Cinta
Gila
By : Abigaelle Easter Alamanda
Entah
bagaimana aku bisa berpikir tentang cinta, ia gila dan bisa membuatku gila.
Awalnya cinta membawaku pada kewarasan, lama kelamaan aku hanyut pada
alirannya, aku menjadi gila dan melakukan hal-hal gila. Seperti aku melihat
perempuan itu, yang setelah ku ketahui, Valerie namanya. Rambutnya tidak
terlalu jauh dari bahu, kulitnya putih, ia tidak terlalu tinggi, memiliki
hidung yang mancung dan mata bulat yang indah. Lama kelamaan setelah diam-diam
kuperhatikan, cinta ini tumbuh, namun ia masih tak bertuan. Hampir lupa,
perkenalkan nama ku Dylan, ya, seperti nama orang luar negeri. Ibuku pintar,
beliau dapat menikahi laki-laki yang berasal dari Inggris, laki-laki yang
sekarang menjadi ayahku sudah lama tinggal di Indonesia, bertemu ibuku lewat perusahaan
yang memang bekerja sama dengan luar negeri.
Kisahku
dengan Valerie kuawali diawal masa putih abu-abu, dimana manusia menyebutnya
sebagai masa-masa yang menyenangkan dan gila. Aku mengenal Valerie lewat
kawanku namanya Ronald, ia kawan dekatku sejak aku SMP, sebenarnya aku sudah
mengenal dia sejak SD. Masuk masa SMA, ia satu sekolah denganku, hubungan kami
semakin dekat. Hingga akhirnya masih diwaktu masa pengenalan lingkungan sekolah
atau dulu disebut MOS (Masa Orientasi Siswa), aku melirik seorang perempuan
yang awalnya aku tak tahu namanya. Aku malu sebenarnya untuk sekedar berkenalan
ataupun meminta nomor. Ternyata, Ronald sudah lebih dulu mengenal Valerie, aku
kaget sekaligus senang. Tidak akan kusia-siakan kesempatan itu.
“Ron, bantulah aku kenalan dengan perempuan
itu. Aku malu jika harus berkenalan langsung. Atau, aku minta nomor telfonnya.”
Pintaku sembari memelas agar dikasihani. “Nanti aku tanya dulu ke orangnya.” Jawabnya. “Ah, sial. Lama sekali.” Kataku kesal, tapi
hanya kuungkapkan dalam hati.
Jadi,
aku harus menunggu hingga keesokan harinya. Aku berharap Valerie lekas
mengizinkan Ronald untuk memberikan nomornya padaku. Aku sangat semangat waktu
itu. Keesokannya segera kutemui Ronald.
“Gimana?
Boleh aku memintanya?” Tanyaku semangat campur penasaran. “Tidak, kamu harus
memintanya sendiri.” Jawabnya. “Ah, lagi-lagi sial.” Jawabku ketus dalam hati.
Aku
bingung, sangat bingung. Bagaimana aku bisa meminta nomor telfonnya sedang aku
sendiri tidak berani kenalan dengannya? Akhirnya, kuurungkan niatku untuk
berkenalan dengan Valerie. Betapa pecundangnya aku. Namun, setelah beberapa
hari, tiba-tiba Ronald memberikan nomor telfon Valerie padaku tanpa kuminta,
katanya aku boleh menghubunginya. Perasaan girangku tak tertahankan, aku rasa
Tuhan sangat baik padaku. Tentunya Ronald juga, aku harus berterimakasih
padanya. Terimakasih, Ronald!
Namun,
setelah itu apa yang harus kulakukan? Aku malu! Aku tak berani bahkan untuk
menghubunginya lewat pesan singkat. Bagaimana aku harus memulainya?
Aku
mencobanya, “halo, kenalkan aku Dylan. Ini Valerie kan?” Sial aku merasakan
cemas sekarang, takut jika ia tak membalas pesan ku ini. Ternyata, tak lama
kemudian, telfonku berbunyi, tanda pesan masuk. Kubaca “halo juga, iya aku
Valerie. Ini kawannya Ronald kan?” Ia membalas, aku sangat senang. Haha.. “Oh,
bukan. Aku bukan temannya Ronald.” Kubalas. Setelah kupikir-pikir, ah
candaan macam apa itu, bahkan tidak lucu
sama sekali. Dia menjawab jadi seperti orang kebingungan, kemudian kujawab yang
sebenarnya, bahwa memang benar aku kawannya Ronald. Aku merasa bodoh, untung
Valerie orangnya menyenangkan. Sangat menyenangkan!
Aku
merasa, semua yang kulakukan lancar-lancar saja. Perasaanku padanya mulai
tumbuh. Ah, aku suka padanya. Namun, aku tidak terburu-buru. Aku merasa ada
kecocokan dengan Valerie. Masih pada masa pengenalan, kakak kelas menyuruh
semua siswa baru untuk membawa satu buah cokelat. Tentu aku tidak punya uang
untuk itu. Kemudian aku meminta pada Papaku, ya, beliaulah sumber keuanganku.
“Pa, Dylan disuruh bawa cokelat dua buah untuk besok. Boleh aku minta uangnya?”
Tanyaku. Padahal aku hanya disuruh membawa satu, namun aku bilang jika disuruh
dua. Maka papaku memberikan uang untuk kubelikan dua buah cokelat. Satu karena
disuruh kakak kelas, satu karena akan kuberikan pada Valerie. Haha! Aku merasa
sudah curang karena tidak jujur pada papaku. Aku tidak peduli, ini semua untuk
mendapatkan hati Valerie.
Keesokan
harinya aku berangkat ke sekolah, mengikuti MOS dengan baik lalu pulang. Hari
itu aku pulang dengan Valerie, aku akan mengantarkannya pulang ke rumahnya. Aku
senang!
“Cepatlah, aku lapar.” Katanya padaku. Huh.. padahal baru saja ia naik, sudah langsung minta cepat-cepat. Cokelat itu ku taruh di kantong celanaku, atau kantung jaketku. Entahlah aku lupa. Setelah motor yang kugunakan berjalan, segera kuberikan cokelat itu, “ini untukmu, katanya lapar kan?” Kukatakan itu sambil menyodorkan cokelatnya, sembari aku tetap menyetir. Aku tak berani menatapnya saat memberi cokelat itu. Entah apa respon yang ia berikan, aku tak tahu. Yang pasti, aku senang sudah bisa memberikannya cokelat.
“Cepatlah, aku lapar.” Katanya padaku. Huh.. padahal baru saja ia naik, sudah langsung minta cepat-cepat. Cokelat itu ku taruh di kantong celanaku, atau kantung jaketku. Entahlah aku lupa. Setelah motor yang kugunakan berjalan, segera kuberikan cokelat itu, “ini untukmu, katanya lapar kan?” Kukatakan itu sambil menyodorkan cokelatnya, sembari aku tetap menyetir. Aku tak berani menatapnya saat memberi cokelat itu. Entah apa respon yang ia berikan, aku tak tahu. Yang pasti, aku senang sudah bisa memberikannya cokelat.
Hari-hari
kami berjalan menyenangkan. Aku merasa semua lancar. Perasaan rindu
perlahan-lahan mulai melanda, membuat pikiranku menjadi gila.
Aku
mulai rutin berangkat dan pulang bersamanya, menjemput dan mengantarnya pulang
ke rumahnya. Aku senang! Hubungan kami makin hari makin dekat. Hingga kira-kira
satu bulan, kuputuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Ya, dengan status.
Tanggal dua puluh dua Agustus dua ribu empat belas, siang hari sepulang
sekolah. Di depan gerbang sekolah, mungkin tanpa waktu yang ia duga. Aku
berhenti, kuhadapkan pandanganku padanya. Kuberanikan diriku yang pecundang
ini. “Val, apa kamu mau jadi pacarku?” Aku rasa pertanyaan itu mengagetkan
dirinya. Ia diam. “Nanti saja dijawabnya kalau sudah di depan rumahmu.”
Tambahku. Lalu aku mengambil motorku dari parkiran motor sekolah.
Kami
diam, sepanjang perjalanan mengantar dirinya. Sesampainya di depan rumahnya,
“silahkan dijawab.” Kataku. “Jika jawabannya iya, bagaimana?” Ia bertanya. Aku
kaget dan bingung. Apa sebenarnya jawabannya. “Jadi, jawabannya iya?” Kutanya.
Ia hanya mengangguk senyum. Ah! Hari terbaik dalam hidupku! Kemudian aku
pulang, dijalan, aku senyum-senyum kegirangan. Mungkin ada orang yang melihat.
Entahlah. Aku tak peduli. Yang penting, aku senang!
Hari-hariku
berbeda, ia, Valerie, mewarnai sebagian besar hari-hariku. Kami sama-sama
menikmati hari-hari yang kami lewati. Kami membuat bahagia kami sendiri.
Suatu
saat, aku berkesempatan memeluknya. “Boleh aku memelukmu?” Kutanya masih dengan
sedikit rasa malu-malu. Ia mengangguk. Aku memeluknya, indah rasanya.
Perasaanku sangat nyaman, kubuat ia sebagai rumahku dari segala perjalanan
panjangku. Kurasa ia diciptakan untuk membuatku senang, dan kami disatukan
untuk membuat bumi bahagia.
Oh
iya, bagaimana dengan Ronald? Hehe.. Dia juga menjadi tempatku cerita betapa
bahagianya aku bisa bersama Valerie. Mungkin dia bosan mendengarnya, karena aku
juga sering kerumahnya untuk bercerita tentang Valerie, aku juga sering
bertanya bagaimana Valerie, dan seperti apa ia. Walaupun kami sudah jadian,
kami belum begitu mengenal sifat satu sama lain. Karena masa pendekatan kami
juga begitu singkat.
Suatu
hari, saat orangtuaku tidak ada di rumah, dan mobil sedang tidak dipakai. Aku
terpikir hal gila, membawanya. Hahaha.. Aku belum fasih betul mengendarai
mobil. Kubulatkan tekad untuk membawa mobil itu keluar dan menjemput Valerie
untuk ke sekolah. Waktu itu di sekolah hanya sebentar, kalau tidak salah hanya
untuk mengembalikan buku yang kami pinjam. Sesampainya aku di depan rumahnya,
ia kaget. Ya, aku juga kaget, kenapa aku segila itu. “Heh, ngapain bawa mobil?
Memangnya dibolehin?” Tanyanya dengan keheranan. “Tentu tidak. Di rumah sedang
tidak ada orang, lalu kubawa saja.” Kujawab, dan kamipun tertawa. Setelah itu,
mobilnya banyak goresan-goresan.
Senang-susahnya
kami usahakan yang terbaik, berbagai cara kami lakukan agar tetap bersama.
Walau kadangkala, akulah sang pembuat masalah. Diriku sering lepas kendali, emosiku
tak terkontrol, seringkali ia jadi sasaran tanganku. Aku selalu menyesal tiap
kali melakukannya. Dan, aku sangat sering menyakiti hatinya. Aku dekat dengan
perempuan lain. Itu membuatnya sakit hati. Ia sangat tergila-gila padaku, ia
melakukan hal-hal gila untuk tetap
bersamaku.
Usai
masa putih abu-abu kami, hanya bertahan beberapa bulan masa hubungan jarak jauh
kami. Ya, setelah lulus SMA, aku pergi ke tanah orang untuk melanjutkan
pendidikanku. Sedang ia tetap dan melanjutkan pendidikan di daerahnya. Aku
tahu, perjuangan panjangnya tak kunjung menuai hasil baik. Ia menyerah, dan
kami usai.
Saat
ini, aku sedang mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkannya kembali.
Memperbaiki diriku, membuktikan padanya bahwa aku bisa berubah. Dan kembali
melakukan hal-hal gila bersamanya. Kupanggil ia nona. Nona, semoga kau
membacanya. Semoga kau berubah pikiran, agar aku bisa kembali melanjutkan
cerita ini.

0 komentar:
Posting Komentar