Kita,
Suatu Saat Nanti
By : Dwi Krisna J
hanahaki disease
(n.) a disease where the victim coughs up
flower petals when they suffer from one-sided love. It can be cured through
surgical removal, but when the infection is removed, the victim's romantic
feelings for their love also disappear.
-
tut.
tut. tut. tut.
“your call has been forwarded to an
automatic voice messaging system. one
eight nine five zero zero eight nine two nine zero zero is not available. at
the tone, please record your message. when you finished recording you may hang
up, or press one for more options.“
beep.
U-um. Halo, dik? ini
aku Lisa. Kamu jadi kan dateng ke pertunjukkan tariku besok? aku tunggu ya. Jam
sembilan di gedung Kesenian.
-
Aku
hanya memandang telepon genggamku, mendengar voicemail dari Lisa berkali-kali.
Aku tidak menyangka ia akan meninggalkan pesan. sekarang dua ribu tujuh belas,
siapa orang yang masih sudi untuk mengeluarkan pulsa hanya untuk meninggalkan
pesan di kotak suara? aku sih tidak. Hanya ada dua kemungkinan, Lisa yang
terlalu mempedulikan keputusanku, atau Lisa yang terlalu baik untuk memikirkan
hal kecil seperti pulsa.
Aku
memang sengaja mengabaikan teleponnya. Aku harap ia melupakan apa yang aku
katakan kemarin. Sebenarnya apa yang dia fikir? aku? datang ke acara seperti
itu? tidak mungkin. Tapi lebih tidak mungkin lagi jika aku menolak
permintaannya ketika ia memandangku dengan mata itu. Ia dengan malunya
menemuiku ketika aku keluar kelas, dengan senyumnya dan dasinya yang kurang
rapih. Tapi itu tidak membuatnya kurang cantik dari dia yang biasanya. Kupikir
tidak ada nada yang mengurangi kecantikannya.
Atau
mungkin ada. Atau mungkin itu adalah diriku sendiri.
-
08.30
“Mana
temanmu, lis? katanya ia akan datang?”
“Iya,
bu. Gapapa, ini kan belum mulai. Mungkin nanti dia dateng, bu. Aku udah kasih
tahu kok jamnya.”
08.45
“De,
temen kamu dapet duduk ga? apa kita sisain aja ya, pah?
“Belum
dateng, mah. Bentar lagi mungkin.”
09.00
“Udahlah,
temen kamu gausah ditungguin. Kamu siap-siap aja sana, Sa.”
“Bentar,
pah.”
“Dia
dateng kok…”
“Mungkin
macet,”
“Mungkin
masih nyari tempat parkir,”
“Pasti
dateng kok, pah.”
-
Aku
menaruh undangan pertunjukkan itu diam-diam, bersama dengan bekal yang kubawa
untuknya. Dika sembrono, ia tidak ingat apa-apa kecuali main dan belajar. Ia
belajar segiat ia bermain. Ia bekerja sekeras ia berteriak malam itu.
Hari
itu, aku mendengarnya. Aku baru saja pulang dari latihan tariku dan berjalan
menyusuri jalan setapak kampusku. Bunyi tabrakan rintik-rintik hujan ke tanah
bahkan tidak sanggup untuk menelan teriakan dari tenggorokannya. Aku menghampirinya,
dengan payung di tangan kanan dan tas di tangan kiriku.
“Kamu
gapapa? ngapain hujan-hujanan gini sih?”
“Gapapa.”
“Mau
minjem payung aku?”
“Engga,
makasih.”
“Aku tinggal disini deh, terserah mau dibawa apa engga.”
“Aku tinggal disini deh, terserah mau dibawa apa engga.”
-
Dika
tidak datang. tidak menampakkan apapun.
Lisa
menunggu, dan terus menunggu. Sampai ia harus bersiap-siap, sampai giliran solo
tarinya selesai, sampai semua penonton pulang. Ia menunggu sampai jam dua
belas. Sampai kakinya tak sanggup lagi dan akhirnya ia terduduk di depan gedung
kesenian itu. Sambil berkali-kali mengingatkan dirinya untuk menunggu. Mungkin
ia akan datang. Suatu saat.
-
Aku
tidak tahu mengapa. Mengapa aku masih saja mengejar Dika. Mungkin karena
penyakit bodoh itu. Aku bahkan tidak tahu apakah itu benar atau tidak? penyakit
itu hanya muncul di televisi dengan penjelasan dan kalimat bodoh dibawahnya. Tapi
mungkin itu juga yang membuatku bisa mengejarnya sejauh ini.
Tentu
saja, jika aku tidak batuk kelopak-kelopak bunga yang Dika benci, berarti
cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, kan?
Aku
tidak tahu apapun tentang hanahaki. Tapi satu hal. Muntahan itu tidak terjadi
begitu saja. Ia tumbuh. Bunga-bunga itu tumbuh dari bunga yang Dika benci,
mawar. Sedikit demi sedikit. Kau takkan
menyadarinya. Sampai sebulan, dua bulan, setahun, atau mungkin dua tahun. Kau
akan menahannya. Berusaha berbohong pada kenyataan.
Aku
sering batuk, akhir-akhir ini. Tidak berdarah, namun menyakitkan. Awalnya hanya
gumpalan darah dan hal-hal menjijikan yang keluar dari tenggorokan ku. Aku
berusaha mengabaikannya. Kelopak itu bahkan tidak terlihat seperti kelopak
bunga. Kelopaknya terlihat seperti gumpalan darah yang lebih merah dari yang
lain. Seperti serpihan kertas di atas air. Ya betul, seperti itu. Bukan
kelopak, aku yakin ini bukan kelopak bunga yang mereka bicarakan di televisi. Bukan.
Aku
melihat Dika hari ini. Dengan rambutnya yang diacak, dan kemejanya yang rapih.
Aku melihatnya merangkul Anna di depan taman. Tidak mengejutkan memang. Mereka
memang dekat dari dulu. Selain aku, dialah wanita yang ada di kehidupan Dika.
Temanku, Hana, hanya bisa berkomentar,
“cocok
juga ya mereka, Sa!”
dan
aku hanya bisa tersenyum palsu menjawabnya.
Dan
ia pun menyadari. Bagaimana beda perlakuan Dika terhadapnya dan Anna. Dia
memang memperlakukan Anna lebih. Lebih lembut sekaligus lebih intim daripada
dengannya. Mungkin, selama ini, ia hanya belum yakin dengan perasaannya.
Mungkin Dika tidak tahu bahwa ia menyukai Anna dari dulu. Mungkin itulah
sebabnya ia memuntahi kelopak-kelopak itu ke dalam toiletnya. Mungkin, andai,
hampir.
-
Lisa
berdiri di depan kaca kamar mandinya, tersenyum pada dirinya sendiri. dia
memegang sisi-sisi wastafel sekuat mungkin. Ia memperhatikan bagaimana
senyumnya yang indah, rambutnya yang terurai, bulu matanya yang lentik, tidak
dapat mengubah segalanya.
“well,
yeah. gapapa.”
Ia
menampung darahnya di telapak tangannya, menyaksikan bertambah banyaknya
kelopak yang muncul. Namun kali ini berbeda. Kelopaknya berkurang. Ia tidak
tahu.
Apakah
ini berarti bahwa cintanya terbalas, atau karena ia sudah tidak mencintai Dika?
atau
mungkin,
mungkin,
mungkin
semua ini akan berakhir.
suatu
saat.
walaupun
ia tak tahu apa yang diakhiri.
cintanya
pada Dika,
atau
dirinya sendiri.
mereka
bilang, ada dua cara menangani ini.
cintamu
harus dibalas, atau kau harus operasi.
mungkin
ada tiga, seharusnya.
mungkin,
dengan
mencintai diriku sendiri,
kelopak
itu akan hilang.
dan
mungkin,
cintamu
takkan pernah tak terbalas jika kau mencintai dirimu sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar