Altar
By : Dwi Krisna J
"Uhm.” Gilang
bergumam, membetulkan posisi mikrofon yang ada di depannya. Ia sedikit batuk,
berusaha membuat suaranya yang serak itu kembali jelas sebelum mendongak dari
kertas berisi kata-kata perpisahan itu. Ia mendongak. Matanya seperti dapat melihat
semua mata yang ada di sana namun juga terlihat kosong pada waktu yang sama. Ia
menggenggam stand mikrofon itu dengan tangannya yang gemetar, mengarahkannya ke
mulutnya dan berkata, “saya mencintai sarah,”
“Sangat.”
Para tamu pun terdiam
mendengar ujarannya. Ia merasa aneh. “Bukankah orang orang tahu bahwa saya
memang mencintainya?”, pikirnya. Ia melihat teman-temannnya saling menatap,
menguatkan satu sama lain. Beberapa dari mereka berpelukan dan berpegangan
tangan. Betapa ia harap ia lah yang ada di posisi itu bersama Sarah.
“Saya tidak tahu
apakah saya akan bisa mencintai seseorang sebesar saya mencintainya. Kita telah
bersama, dari seorang teman, sampai seorang pacar. Dan saya baru berani
mengungkapkan perasaanku bulan kemarin.”, ia menghela nafas, seperti ada
ratusan batu di kerongkongannya, menolaknya untuk berbicara. “teman-temanku
sering memanggil kita seperti sepasang. Bagaimana kami melengkapi diri kami
dengan satu sama lain. Mereka bilang, kami tak akan pernah terpisah,”
“Namun, apakah ikatan
itu akan kuat, sekalipun ia harus menabrak tembok dan pembatas jalan?”
“Ikatan kami kuat, dan
selalu kuat. Namun tidak dengan sarah.”
Gilang menatap ke
atas, kemanapun. Memaksa air matanya untuk tidak keluar. Semua terlihat kabur,
dan pelupuk matanya mulai panas, seakan banyak air-air mata yang meminta tolong
untuk keluar.
“Jika saya bisa
mengembalikan waktu, saya akan menyelamatkannya. Jika saya tahu, dia yang akan
pergi, maka saya rela. Untuknya. Saya akan menyelamatkan kita berdua. Namun
jika itu memang keterlaluan untuk diminta, maka saya akan menyelamatkanmu, Sarah.”
“Saat itu kau
mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Harusnya dia
menyelamatkan dirinya sendiri saja dibanding saya.” Ia menepis air mata yang
jatuh di pipinya, berusaha tidak jatuh ke lantai yang sudah menganga, siap
menangkapnya jika sewaktu-waktu ia jatuh.
“Saya tidak pantas
untuk hidup. Malam itu, harusnya adalah malam terindah di hidup kami. Saya
sudah membelikan cincin untuknya. Untuk melamarnya. Menjadikan dia benar-benar
separuh diriku.” Teman-temannya melihat dari kejauhan. Tidak bisa melsayakan
apapun karena mereka juga terpukul dan hanya dapat mengungkapkan semua lewat
sorot mata mereka.
“Bersama sarah akan
mengajarkanmu tentang arti hidup ini. Ia dan senyumnya. Dengan rasa positifnya
terhadap dunia yang terlalu jahat dengannya. Dia seperti matahari yang
menerangi kita semua disini, dan saya yakin itu tidak akan berubah. Ia membuat
saya melupakan semuanya. Kepedihan, kemarahan, maupun kebencian saya.”
“Ia memberikan saya
banyak. Banyak sekali. Arti. Saya tidak tahu bagaimana menjalani hidup
tanpanya. Ia memberi saya arti dan mengambilnya kembali, menguburnya bersama
semua arti hidup saya.” Ia mengelap air matanya lagi, sambil melemaskan
pegangannya pada stand mikrofon itu, yang sedari tadi menahan badannya yang
terhuyung. Ia pun turun dari podium.
“Terimakasih, nak.
Untuk ada disini.”, ujar ibu Sarah yang sedari tadi berusaha tegar dengan semua
ini. Si ibu yang telah menganggap Gilang anaknya sendiri pun hanya bisa
melantunkan kalimat-kalimat penenang dan mengelus bahu anak itu. Gilang hanya
mengangguk, sambil melihat bunga-bunga pemberian tamu mulai diletakkan di
sekeliling petinya. Membayangkan betapa senangnya Sarah. Membayangkan betapa
ingin matinya ia.
Sarah pun akhirnya
dikuburkan.
Gilang meledak.
Ia mengambil nafas
dalam sambil terhuyung ke arah Dika, semua perasaan yang ia rasakan bercampur
padu, menjadi sebuah ledakan emosi, memukulnya dengan kencang. Tidak ada yang
dapat membayangkan dan merasakan rasa sakitnya. Ini terasa sama, seperti saat
ia ada di sebelah monitor Sarah. Memegang tangannya. Sampai suara itu
terdengar. Disitulah ia sadar, sarah hanya satu meter darinya, namun terasa
sangat jauh.
Ia terus memikirkan
semua kemungkinan, apakah hal ini benar-benar terjadi? Apakah jika ia menusuk
dirinya dengan cukup kuat, ia akan terbangun dari mimpi ini? Haruskah ia hidup
dalam mimpi buruknya setiap hari?
“Jika hal yang paling
gila yang aku lakukan adalah untuk bersamamu, maka aku akan menjadi gila.”
Aku memberinya bunga marigold, agar wanginya dapat
menuntunnya, ke altar kita di surga.

0 komentar:
Posting Komentar