Kamis, 04 Januari 2018


Asmaraloka
By : Abigaelle Easter Alamanda

“Perempuan hina!” Pekikan itu nyaring terdengar menggema di seluruh sudut ruangan. Perempuan itu Asmaraloka namanya, hanya bisa memicingkan matanya dan sesekali melenguh. Matanya merah merekah, bibirnya pucat, rambutnya berantakan tak karuan, dan tubuhnya menggigil. Sesosok laki-laki yang berdiri gagah di hadapannya bersiap untuk melayangkan kepalan tangan beruratnya ke wajahnya. “Kau sakit jiwa.” Bisik Asmaraloka. Sebelum ia membuka mulutnya lagi, pandangan matanya menjadi samar-samar, lalu hanya ada kegelapan.

Asmaraloka bukanlah perempuan yang percaya cinta, meskipun namanya memiliki arti cinta. Baginya cinta adalah omong kosong. Omong kosong yang diumbar orang-orang munafik yang mengatasnamakan cinta sebagai dasar perbuatan biadab mereka. Asmaraloka bahkan membenci namanya sendiri. Namanya bagaikan sebuah kebohongan yang diberikan kedua orangtuanya yang mengaku bahwa kelahirannya adalah hasil buah cinta. “Cih. Cinta. Apanya cinta. Kalau cinta, tidak mungkin keparat yang kusebut Bapak itu meninggalkan Ibu demi seorang janda beranak lima.” Keluhnya kepada Titik, rekan kerjanya di pasar swalayan. “Mungkin yang janda lebih menggoda, Mar.” kata Titik. “Itu alasan bodoh. Kalau memang karena janda lebih menggoda, setelah Bapak meninggalkan Ibu, maka Ibu menjadi janda. Itu berarti Ibu juga menggoda.” Titik hanya melengos panjang menahan tawa. Asmaraloka selalu tidak mau kalah. “Aku akan mengganti namaku.” “Ganti nama jadi apa?” “Ya, jadi nama yang lebih realistis.” Titik menatap Asmaraloka dengan kebingungan. “Memangnya ada nama yang lebih realistis?” Asmaraloka hanya menganggukan kepalanya. “Contohnya namamu. Titik. Itu nama realistis. Asmaraloka, bukan nama realistis. Itu nama kutukan.” Titik menggelengkan kepalanya, “Kau itu aneh, Mar.”

Bukan hal baru bagi Asmaraloka ketika orang bertanya siapa namanya, ia akan mendapatkan pertanyaan, “Apa artinya?”, dan setiap pertanyaan itu ditujukan padanya, maka raut wajahnya akan berubah menjadi muram. Begitu bencinya ia pada nama itu, ia benar-benar ingin mengganti namanya. “Entah apa yang ada di dalam pikiran Bapak dan Ibu ketika memberikan nama sial ini padaku saat aku lahir. Mungkin saja saat itu mereka sedang mabuk Intisari. Bodohnya kenapa aku terima saja dinamai seperti itu. Ah, saat itu aku masih bayi, mana bisa protes.” Asmaraloka seringkali bergumam pada dirinya sendiri, menyalahkan keadaan, dan meratapi kenyataan. “Aku mau ganti nama, Tik. Ini serius.” Asmaraloka menatap Titik tajam. “Kamu sudah bilang begitu seribu kali.” Jawab Titik lesu. “Kali ini aku serius, Tik. Aku mau ganti nama jadi Susi.” Katanya serius. “Apa kau sedang bercanda? Setidaknya pilihlah nama realistis yang cocok dengan kepribadianmu.” Titik berkacak pinggang. “Kau lebih cocok jadi Hayati.” “Hayati sama buruknya dengan Asmaraloka.” tolak Asmaraloka keras. “Hei, aku kan hanya kasih saran. Kau bebas mengganti namamu jadi apa saja, asal jangan Susi.” katanya seraya berlalu.

Asmaraloka menghabiskan banyak waktu di waktu senggangnya untuk mencari nama baru. Seperti hari ini, Asmaraloka sudah berkutat dengan kertas dan pensil di sebuah warung kopi dengan segelas kopi susu menemaninya. “Ternyata mencari nama itu tidak mudah.” gumamnya. Susi dan Hayati sudah pasti dicoret dari daftar nama baru yang akan disandangnya, meskipun sebenarnya ia ingin sekali menggunakan nama Susi, tapi jika Titik berkata tidak, maka ia tidak akan nekat melakukannya. “Cari nama untuk anak?” tanya si pemilik warung. Asmaraloka menatapnya tajam, “Kau pikir wajahku terlihat seperti ibu-ibu yang sudah punya anak?” Si pemilik warung tergagap, “Bukan begitu. Tapi daritadi yang kau lakukan hanya menuliskan sepotong nama, lalu mencoretnya, lalu menulis nama lagi, mencoretnya lagi, dan begitu terus selama tiga puluh menit terakhir.” Asmaraloka kembali menatapnya tajam. “Aku ingin ganti nama. Kau punya saran?” “Kenapa ingin ganti nama?” “Namaku adalah sebuah kebohongan. Aku tidak menyukainya.” “Memangnya namamu siapa?” Asmaraloka terdiam. Ia menelan ludah dan dengan tatapan jijik ia mengatakan namanya, “Asmaraloka.” Pemilik warung itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Padahal namamu bagus.” “Jangan pernah sebut nama itu bagus. Aku benci sekali.” Katanya sambil melangkah pergi dari warung itu.

“Perempuan hina!” lagi-lagi teriakan itu menggema di sudut-sudut rumah kecil itu. Seorang perempuan dengan bibir pucat dan pecah-pecah, pakaian yang koyak, dan rambut yang berantakan menggigil di sudut ruangan. Ia terus memicingkan mata melihat seorang pria berdiri gagah di hadapannya membanting semua benda yang bisa dilihatnya. “Kau sakit jiwa.” gumam perempuan itu. Sebelum ia bisa berkata-kata lagi, pandangannya menjadi samar-samar, lalu gelap.

Asmaraloka datang ke pasar swalayan tempatnya bekerja dengan langkah yang sedikit pincang. “Kau kenapa, Mar?” tanya Titik yang sedang menaruhkan label harga pada rak etalase barang. “Tidak apa-apa. Kepeleset.” jawab Asmaraloka. “Jangan bohong.” Titik mencoba mengintrogasinya karena Titik merasa ia berbohong. “Aku tidak bohong.” “Bapakmu menyiksamu lagi?” Asmaraloka terdiam. “Aku tidak pernah punya Bapak.” katanya ketus. “Benar, kan? Bapakmu menyiksamu lagi.” Asmaraloka mengangguk pelan dengan kebencian terpancar penuh dari matanya.

Si pemilik nama cinta itu membuang ludahnya setiap kali orang bicara cinta padanya. Usianya sudah seperempat abad, dan ia belum pernah sekalipun berpacaran, atau minimal berkencan. Padahal wajahnya tidak jelek. Kulit kuning langsat dan rambut hitam sebahunya tentu dipandang cantik oleh sebagian orang. Sejumlah laki-laki bahkan pernah menyatakan cinta padanya, namun ia selalu menolaknya dengan keras. “Aku tidak percaya cinta. Aku tidak membutuhkan cinta.” begitu katanya.

Titik membantu mengoleskan minyak urut ke pergelangan kaki Asmaraloka yang menurutnya terasa nyeri. Dalam benaknya, Titik bertanya-tanya, apa yang telah dilakukan Bapaknya hingga ia terluka kakinya. Jika yang terluka tangan atau pipinya, mungkin tidak akan menimbulkan rasa penasaran sedalam ini. “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Titik. “Ceritanya panjang. Kamu tidak akan mengerti.” Asmaraloka hanya terfokus pada menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh pijitan Titik sementara Titik hanya bisa terus bertanya-tanya dalam hatinya.

“Aku tidak pernah mendapatkan cinta. Bukan, bukan dari laki-laki. Tapi dari sumber cinta paling inti itu sendiri.” bisiknya lirih. “Apa maksudmu?” tanya Titik. “Aku bahkan terlahir bukan karena cinta. Aku ini anak haram. Anak haram yang dijadikan tidak haram secara terpaksa.” Titik menatapnya sayu, menunggunya untuk berkata-kata lagi. “Aku tidak dibesarkan secara normal seperti anak-anak lain, Tik. Kau mungkin tumbuh dengan memakan es krim dan menghisap lollipop serta pergi ke arena bermain bersama orang tuamu. Tapi aku tidak demikian. Aku tumbuh dengan memakan kerak nasi dan menghisap puntung rokok terakhir yang serta pergi ke penjara untuk mengeluarkan Bapakku yang tolol itu dari sana. Aku tidak mendapatkan cinta sebagaimana mestinya. Karena itu lah, aku begitu membenci namaku dan begitu membenci cinta.” Titik tertegun. Ia selalu tahu bahwa Asmaraloka pasti memiliki pengalaman masa kecil yang kurang baik sehingga ia menjadi seperti ini, namun ia tidak menyangka akan menjadi semenyedihkan ini. “Kalau memang begitu, kenapa sampai sekarang kau terus tinggal dengan Bapakmu?” tanya Titik lagi. “Aku terpaksa. Bapak adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan mendiang Ibu untukku. Dan untuk itulah, aku juga membenci Ibuku.”

Asmaraloka dengan kehidupannya sebagai pegawai pasar swalayan tentu bisa dikatakan tidak terlalu mengenakan. Berapa gaji seorang pegawai swalayan? Tentu tidak sebesar mereka yang bekerja di perkantoran atau bahkan yang berwirausaha. Tapi itu tidak pernah menjadi beban baginya. Ia sudah bisa bekerja dan mengontrak sebuah rumah kecil di sebuah permukiman padat penduduk pun ia sudah bangga pada dirinya sendiri. Ditambah lagi ia masih bisa membiayai makan sehari-harinya dan juga Bapaknya yang kini sudah semakin tua namun tetap saja brengsek. Jika bukan karena wasiat Ibunya yang mengatakan untuk tetap merawat sang Bapak, mungkin saat ini Asmaraloka sudah pergi ke luar kota.

“Perempuan hina!” teriakan itu kembali menggema. Namun kali ini, perempuan itu tak lagi duduk menggigil di sudut ruangan. “Ya! Aku memang perempuan hina! Kelahiranku adalah hasil dari perbuatan hinamu dan Ibuku. Aku adalah anak yang tidak kalian harapkan.” seru perempuan itu. “Berani sekali kau!” Laki-laki itu melayangkan sebuah tamparan keras ke wajahnya. “Kau sakit jiwa!” seru perempuan itu lantang.

Belum sembuh benar nyeri kakinya, Asmaraloka datang ke pasar swalayan tempatnya bekerja dengan ujung bibir yang mengelupas dan menyisakan sedikit darah kering disana. “Kau harus lapor polisi.” kata Titik, khawatir. “Tidak. Jika aku lapor polisi, maka semua akan rumit.” kata Asmaraloka. “Tapi ini sudah keterlaluan.” “Ini tidak ada apa-apanya. Saat aku masih sekolah menengah, Bapakku yang tolol itu pernah hampir membunuhku dengan pisau dapur.” Titik memandang Asmaraloka dengan penuh rasa iba. “Jangan tatap aku begitu. Aku mungkin memprihatinkan tapi aku tidak mau dikasihani.” katanya. “Oh, satu lagi. Jangan lagi panggil aku dengan nama sialan itu. Mulai hari ini namaku Lilis.” “Dari sekian banyak nama, kenapa Lilis?” tanya Titik penasaran. “Itu nama ibuku.”

Dengan langkah gontai, Asmaraloka yang kini ingin dipanggil Lilis, membuka pintu rumahnya. Betapa terkejutnya ia melihat seisi rumah telah kacau dan barang pecah dimana-mana. “Keparat!” serunya. Ia menduga ini pasti perbuatan Bapaknya yang mungkin mencari uang untuk berjudi. Seisi rumahnya menjadi bau alkohol begitu sang Bapak masuk bersama tiga orang perempuan berpakaian minim dan berdandanan tebal. “Kau sakit jiwa!” seru Asmaraloka. “Perempuan hina. Enyah kau dari rumah ini!” seru sang Bapak. “Ini rumahku!” “Beraninya kau membentak Bapakmu!” “Aku tidak punya Bapak!” serunya. Tangan sang Bapak sudah terangkat dan siap dilayangkan padanya saat seorang laki-laki paruh baya namun masih terlihat sehat dan bugar mengetuk pintu dengan senyuman di wajahnya dan air mata menggenang di pelupuk matanya. “Asmaraloka?” gumamnya. Asmaraloka dan sang Bapak bertukar pandangan lalu menatap laki-laki paruh baya itu. “Ini Bapak, Nak. Bapak kandungmu.”

0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace