Asmaraloka
By : Abigaelle Easter Alamanda
By : Abigaelle Easter Alamanda
“Perempuan
hina!” Pekikan itu nyaring terdengar menggema di seluruh sudut ruangan.
Perempuan itu Asmaraloka namanya, hanya bisa memicingkan matanya dan sesekali
melenguh. Matanya merah merekah, bibirnya pucat, rambutnya berantakan tak
karuan, dan tubuhnya menggigil. Sesosok laki-laki yang berdiri gagah di
hadapannya bersiap untuk melayangkan kepalan tangan beruratnya ke wajahnya.
“Kau sakit jiwa.” Bisik Asmaraloka. Sebelum ia membuka mulutnya lagi, pandangan
matanya menjadi samar-samar, lalu hanya ada kegelapan.
Asmaraloka
bukanlah perempuan yang percaya cinta, meskipun namanya memiliki arti cinta.
Baginya cinta adalah omong kosong. Omong kosong yang diumbar orang-orang
munafik yang mengatasnamakan cinta sebagai dasar perbuatan biadab mereka.
Asmaraloka bahkan membenci namanya sendiri. Namanya bagaikan sebuah kebohongan
yang diberikan kedua orangtuanya yang mengaku bahwa kelahirannya adalah hasil
buah cinta. “Cih. Cinta. Apanya cinta. Kalau cinta, tidak mungkin keparat yang
kusebut Bapak itu meninggalkan Ibu demi seorang janda beranak lima.” Keluhnya
kepada Titik, rekan kerjanya di pasar swalayan. “Mungkin yang janda lebih
menggoda, Mar.” kata Titik. “Itu alasan bodoh. Kalau memang karena janda lebih
menggoda, setelah Bapak meninggalkan Ibu, maka Ibu menjadi janda. Itu berarti
Ibu juga menggoda.” Titik hanya melengos panjang menahan tawa. Asmaraloka
selalu tidak mau kalah. “Aku akan mengganti namaku.” “Ganti nama jadi apa?”
“Ya, jadi nama yang lebih realistis.” Titik menatap Asmaraloka dengan
kebingungan. “Memangnya ada nama yang lebih realistis?” Asmaraloka hanya
menganggukan kepalanya. “Contohnya namamu. Titik. Itu nama realistis.
Asmaraloka, bukan nama realistis. Itu nama kutukan.” Titik menggelengkan
kepalanya, “Kau itu aneh, Mar.”
Bukan
hal baru bagi Asmaraloka ketika orang bertanya siapa namanya, ia akan
mendapatkan pertanyaan, “Apa artinya?”, dan setiap pertanyaan itu ditujukan
padanya, maka raut wajahnya akan berubah menjadi muram. Begitu bencinya ia pada
nama itu, ia benar-benar ingin mengganti namanya. “Entah apa yang ada di dalam
pikiran Bapak dan Ibu ketika memberikan nama sial ini padaku saat aku lahir.
Mungkin saja saat itu mereka sedang mabuk Intisari. Bodohnya kenapa aku terima
saja dinamai seperti itu. Ah, saat itu aku masih bayi, mana bisa protes.”
Asmaraloka seringkali bergumam pada dirinya sendiri, menyalahkan keadaan, dan
meratapi kenyataan. “Aku mau ganti nama, Tik. Ini serius.” Asmaraloka menatap
Titik tajam. “Kamu sudah bilang begitu seribu kali.” Jawab Titik lesu. “Kali
ini aku serius, Tik. Aku mau ganti nama jadi Susi.” Katanya serius. “Apa kau
sedang bercanda? Setidaknya pilihlah nama realistis yang cocok dengan
kepribadianmu.” Titik berkacak pinggang. “Kau lebih cocok jadi Hayati.” “Hayati
sama buruknya dengan Asmaraloka.” tolak Asmaraloka keras. “Hei, aku kan hanya
kasih saran. Kau bebas mengganti namamu jadi apa saja, asal jangan Susi.”
katanya seraya berlalu.
Asmaraloka
menghabiskan banyak waktu di waktu senggangnya untuk mencari nama baru. Seperti
hari ini, Asmaraloka sudah berkutat dengan kertas dan pensil di sebuah warung
kopi dengan segelas kopi susu menemaninya. “Ternyata mencari nama itu tidak
mudah.” gumamnya. Susi dan Hayati sudah pasti dicoret dari daftar nama baru
yang akan disandangnya, meskipun sebenarnya ia ingin sekali menggunakan nama
Susi, tapi jika Titik berkata tidak, maka ia tidak akan nekat melakukannya.
“Cari nama untuk anak?” tanya si pemilik warung. Asmaraloka menatapnya tajam,
“Kau pikir wajahku terlihat seperti ibu-ibu yang sudah punya anak?” Si pemilik
warung tergagap, “Bukan begitu. Tapi daritadi yang kau lakukan hanya menuliskan
sepotong nama, lalu mencoretnya, lalu menulis nama lagi, mencoretnya lagi, dan
begitu terus selama tiga puluh menit terakhir.” Asmaraloka kembali menatapnya
tajam. “Aku ingin ganti nama. Kau punya saran?” “Kenapa ingin ganti nama?”
“Namaku adalah sebuah kebohongan. Aku tidak menyukainya.” “Memangnya namamu
siapa?” Asmaraloka terdiam. Ia menelan ludah dan dengan tatapan jijik ia
mengatakan namanya, “Asmaraloka.” Pemilik warung itu mengangguk-anggukan
kepalanya. “Padahal namamu bagus.” “Jangan pernah sebut nama itu bagus. Aku
benci sekali.” Katanya sambil melangkah pergi dari warung itu.
“Perempuan
hina!” lagi-lagi teriakan itu menggema di sudut-sudut rumah kecil itu. Seorang
perempuan dengan bibir pucat dan pecah-pecah, pakaian yang koyak, dan rambut
yang berantakan menggigil di sudut ruangan. Ia terus memicingkan mata melihat
seorang pria berdiri gagah di hadapannya membanting semua benda yang bisa
dilihatnya. “Kau sakit jiwa.” gumam perempuan itu. Sebelum ia bisa berkata-kata
lagi, pandangannya menjadi samar-samar, lalu gelap.
Asmaraloka
datang ke pasar swalayan tempatnya bekerja dengan langkah yang sedikit pincang.
“Kau kenapa, Mar?” tanya Titik yang sedang menaruhkan label harga pada rak
etalase barang. “Tidak apa-apa. Kepeleset.” jawab Asmaraloka. “Jangan bohong.”
Titik mencoba mengintrogasinya karena Titik merasa ia berbohong. “Aku tidak
bohong.” “Bapakmu menyiksamu lagi?” Asmaraloka terdiam. “Aku tidak pernah punya
Bapak.” katanya ketus. “Benar, kan? Bapakmu menyiksamu lagi.” Asmaraloka
mengangguk pelan dengan kebencian terpancar penuh dari matanya.
Si
pemilik nama cinta itu membuang ludahnya setiap kali orang bicara cinta
padanya. Usianya sudah seperempat abad, dan ia belum pernah sekalipun
berpacaran, atau minimal berkencan. Padahal wajahnya tidak jelek. Kulit kuning
langsat dan rambut hitam sebahunya tentu dipandang cantik oleh sebagian orang.
Sejumlah laki-laki bahkan pernah menyatakan cinta padanya, namun ia selalu
menolaknya dengan keras. “Aku tidak percaya cinta. Aku tidak membutuhkan
cinta.” begitu katanya.
Titik
membantu mengoleskan minyak urut ke pergelangan kaki Asmaraloka yang menurutnya
terasa nyeri. Dalam benaknya, Titik bertanya-tanya, apa yang telah dilakukan
Bapaknya hingga ia terluka kakinya. Jika yang terluka tangan atau pipinya,
mungkin tidak akan menimbulkan rasa penasaran sedalam ini. “Sebenarnya apa yang
terjadi?” tanya Titik. “Ceritanya panjang. Kamu tidak akan mengerti.”
Asmaraloka hanya terfokus pada menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh pijitan
Titik sementara Titik hanya bisa terus bertanya-tanya dalam hatinya.
“Aku
tidak pernah mendapatkan cinta. Bukan, bukan dari laki-laki. Tapi dari sumber
cinta paling inti itu sendiri.” bisiknya lirih. “Apa maksudmu?” tanya Titik.
“Aku bahkan terlahir bukan karena cinta. Aku ini anak haram. Anak haram yang
dijadikan tidak haram secara terpaksa.” Titik menatapnya sayu, menunggunya
untuk berkata-kata lagi. “Aku tidak dibesarkan secara normal seperti anak-anak
lain, Tik. Kau mungkin tumbuh dengan memakan es krim dan menghisap lollipop
serta pergi ke arena bermain bersama orang tuamu. Tapi aku tidak demikian. Aku
tumbuh dengan memakan kerak nasi dan menghisap puntung rokok terakhir yang
serta pergi ke penjara untuk mengeluarkan Bapakku yang tolol itu dari sana. Aku
tidak mendapatkan cinta sebagaimana mestinya. Karena itu lah, aku begitu
membenci namaku dan begitu membenci cinta.” Titik tertegun. Ia selalu tahu
bahwa Asmaraloka pasti memiliki pengalaman masa kecil yang kurang baik sehingga
ia menjadi seperti ini, namun ia tidak menyangka akan menjadi semenyedihkan
ini. “Kalau memang begitu, kenapa sampai sekarang kau terus tinggal dengan
Bapakmu?” tanya Titik lagi. “Aku terpaksa. Bapak adalah satu-satunya warisan
yang ditinggalkan mendiang Ibu untukku. Dan untuk itulah, aku juga membenci
Ibuku.”
Asmaraloka
dengan kehidupannya sebagai pegawai pasar swalayan tentu bisa dikatakan tidak
terlalu mengenakan. Berapa gaji seorang pegawai swalayan? Tentu tidak sebesar
mereka yang bekerja di perkantoran atau bahkan yang berwirausaha. Tapi itu
tidak pernah menjadi beban baginya. Ia sudah bisa bekerja dan mengontrak sebuah
rumah kecil di sebuah permukiman padat penduduk pun ia sudah bangga pada
dirinya sendiri. Ditambah lagi ia masih bisa membiayai makan sehari-harinya dan
juga Bapaknya yang kini sudah semakin tua namun tetap saja brengsek. Jika bukan
karena wasiat Ibunya yang mengatakan untuk tetap merawat sang Bapak, mungkin
saat ini Asmaraloka sudah pergi ke luar kota.
“Perempuan
hina!” teriakan itu kembali menggema. Namun kali ini, perempuan itu tak lagi
duduk menggigil di sudut ruangan. “Ya! Aku memang perempuan hina! Kelahiranku
adalah hasil dari perbuatan hinamu dan Ibuku. Aku adalah anak yang tidak kalian
harapkan.” seru perempuan itu. “Berani sekali kau!” Laki-laki itu melayangkan
sebuah tamparan keras ke wajahnya. “Kau sakit jiwa!” seru perempuan itu
lantang.
Belum
sembuh benar nyeri kakinya, Asmaraloka datang ke pasar swalayan tempatnya
bekerja dengan ujung bibir yang mengelupas dan menyisakan sedikit darah kering
disana. “Kau harus lapor polisi.” kata Titik, khawatir. “Tidak. Jika aku lapor
polisi, maka semua akan rumit.” kata Asmaraloka. “Tapi ini sudah keterlaluan.”
“Ini tidak ada apa-apanya. Saat aku masih sekolah menengah, Bapakku yang tolol
itu pernah hampir membunuhku dengan pisau dapur.” Titik memandang Asmaraloka
dengan penuh rasa iba. “Jangan tatap aku begitu. Aku mungkin memprihatinkan
tapi aku tidak mau dikasihani.” katanya. “Oh, satu lagi. Jangan lagi panggil
aku dengan nama sialan itu. Mulai hari ini namaku Lilis.” “Dari sekian banyak
nama, kenapa Lilis?” tanya Titik penasaran. “Itu nama ibuku.”
Dengan
langkah gontai, Asmaraloka yang kini ingin dipanggil Lilis, membuka pintu
rumahnya. Betapa terkejutnya ia melihat seisi rumah telah kacau dan barang
pecah dimana-mana. “Keparat!” serunya. Ia menduga ini pasti perbuatan Bapaknya
yang mungkin mencari uang untuk berjudi. Seisi rumahnya menjadi bau alkohol
begitu sang Bapak masuk bersama tiga orang perempuan berpakaian minim dan
berdandanan tebal. “Kau sakit jiwa!” seru Asmaraloka. “Perempuan hina. Enyah
kau dari rumah ini!” seru sang Bapak. “Ini rumahku!” “Beraninya kau membentak
Bapakmu!” “Aku tidak punya Bapak!” serunya. Tangan sang Bapak sudah terangkat
dan siap dilayangkan padanya saat seorang laki-laki paruh baya namun masih
terlihat sehat dan bugar mengetuk pintu dengan senyuman di wajahnya dan air
mata menggenang di pelupuk matanya. “Asmaraloka?” gumamnya. Asmaraloka dan sang
Bapak bertukar pandangan lalu menatap laki-laki paruh baya itu. “Ini Bapak,
Nak. Bapak kandungmu.”

0 komentar:
Posting Komentar