Kamis, 04 Januari 2018

Permainan Takdir
By : Adinda Mutiara Purnama
Takdir itu lucu,
Takdir itu menyebalkan,
Namun takdir juga bisa menjadi menyenangkan.
Apa kau percaya dengan kata-kata “Jika kita memang jodoh maka kita akan dipertemukan kembali” ? Kalau kau bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab iya. Karena hal ini baru saja terjadi kepadaku. Sungguh, aku tak tahu harus berterima kasih kepada Tuhan dengan cara apalagi. Aku harus bersyukur dengan bagaimana lagi? Yang aku bisa hanya mengucapkan terima kasih dan berdo’a dengan setulus hati sebab aku sudah dipertemukan bahkan dipersatukan dengan seseorang yang sudah lama aku cintai. Pertemuan kami memang memakan waktu yang sangat lama, namun perlu kuakui pepatah yang mengatakan “usaha tidak akan mengkhianati hasil” sangat benar sekali. Aku dan dia sama-sama saling mencari satu sama lain saat kami belum dipertemukan kembali.
Selama kurang lebih 4 tahun setelah aku harus pindah ke negeri seberang, Jepang. Aku kembali mencari wanita yang selama ini aku cintai. Untung saja peralatan jaman sekarang sudah sangat canggih, sehingga dengan menekan beberapa tombol di layar saja kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan termasuk menghubungkanmu kembali dengan seseorang yang sudah lama tidak kau jumpai. Hanya dengan bermodalkan gadget dan memori otakku yang masih berfungsi, aku menelusuri akun facebookku berharap aku dapat dengan segera menemui apa yang sedang aku cari. Aku masih mengingat namanya, wajahnya, suara, bahkan hari-hari yang kita lalui bersama. Park Yura, wanita yang berhasil membuatku membuka hati lagi setelah 3 tahun aku trauma menjalin hubungan. Saat itu, aku hanyalah pria bodoh yang menyedihkan. Aku sangat terlarut dalam kesedihan, lantaran mantan kekasihku menduakanku dengan pria yang bisa dikatakan lebih mapan daripada aku. Bodohnya aku malah mengunci pintu hatiku, sedangkan perempuan jalang itu tengah berbahagia dengan kekasih barunya. Kau tahu apa perkataanya saat memutuskan untuk berpisah denganku “Maaf tapi aku sudah menemukan pria yang lebih kaya darimu” katanya sambil berlalu meninggalkanku yang masih tercengang mendengar ucapannya. Naas sekali nasibku, harus bertemu dengan wanita ular seperti Kim Bora. Lebih naasnya lagi, pertemuan pertamaku dengan Yura sangat memalukan.
Aku ingat, ketika aku sedang sedih-sedihnya sampai aku tidak sadar meneguk 3 botol soju sekaligus. Setelahnya aku menyusuri jalanan Seoul dengan langkah terpontang-panting sambil bergurau memaki-maki wanita ular itu. Aku tak sadar, aku benar-benar tak sadar sampai aku tak sadar melakukan panggilan kepada wanita ular itu setelah 3 tahun aku putus kontak dengannya “Hey Kim Bora, kau akan menyesal telah memutuskan pria sepertiku” aku langsung berteriak seperti itu ketika panggilanku diterima olehnya. Kau tahu apa jawabannya? Ya, katanya “Kau yang sangat menyesal sepertinya” balasnya singkat jelas dan padat. Kalau seandainya dia ada dihadapanku, rasanya ingin aku hajar dia.
Lalu, langkah kaki mengantarku ke Sungai Han. Aku yang masih dalam pengaruh alkohol hanya terima-terima saja saat kakiku menuntun jalan ku kesana. Aku hampir saja bunuh diri kalau saat itu seorang wanita tidak mencoba untuk menolongku, entah kenapa kata-katanya seakan menyadarkanku “Kau boleh punya masalah, kau berhak melakukan apapun yang kau mau. Tapi ingat, kau juga berhak untuk hidup lebih lama lagi dan bahagia”. Saat mendengarnya entah kenapa aku merasa seperti seseorang yang bodoh. Benar-benar bodoh, aku tak menyangka kenapa aku bisa disana, aku tak menyangka apa yang nafsuku inginkan. Aku masih tak menyangka aku hampir melakukan hal yang gila hanya karena patah hati. Kalau saja tidak ada wanita itu, mungkin besok aku akan menjadi berita heboh di koran pikirku. Entah kenapa, kata-katanya tadi sekaligus menjadi penawar alkohol yang ada dalam diriku. Sepertinya semua soju yang aku minum tadi lenyap hilang ditelan kata-kata wanita itu, dan ajaibnya aku tak merasakan mual sama sekali, padahal aku bukan orang yang kuat minum. Kalau kau bertanya-tanya siapa wanita itu, dia adalah Park Yura.
Aku merasa langsung jatuh hati padanya, aku merasa tiba-tiba aku dicintai oleh seseorang setelah hatiku diporak-porandakan habis-habisan oleh seekor ular jalang. Terasa seperti lahir kembali, ya seperti itu. Aku harus bersyukur atau tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Mungkin kalau aku tidak mengalami kejadian ini aku tak bertemu dengannya sekarang. Mungkin aku tak akan jatuh cintanya kepadanya seperti sekarang. Setelah pertemuan singkat di Sungai Han, aku dan Yura sering bertemu untuk sekedar jalan-jalan atau aku yang memang sengaja datang ketempatnya hanya untuk melihatnya, konyol bukan? Ya memang, namun itulah manusia saat sedang dimabuk asmara. Kau akan melakukan apapun untuk melihatnya, meski hal itu kedengaran konyol. Tapi jika kau tidak melakukannya, kau akan gundah gulana menahan rindu seharian. Daripada aku gila lagi pikirku, lebih baik aku mengunjunginya.
Lima bulan berlalu, aku dan Yura sudah semakin akrab. Aku semakin tahu bagaimana sikapnya, apa makanan kesukaannya, siapa idola favoritnya, apa kesukaannya, hingga apa yang disebut aibnya aku tahu semua. Meski begitu, aku tetap mencintainya. Tidak, bahkan itu yang membuatku mencintainya. Ya, dirinya yang seperti itu. Menyenangkan. Namun, kisah itu dituliskan tidak selalu berbuah manis. Orang tuaku menyuruhku untuk pindah ke Jepang untuk melanjutkan pendidikanku. Dan saat aku harus pindah ke Jepang, aku masih belum menyatakan perasaanku. Menyedihkan. Tapi, aku memberikannya kalung dengan bentuk bintang di tengahnya saat dia akan mengantarkan kepergianku kala itu. “Hey pakailah ini, dan ingat suatu saat nanti saat kita bertemu kembali kalung ini harus tetap ada di lehermu ya” kataku sambil memakaikannya. Apa ini terlihat berlebihan, aku tidak peduli. Aku hanya ingin memberikannya kenang-kenangan sebelum kita berpisah. Dia hanya mengangguk dan berkata kepadaku “Kau harus berjanji, bahwa kita akan bertemu kembali Seonho-ssi”. Deg, senang sekali rasanya aku mendengar perkataan itu. Entah kenapa aku refleks sampai memeluknya erat seakan tidak ingin berpisah dengannya. Walaupun begitu, aku tetap harus pergi karena pesawat yang akan mengantarku ke Jepang sudah siap mengangkutku dan semua penumpang lainnya.

Sudah 4 tahun di Jepang, sebenarnya aku sering berkomunikasi dengannya melalui ponsel. Namun, 2 tahun yang lalu aku harus merelakan ponselku sehingga aku tidak dapat mengirim kabar dengannya. Bodohnya aku lupa dengan password LINE yang biasa aku gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Dengan terpaksa 2 tahun aku harus kuat menahan rindu kepadanya. Waktu itu aku tidak terpikirkan untuk mencarinya lewat akun sosial yang lain, kalau saja aku langsung berpikir menhubunginya lewat facebook mungkin aku tidak akan merasakan yang namanya putus kontak dengannya. Namun, sekarang aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi, karena sekarang kami sudah dipertemukan kembali dan mohon doakan supaya kami bisa bersama selamanya. 

0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace