Kamis, 04 Januari 2018


Altar
By : Dwi Krisna J

"Uhm.” Gilang bergumam, membetulkan posisi mikrofon yang ada di depannya. Ia sedikit batuk, berusaha membuat suaranya yang serak itu kembali jelas sebelum mendongak dari kertas berisi kata-kata perpisahan itu. Ia mendongak. Matanya seperti dapat melihat semua mata yang ada di sana namun juga terlihat kosong pada waktu yang sama. Ia menggenggam stand mikrofon itu dengan tangannya yang gemetar, mengarahkannya ke mulutnya dan berkata, “saya mencintai sarah,”

“Sangat.”

Para tamu pun terdiam mendengar ujarannya. Ia merasa aneh. “Bukankah orang orang tahu bahwa saya memang mencintainya?”, pikirnya. Ia melihat teman-temannnya saling menatap, menguatkan satu sama lain. Beberapa dari mereka berpelukan dan berpegangan tangan. Betapa ia harap ia lah yang ada di posisi itu bersama Sarah.

 “Saya tidak tahu apakah saya akan bisa mencintai seseorang sebesar saya mencintainya. Kita telah bersama, dari seorang teman, sampai seorang pacar. Dan saya baru berani mengungkapkan perasaanku bulan kemarin.”, ia menghela nafas, seperti ada ratusan batu di kerongkongannya, menolaknya untuk berbicara. “teman-temanku sering memanggil kita seperti sepasang. Bagaimana kami melengkapi diri kami dengan satu sama lain. Mereka bilang, kami tak akan pernah terpisah,”

“Namun, apakah ikatan itu akan kuat, sekalipun ia harus menabrak tembok dan pembatas jalan?”

“Ikatan kami kuat, dan selalu kuat. Namun tidak dengan sarah.”

Gilang menatap ke atas, kemanapun. Memaksa air matanya untuk tidak keluar. Semua terlihat kabur, dan pelupuk matanya mulai panas, seakan banyak air-air mata yang meminta tolong untuk keluar.  

“Jika saya bisa mengembalikan waktu, saya akan menyelamatkannya. Jika saya tahu, dia yang akan pergi, maka saya rela. Untuknya. Saya akan menyelamatkan kita berdua. Namun jika itu memang keterlaluan untuk diminta, maka saya akan menyelamatkanmu, Sarah.”

“Saat itu kau mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Harusnya dia menyelamatkan dirinya sendiri saja dibanding saya.” Ia menepis air mata yang jatuh di pipinya, berusaha tidak jatuh ke lantai yang sudah menganga, siap menangkapnya jika sewaktu-waktu ia jatuh.

“Saya tidak pantas untuk hidup. Malam itu, harusnya adalah malam terindah di hidup kami. Saya sudah membelikan cincin untuknya. Untuk melamarnya. Menjadikan dia benar-benar separuh diriku.” Teman-temannya melihat dari kejauhan. Tidak bisa melsayakan apapun karena mereka juga terpukul dan hanya dapat mengungkapkan semua lewat sorot mata mereka.

“Bersama sarah akan mengajarkanmu tentang arti hidup ini. Ia dan senyumnya. Dengan rasa positifnya terhadap dunia yang terlalu jahat dengannya. Dia seperti matahari yang menerangi kita semua disini, dan saya yakin itu tidak akan berubah. Ia membuat saya melupakan semuanya. Kepedihan, kemarahan, maupun kebencian saya.”

“Ia memberikan saya banyak. Banyak sekali. Arti. Saya tidak tahu bagaimana menjalani hidup tanpanya. Ia memberi saya arti dan mengambilnya kembali, menguburnya bersama semua arti hidup saya.” Ia mengelap air matanya lagi, sambil melemaskan pegangannya pada stand mikrofon itu, yang sedari tadi menahan badannya yang terhuyung. Ia pun turun dari podium.

“Terimakasih, nak. Untuk ada disini.”, ujar ibu Sarah yang sedari tadi berusaha tegar dengan semua ini. Si ibu yang telah menganggap Gilang anaknya sendiri pun hanya bisa melantunkan kalimat-kalimat penenang dan mengelus bahu anak itu. Gilang hanya mengangguk, sambil melihat bunga-bunga pemberian tamu mulai diletakkan di sekeliling petinya. Membayangkan betapa senangnya Sarah. Membayangkan betapa ingin matinya ia.

Sarah pun akhirnya dikuburkan.

Gilang meledak.

Ia mengambil nafas dalam sambil terhuyung ke arah Dika, semua perasaan yang ia rasakan bercampur padu, menjadi sebuah ledakan emosi, memukulnya dengan kencang. Tidak ada yang dapat membayangkan dan merasakan rasa sakitnya. Ini terasa sama, seperti saat ia ada di sebelah monitor Sarah. Memegang tangannya. Sampai suara itu terdengar. Disitulah ia sadar, sarah hanya satu meter darinya, namun terasa sangat jauh.

Ia terus memikirkan semua kemungkinan, apakah hal ini benar-benar terjadi? Apakah jika ia menusuk dirinya dengan cukup kuat, ia akan terbangun dari mimpi ini? Haruskah ia hidup dalam mimpi buruknya setiap hari?  

“Jika hal yang paling gila yang aku lakukan adalah untuk bersamamu, maka aku akan menjadi gila.”



Aku memberinya bunga marigold, agar wanginya dapat menuntunnya, ke altar kita di surga.


0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace