Kamis, 04 Januari 2018


Cinta Gila
By : Abigaelle Easter Alamanda

Entah bagaimana aku bisa berpikir tentang cinta, ia gila dan bisa membuatku gila. Awalnya cinta membawaku pada kewarasan, lama kelamaan aku hanyut pada alirannya, aku menjadi gila dan melakukan hal-hal gila. Seperti aku melihat perempuan itu, yang setelah ku ketahui, Valerie namanya. Rambutnya tidak terlalu jauh dari bahu, kulitnya putih, ia tidak terlalu tinggi, memiliki hidung yang mancung dan mata bulat yang indah. Lama kelamaan setelah diam-diam kuperhatikan, cinta ini tumbuh, namun ia masih tak bertuan. Hampir lupa, perkenalkan nama ku Dylan, ya, seperti nama orang luar negeri. Ibuku pintar, beliau dapat menikahi laki-laki yang berasal dari Inggris, laki-laki yang sekarang menjadi ayahku sudah lama tinggal di Indonesia, bertemu ibuku lewat perusahaan yang memang bekerja sama dengan luar negeri.

Kisahku dengan Valerie kuawali diawal masa putih abu-abu, dimana manusia menyebutnya sebagai masa-masa yang menyenangkan dan gila. Aku mengenal Valerie lewat kawanku namanya Ronald, ia kawan dekatku sejak aku SMP, sebenarnya aku sudah mengenal dia sejak SD. Masuk masa SMA, ia satu sekolah denganku, hubungan kami semakin dekat. Hingga akhirnya masih diwaktu masa pengenalan lingkungan sekolah atau dulu disebut MOS (Masa Orientasi Siswa), aku melirik seorang perempuan yang awalnya aku tak tahu namanya. Aku malu sebenarnya untuk sekedar berkenalan ataupun meminta nomor. Ternyata, Ronald sudah lebih dulu mengenal Valerie, aku kaget sekaligus senang. Tidak akan kusia-siakan kesempatan itu.

 “Ron, bantulah aku kenalan dengan perempuan itu. Aku malu jika harus berkenalan langsung. Atau, aku minta nomor telfonnya.” Pintaku sembari memelas agar dikasihani.  “Nanti aku tanya dulu ke orangnya.”  Jawabnya.  “Ah, sial. Lama sekali.” Kataku kesal, tapi hanya kuungkapkan dalam hati.

Jadi, aku harus menunggu hingga keesokan harinya. Aku berharap Valerie lekas mengizinkan Ronald untuk memberikan nomornya padaku. Aku sangat semangat waktu itu. Keesokannya segera kutemui Ronald.

“Gimana? Boleh aku memintanya?” Tanyaku semangat campur penasaran. “Tidak, kamu harus memintanya sendiri.” Jawabnya. “Ah, lagi-lagi sial.” Jawabku ketus dalam hati.

Aku bingung, sangat bingung. Bagaimana aku bisa meminta nomor telfonnya sedang aku sendiri tidak berani kenalan dengannya? Akhirnya, kuurungkan niatku untuk berkenalan dengan Valerie. Betapa pecundangnya aku. Namun, setelah beberapa hari, tiba-tiba Ronald memberikan nomor telfon Valerie padaku tanpa kuminta, katanya aku boleh menghubunginya. Perasaan girangku tak tertahankan, aku rasa Tuhan sangat baik padaku. Tentunya Ronald juga, aku harus berterimakasih padanya. Terimakasih, Ronald!

Namun, setelah itu apa yang harus kulakukan? Aku malu! Aku tak berani bahkan untuk menghubunginya lewat pesan singkat. Bagaimana aku harus memulainya?

Aku mencobanya, “halo, kenalkan aku Dylan. Ini Valerie kan?” Sial aku merasakan cemas sekarang, takut jika ia tak membalas pesan ku ini. Ternyata, tak lama kemudian, telfonku berbunyi, tanda pesan masuk. Kubaca “halo juga, iya aku Valerie. Ini kawannya Ronald kan?” Ia membalas, aku sangat senang. Haha.. “Oh, bukan. Aku bukan temannya Ronald.” Kubalas. Setelah kupikir-pikir, ah candaan  macam apa itu, bahkan tidak lucu sama sekali. Dia menjawab jadi seperti orang kebingungan, kemudian kujawab yang sebenarnya, bahwa memang benar aku kawannya Ronald. Aku merasa bodoh, untung Valerie orangnya menyenangkan. Sangat menyenangkan!

Aku merasa, semua yang kulakukan lancar-lancar saja. Perasaanku padanya mulai tumbuh. Ah, aku suka padanya. Namun, aku tidak terburu-buru. Aku merasa ada kecocokan dengan Valerie. Masih pada masa pengenalan, kakak kelas menyuruh semua siswa baru untuk membawa satu buah cokelat. Tentu aku tidak punya uang untuk itu. Kemudian aku meminta pada Papaku, ya, beliaulah sumber keuanganku. “Pa, Dylan disuruh bawa cokelat dua buah untuk besok. Boleh aku minta uangnya?” Tanyaku. Padahal aku hanya disuruh membawa satu, namun aku bilang jika disuruh dua. Maka papaku memberikan uang untuk kubelikan dua buah cokelat. Satu karena disuruh kakak kelas, satu karena akan kuberikan pada Valerie. Haha! Aku merasa sudah curang karena tidak jujur pada papaku. Aku tidak peduli, ini semua untuk mendapatkan hati Valerie.

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah, mengikuti MOS dengan baik lalu pulang. Hari itu aku pulang dengan Valerie, aku akan mengantarkannya pulang ke rumahnya. Aku senang!
“Cepatlah, aku lapar.” Katanya padaku. Huh.. padahal baru saja ia naik, sudah langsung minta cepat-cepat. Cokelat itu ku taruh di kantong celanaku, atau kantung jaketku. Entahlah aku lupa. Setelah motor yang kugunakan berjalan, segera kuberikan cokelat itu, “ini untukmu, katanya lapar kan?” Kukatakan itu sambil menyodorkan cokelatnya, sembari aku tetap menyetir. Aku tak berani menatapnya saat memberi cokelat itu. Entah apa respon yang ia berikan, aku tak tahu. Yang pasti, aku senang sudah bisa memberikannya cokelat.

Hari-hari kami berjalan menyenangkan. Aku merasa semua lancar. Perasaan rindu perlahan-lahan mulai melanda, membuat pikiranku menjadi gila.

Aku mulai rutin berangkat dan pulang bersamanya, menjemput dan mengantarnya pulang ke rumahnya. Aku senang! Hubungan kami makin hari makin dekat. Hingga kira-kira satu bulan, kuputuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Ya, dengan status. Tanggal dua puluh dua Agustus dua ribu empat belas, siang hari sepulang sekolah. Di depan gerbang sekolah, mungkin tanpa waktu yang ia duga. Aku berhenti, kuhadapkan pandanganku padanya. Kuberanikan diriku yang pecundang ini. “Val, apa kamu mau jadi pacarku?” Aku rasa pertanyaan itu mengagetkan dirinya. Ia diam. “Nanti saja dijawabnya kalau sudah di depan rumahmu.” Tambahku. Lalu aku mengambil motorku dari parkiran motor sekolah.

Kami diam, sepanjang perjalanan mengantar dirinya. Sesampainya di depan rumahnya, “silahkan dijawab.” Kataku. “Jika jawabannya iya, bagaimana?” Ia bertanya. Aku kaget dan bingung. Apa sebenarnya jawabannya. “Jadi, jawabannya iya?” Kutanya. Ia hanya mengangguk senyum. Ah! Hari terbaik dalam hidupku! Kemudian aku pulang, dijalan, aku senyum-senyum kegirangan. Mungkin ada orang yang melihat. Entahlah. Aku tak peduli. Yang penting, aku senang!

Hari-hariku berbeda, ia, Valerie, mewarnai sebagian besar hari-hariku. Kami sama-sama menikmati hari-hari yang kami lewati. Kami membuat bahagia kami sendiri.

Suatu saat, aku berkesempatan memeluknya. “Boleh aku memelukmu?” Kutanya masih dengan sedikit rasa malu-malu. Ia mengangguk. Aku memeluknya, indah rasanya. Perasaanku sangat nyaman, kubuat ia sebagai rumahku dari segala perjalanan panjangku. Kurasa ia diciptakan untuk membuatku senang, dan kami disatukan untuk membuat bumi bahagia.

Oh iya, bagaimana dengan Ronald? Hehe.. Dia juga menjadi tempatku cerita betapa bahagianya aku bisa bersama Valerie. Mungkin dia bosan mendengarnya, karena aku juga sering kerumahnya untuk bercerita tentang Valerie, aku juga sering bertanya bagaimana Valerie, dan seperti apa ia. Walaupun kami sudah jadian, kami belum begitu mengenal sifat satu sama lain. Karena masa pendekatan kami juga begitu singkat.

Suatu hari, saat orangtuaku tidak ada di rumah, dan mobil sedang tidak dipakai. Aku terpikir hal gila, membawanya. Hahaha.. Aku belum fasih betul mengendarai mobil. Kubulatkan tekad untuk membawa mobil itu keluar dan menjemput Valerie untuk ke sekolah. Waktu itu di sekolah hanya sebentar, kalau tidak salah hanya untuk mengembalikan buku yang kami pinjam. Sesampainya aku di depan rumahnya, ia kaget. Ya, aku juga kaget, kenapa aku segila itu. “Heh, ngapain bawa mobil? Memangnya dibolehin?” Tanyanya dengan keheranan. “Tentu tidak. Di rumah sedang tidak ada orang, lalu kubawa saja.” Kujawab, dan kamipun tertawa. Setelah itu, mobilnya banyak goresan-goresan.

Senang-susahnya kami usahakan yang terbaik, berbagai cara kami lakukan agar tetap bersama. Walau kadangkala, akulah sang pembuat masalah. Diriku sering lepas kendali, emosiku tak terkontrol, seringkali ia jadi sasaran tanganku. Aku selalu menyesal tiap kali melakukannya. Dan, aku sangat sering menyakiti hatinya. Aku dekat dengan perempuan lain. Itu membuatnya sakit hati. Ia sangat tergila-gila padaku, ia melakukan hal-hal gila untuk tetap  bersamaku.

Usai masa putih abu-abu kami, hanya bertahan beberapa bulan masa hubungan jarak jauh kami. Ya, setelah lulus SMA, aku pergi ke tanah orang untuk melanjutkan pendidikanku. Sedang ia tetap dan melanjutkan pendidikan di daerahnya. Aku tahu, perjuangan panjangnya tak kunjung menuai hasil baik. Ia menyerah, dan kami usai.

Saat ini, aku sedang mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkannya kembali. Memperbaiki diriku, membuktikan padanya bahwa aku bisa berubah. Dan kembali melakukan hal-hal gila bersamanya. Kupanggil ia nona. Nona, semoga kau membacanya. Semoga kau berubah pikiran, agar aku bisa kembali melanjutkan cerita ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace