ada yang terlewat olehnya. Nama Stephen Walbert tertulis disana dan dibawah namanya tertulis nama wanita lain. Bagai disambar petir di siang bolong, Jennifer roboh dan menangis sejadi-jadinya.

“Jahat sekali dia, Nek.” kata gadis remaja itu sambil menyisir rambut neneknya perlahan. “Awalnya kupikir begitu. Tetapi belakangan aku mulai mengerti alasannya.” Katanya. “Lalu, setelah mendapat kabar itu, nenek bagaimana?”

Terkejut dengan kabar pernikahan Stephen yang begitu tiba-tiba, Jennifer semakin menutup diri dari lingkungannya. Ia begitu terpukul karena satu-satunya surat yang pernah dikirimkan Stephen adalah surat undangan pernikahannya dengan wanita lain. Jennifer membuang undangan pernikahan itu dan memilih untuk tidak datang. Ia tahu, itu adalah hal paling berat yang pernah ia lakukan.

Bertahun-tahun Jennifer menutup diri dan hanya mementingkan pekerjaan yang dimilikinya, Jennifer tersadar bahwa usianya sudah memasuki kepala tiga. Ayah dan ibunya kerap kali mengirimkan surat membujuknya untuk segera menikah, namun Jennifer menolaknya. Ia masih begitu terluka dari kenyataan bahwa Stephen dengan begitu mudahnya meninggalkannya dengan wanita lain.

Seiring berjalannya waktu, Jennifer mulai merasa bahwa dirinya tidak bisa hidup seorang diri terus menerus. Ia membutuhkan teman hidup untuk berbagi cerita dan berbagi rasa. Namun sulit rasanya baginya menemukan pendamping. Karena sikapnya yang dingin dan menutup diri dari lingkungan sekitar, laki-laki menjadi enggan untuk mendekatinya. Namun ada satu orang yang secara terang-terangan mengajaknya menikah. Dia adalah Mike. Mike yang sama yang selalu mengiriminya surat dari medan perang namun tak pernah ia balas. Mike, yang kala itu sudah menjadi duda dengan dua anak yang masih kecil, memutuskan untuk menikahi Jennifer. Jennifer tahu bahwa Mike memang benar-benar mencintainya, maka menerima lamaran Mike dan mereka menikah meskipun Jennifer tidak benar-benar mencintainya.

Waktu yang dihabiskan Jennifer seumur hidupnya dengan Mike merupakan hari-hari berat. Jennifer tidak bisa memberikan keturunan bagi Mike, namun Mike tetap mencintainya. Begitupun anak-anak Mike dari istrinya terdahulu. Mereka begitu menyayangi Jennifer. Mereka selalu menyemangati Jennifer dengan kasih sayang mereka dan ini membuat Jennifer merasa sangat beruntung sekaligus menyesal karena tidak memberikan Mike kesempatan di masa lalu. Jennifer akhirnya bisa mencintai Mike dengan sungguh-sungguh karena cinta dan kasih yang diberikannya lebih dulu.

Semua berjalan begitu indah, sampai Jennifer harus sekali lagi dibuat patah hati karena Mike meninggal akibat kelelahan. Belum genap 10 tahun ia menikah dan merasakan kebahagiaan yang telah lama pergi, ia harus berhadapan lagi dengan pahitnya kenyataan. Sejak kepergian Mike, Jennifer hanya fokus pada pekerjaan dan membesarkan anak-anak sambungnya.

“Apa nenek kembali ke Amerika untuk bertemu dengan cinta pertama nenek?” tanya sang cucu. “Benar, tapi tidak sepenuhnya benar.” jawab Jennifer. “Apa maksudnya?” “Maksud nenek, alasan utama nenek kembali ke Amerika adalah ingin kembali ke kampung halaman. Alasan lainnya adalah untuk bertemu dengan Stephen. Dan hari ini nenek akan bertemu dengannya lagi, setelah puluhan tahun.” Sang cucu tersenyum kecil. “Nenek terlihat bahagia sekali.” Jennifer tersipu malu mendengar cucunya berkata seperti itu, Tapi ia tidak memungkiri bahwa kenyataannya memang ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Stephen. Saat Jennifer hendak memakai liontin separuh bulan itu di lehernya, telepon kembali berdering. “Biar aku saja.” kata cucunya sambil berlari kecil untuk mengangkat telepon itu. “Halo? Aku Diana, cucu Ibu Meyerink. Ada yang bisa ku bantu?” tanya sang cucu. Raut wajahnya yang tadi ceria kemudian menjadi muram. “Apa kau yakin? Baiklah, akan ku sampaikan. Terima kasih.” Diana menutup teleponnya dan berbalik menghadap sang nenek. “Ada apa?” tanya Jennifer. “Nek, kurasa nenek harus ganti baju menjadi baju hitam.” katanya tanpa berani memandang sang nenek. “Tuan Stephen meninggal dunia.” lanjutnya. Liontin separuh bulan yang digenggamnya jatuh begitu saja ke lantai dan hancur.

0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace