Kamis, 04 Januari 2018


Kita, Suatu Saat Nanti
By : Dwi Krisna J




hanahaki disease

(n.) a disease where the victim coughs up flower petals when they suffer from one-sided love. It can be cured through surgical removal, but when the infection is removed, the victim's romantic feelings for their love also disappear.

-



tut. tut. tut. tut.

“your call has been forwarded to an automatic voice messaging system.  one eight nine five zero zero eight nine two nine zero zero is not available. at the tone, please record your message. when you finished recording you may hang up, or press one for more options.“

beep.

U-um. Halo, dik? ini aku Lisa. Kamu jadi kan dateng ke pertunjukkan tariku besok? aku tunggu ya. Jam sembilan di gedung Kesenian.



-

Aku hanya memandang telepon genggamku, mendengar voicemail dari Lisa berkali-kali. Aku tidak menyangka ia akan meninggalkan pesan. sekarang dua ribu tujuh belas, siapa orang yang masih sudi untuk mengeluarkan pulsa hanya untuk meninggalkan pesan di kotak suara? aku sih tidak. Hanya ada dua kemungkinan, Lisa yang terlalu mempedulikan keputusanku, atau Lisa yang terlalu baik untuk memikirkan hal kecil seperti pulsa.



Aku memang sengaja mengabaikan teleponnya. Aku harap ia melupakan apa yang aku katakan kemarin. Sebenarnya apa yang dia fikir? aku? datang ke acara seperti itu? tidak mungkin. Tapi lebih tidak mungkin lagi jika aku menolak permintaannya ketika ia memandangku dengan mata itu. Ia dengan malunya menemuiku ketika aku keluar kelas, dengan senyumnya dan dasinya yang kurang rapih. Tapi itu tidak membuatnya kurang cantik dari dia yang biasanya. Kupikir tidak ada nada yang mengurangi kecantikannya.



Atau mungkin ada. Atau mungkin itu adalah diriku sendiri.



-

08.30

“Mana temanmu, lis? katanya ia akan datang?”

“Iya, bu. Gapapa, ini kan belum mulai. Mungkin nanti dia dateng, bu. Aku udah kasih tahu kok jamnya.”

08.45

“De, temen kamu dapet duduk ga? apa kita sisain aja ya, pah?

“Belum dateng, mah. Bentar lagi mungkin.”



09.00

“Udahlah, temen kamu gausah ditungguin. Kamu siap-siap aja sana, Sa.”

“Bentar, pah.”

“Dia dateng kok…”

“Mungkin macet,”

“Mungkin masih nyari tempat parkir,”

“Pasti dateng kok, pah.”



-

Aku menaruh undangan pertunjukkan itu diam-diam, bersama dengan bekal yang kubawa untuknya. Dika sembrono, ia tidak ingat apa-apa kecuali main dan belajar. Ia belajar segiat ia bermain. Ia bekerja sekeras ia berteriak malam itu.



Hari itu, aku mendengarnya. Aku baru saja pulang dari latihan tariku dan berjalan menyusuri jalan setapak kampusku. Bunyi tabrakan rintik-rintik hujan ke tanah bahkan tidak sanggup untuk menelan teriakan dari tenggorokannya. Aku menghampirinya, dengan payung di tangan kanan dan tas di tangan kiriku.



“Kamu gapapa? ngapain hujan-hujanan gini sih?”

“Gapapa.”

“Mau minjem payung aku?”

“Engga, makasih.”
“Aku tinggal disini deh, terserah mau dibawa apa engga.”



-

Dika tidak datang. tidak menampakkan apapun.

Lisa menunggu, dan terus menunggu. Sampai ia harus bersiap-siap, sampai giliran solo tarinya selesai, sampai semua penonton pulang. Ia menunggu sampai jam dua belas. Sampai kakinya tak sanggup lagi dan akhirnya ia terduduk di depan gedung kesenian itu. Sambil berkali-kali mengingatkan dirinya untuk menunggu. Mungkin ia akan datang. Suatu saat.



-

Aku tidak tahu mengapa. Mengapa aku masih saja mengejar Dika. Mungkin karena penyakit bodoh itu. Aku bahkan tidak tahu apakah itu benar atau tidak? penyakit itu hanya muncul di televisi dengan penjelasan dan kalimat bodoh dibawahnya. Tapi mungkin itu juga yang membuatku bisa mengejarnya sejauh ini.



Tentu saja, jika aku tidak batuk kelopak-kelopak bunga yang Dika benci, berarti cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, kan?



Aku tidak tahu apapun tentang hanahaki. Tapi satu hal. Muntahan itu tidak terjadi begitu saja. Ia tumbuh. Bunga-bunga itu tumbuh dari bunga yang Dika benci, mawar.  Sedikit demi sedikit. Kau takkan menyadarinya. Sampai sebulan, dua bulan, setahun, atau mungkin dua tahun. Kau akan menahannya. Berusaha berbohong pada kenyataan.



Aku sering batuk, akhir-akhir ini. Tidak berdarah, namun menyakitkan. Awalnya hanya gumpalan darah dan hal-hal menjijikan yang keluar dari tenggorokan ku. Aku berusaha mengabaikannya. Kelopak itu bahkan tidak terlihat seperti kelopak bunga. Kelopaknya terlihat seperti gumpalan darah yang lebih merah dari yang lain. Seperti serpihan kertas di atas air. Ya betul, seperti itu. Bukan kelopak, aku yakin ini bukan kelopak bunga yang mereka bicarakan di televisi. Bukan.



Aku melihat Dika hari ini. Dengan rambutnya yang diacak, dan kemejanya yang rapih. Aku melihatnya merangkul Anna di depan taman. Tidak mengejutkan memang. Mereka memang dekat dari dulu. Selain aku, dialah wanita yang ada di kehidupan Dika. Temanku, Hana, hanya bisa berkomentar,

“cocok juga ya mereka, Sa!”

dan aku hanya bisa tersenyum palsu menjawabnya.

Dan ia pun menyadari. Bagaimana beda perlakuan Dika terhadapnya dan Anna. Dia memang memperlakukan Anna lebih. Lebih lembut sekaligus lebih intim daripada dengannya. Mungkin, selama ini, ia hanya belum yakin dengan perasaannya. Mungkin Dika tidak tahu bahwa ia menyukai Anna dari dulu. Mungkin itulah sebabnya ia memuntahi kelopak-kelopak itu ke dalam toiletnya. Mungkin, andai, hampir.



-

 Lisa berdiri di depan kaca kamar mandinya, tersenyum pada dirinya sendiri. dia memegang sisi-sisi wastafel sekuat mungkin. Ia memperhatikan bagaimana senyumnya yang indah, rambutnya yang terurai, bulu matanya yang lentik, tidak dapat mengubah segalanya.

“well, yeah. gapapa.”



Ia menampung darahnya di telapak tangannya, menyaksikan bertambah banyaknya kelopak yang muncul. Namun kali ini berbeda. Kelopaknya berkurang. Ia tidak tahu.

Apakah ini berarti bahwa cintanya terbalas, atau karena ia sudah tidak mencintai Dika?

atau mungkin,

mungkin,

mungkin semua ini akan berakhir.

suatu saat.

walaupun ia tak tahu apa yang diakhiri.

cintanya pada Dika,

atau dirinya sendiri.

mereka bilang, ada dua cara menangani ini.

cintamu harus dibalas, atau kau harus operasi.

mungkin ada tiga, seharusnya.

mungkin,

dengan mencintai diriku sendiri,

kelopak itu akan hilang.

dan mungkin,

cintamu takkan pernah tak terbalas jika kau mencintai dirimu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace