Permainan Takdir
By : Adinda Mutiara Purnama
Takdir
itu lucu,
Takdir itu menyebalkan,
Namun takdir juga bisa menjadi menyenangkan.
Takdir itu menyebalkan,
Namun takdir juga bisa menjadi menyenangkan.
Apa kau percaya dengan
kata-kata “Jika kita memang jodoh maka kita akan dipertemukan kembali” ? Kalau
kau bertanya kepadaku, maka aku akan menjawab iya. Karena hal ini baru saja
terjadi kepadaku. Sungguh, aku tak tahu harus berterima kasih kepada Tuhan
dengan cara apalagi. Aku harus bersyukur dengan bagaimana lagi? Yang aku bisa
hanya mengucapkan terima kasih dan berdo’a dengan setulus hati sebab aku sudah
dipertemukan bahkan dipersatukan dengan seseorang yang sudah lama aku cintai.
Pertemuan kami memang memakan waktu yang sangat lama, namun perlu kuakui
pepatah yang mengatakan “usaha tidak akan mengkhianati hasil” sangat benar
sekali. Aku dan dia sama-sama saling mencari satu sama lain saat kami belum
dipertemukan kembali.
Selama kurang lebih 4
tahun setelah aku harus pindah ke negeri seberang, Jepang. Aku kembali mencari
wanita yang selama ini aku cintai. Untung saja peralatan jaman sekarang sudah
sangat canggih, sehingga dengan menekan beberapa tombol di layar saja kau bisa
melakukan apapun yang kau inginkan termasuk menghubungkanmu kembali dengan
seseorang yang sudah lama tidak kau jumpai. Hanya dengan bermodalkan gadget dan
memori otakku yang masih berfungsi, aku menelusuri akun facebookku berharap aku
dapat dengan segera menemui apa yang sedang aku cari. Aku masih mengingat
namanya, wajahnya, suara, bahkan hari-hari yang kita lalui bersama. Park Yura,
wanita yang berhasil membuatku membuka hati lagi setelah 3 tahun aku trauma
menjalin hubungan. Saat itu, aku hanyalah pria bodoh yang menyedihkan. Aku
sangat terlarut dalam kesedihan, lantaran mantan kekasihku menduakanku dengan
pria yang bisa dikatakan lebih mapan daripada aku. Bodohnya aku malah mengunci
pintu hatiku, sedangkan perempuan jalang itu tengah berbahagia dengan kekasih
barunya. Kau tahu apa perkataanya saat memutuskan untuk berpisah denganku “Maaf
tapi aku sudah menemukan pria yang lebih kaya darimu” katanya sambil berlalu
meninggalkanku yang masih tercengang mendengar ucapannya. Naas sekali nasibku, harus
bertemu dengan wanita ular seperti Kim Bora. Lebih naasnya lagi, pertemuan
pertamaku dengan Yura sangat memalukan.
Aku ingat, ketika aku
sedang sedih-sedihnya sampai aku tidak sadar meneguk 3 botol soju sekaligus.
Setelahnya aku menyusuri jalanan Seoul dengan langkah terpontang-panting sambil
bergurau memaki-maki wanita ular itu. Aku tak sadar, aku benar-benar tak sadar
sampai aku tak sadar melakukan panggilan kepada wanita ular itu setelah 3 tahun
aku putus kontak dengannya “Hey Kim Bora, kau akan menyesal telah memutuskan
pria sepertiku” aku langsung berteriak seperti itu ketika panggilanku diterima
olehnya. Kau tahu apa jawabannya? Ya, katanya “Kau yang sangat menyesal
sepertinya” balasnya singkat jelas dan padat. Kalau seandainya dia ada
dihadapanku, rasanya ingin aku hajar dia.
Lalu, langkah kaki
mengantarku ke Sungai Han. Aku yang masih dalam pengaruh alkohol hanya
terima-terima saja saat kakiku menuntun jalan ku kesana. Aku hampir saja bunuh
diri kalau saat itu seorang wanita tidak mencoba untuk menolongku, entah kenapa
kata-katanya seakan menyadarkanku “Kau boleh punya masalah, kau berhak
melakukan apapun yang kau mau. Tapi ingat, kau juga berhak untuk hidup lebih
lama lagi dan bahagia”. Saat mendengarnya entah kenapa aku merasa seperti
seseorang yang bodoh. Benar-benar bodoh, aku tak menyangka kenapa aku bisa
disana, aku tak menyangka apa yang nafsuku inginkan. Aku masih tak menyangka
aku hampir melakukan hal yang gila hanya karena patah hati. Kalau saja tidak
ada wanita itu, mungkin besok aku akan menjadi berita heboh di koran pikirku.
Entah kenapa, kata-katanya tadi sekaligus menjadi penawar alkohol yang ada
dalam diriku. Sepertinya semua soju yang aku minum tadi lenyap hilang ditelan
kata-kata wanita itu, dan ajaibnya aku tak merasakan mual sama sekali, padahal
aku bukan orang yang kuat minum. Kalau kau bertanya-tanya siapa wanita itu, dia
adalah Park Yura.
Aku merasa langsung
jatuh hati padanya, aku merasa tiba-tiba aku dicintai oleh seseorang setelah
hatiku diporak-porandakan habis-habisan oleh seekor ular jalang. Terasa seperti
lahir kembali, ya seperti itu. Aku harus bersyukur atau tidak pernah mengalami
kejadian seperti ini. Mungkin kalau aku tidak mengalami kejadian ini aku tak bertemu
dengannya sekarang. Mungkin aku tak akan jatuh cintanya kepadanya seperti
sekarang. Setelah pertemuan singkat di Sungai Han, aku dan Yura sering bertemu
untuk sekedar jalan-jalan atau aku yang memang sengaja datang ketempatnya hanya
untuk melihatnya, konyol bukan? Ya memang, namun itulah manusia saat sedang
dimabuk asmara. Kau akan melakukan apapun untuk melihatnya, meski hal itu
kedengaran konyol. Tapi jika kau tidak melakukannya, kau akan gundah gulana
menahan rindu seharian. Daripada aku gila lagi pikirku, lebih baik aku
mengunjunginya.
Lima bulan berlalu, aku
dan Yura sudah semakin akrab. Aku semakin tahu bagaimana sikapnya, apa makanan
kesukaannya, siapa idola favoritnya, apa kesukaannya, hingga apa yang disebut
aibnya aku tahu semua. Meski begitu, aku tetap mencintainya. Tidak, bahkan itu
yang membuatku mencintainya. Ya, dirinya yang seperti itu. Menyenangkan. Namun,
kisah itu dituliskan tidak selalu berbuah manis. Orang tuaku menyuruhku untuk
pindah ke Jepang untuk melanjutkan pendidikanku. Dan saat aku harus pindah ke
Jepang, aku masih belum menyatakan perasaanku. Menyedihkan. Tapi, aku
memberikannya kalung dengan bentuk bintang di tengahnya saat dia akan
mengantarkan kepergianku kala itu. “Hey pakailah ini, dan ingat suatu saat
nanti saat kita bertemu kembali kalung ini harus tetap ada di lehermu ya”
kataku sambil memakaikannya. Apa ini terlihat berlebihan, aku tidak peduli. Aku
hanya ingin memberikannya kenang-kenangan sebelum kita berpisah. Dia hanya
mengangguk dan berkata kepadaku “Kau harus berjanji, bahwa kita akan bertemu
kembali Seonho-ssi”. Deg, senang sekali rasanya aku mendengar perkataan itu.
Entah kenapa aku refleks sampai memeluknya erat seakan tidak ingin berpisah
dengannya. Walaupun begitu, aku tetap harus pergi karena pesawat yang akan
mengantarku ke Jepang sudah siap mengangkutku dan semua penumpang lainnya.
Sudah 4 tahun di
Jepang, sebenarnya aku sering berkomunikasi dengannya melalui ponsel. Namun, 2
tahun yang lalu aku harus merelakan ponselku sehingga aku tidak dapat mengirim
kabar dengannya. Bodohnya aku lupa dengan password LINE yang biasa aku gunakan
untuk berkomunikasi dengannya. Dengan terpaksa 2 tahun aku harus kuat menahan
rindu kepadanya. Waktu itu aku tidak terpikirkan untuk mencarinya lewat akun
sosial yang lain, kalau saja aku langsung berpikir menhubunginya lewat facebook
mungkin aku tidak akan merasakan yang namanya putus kontak dengannya. Namun,
sekarang aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi, karena sekarang
kami sudah dipertemukan kembali dan mohon doakan supaya kami bisa bersama
selamanya.

0 komentar:
Posting Komentar