Terungku
By : Dwi Krisna J
Pada akhirnya, aku bangun,
Bangkit dari lungun.
Pada akhirnya, aku tumbuh,
Dari kepingan menjadi utuh.
Aku kokoh, tajam, dan abrasif
Dengan aksaraku yang temaram
Menerungku kegelapan malam.
* * *
“Aku menyukai seseorang,” Arka memberi tahu
terapisnya, dengan tangannya yang memainkan ujung-ujung bajunya.
“Oh, ya?” Terapisnya mengulum senyum.
“Aku takut,” ia berkata.
“Mengapa?”
“Bagaimana kalau ia menyukaiku juga?” “Apa yang
harus aku lakukan? Dok, anda tahu betapa rusaknya saya dibanding siapapun,
kan?”
“Tidak ada. Saya ulangi, tidak ada satupun bagian di
dirimu yang rusak,” ia menatapku dan meraih tanganku. “Ketika dia menyentuhmu,
arka, dia tidak merusakmu. Dia memang berusaha, namun kamu masih disini bukan?”
*
Arka tidak berbicara apapun. Ke siapapun. Ia
mengurung diri bersama pikirannya dan keinginannya untuk pergi dari sini. Tapi
perlahan-lahan, semua tahu.
Hanina yang pertama kali melihatnya. Hanina
menyadari hilangnya Arka, di tengah malam menjelang pagi. Ia tahu seharusnya ia
yang menjaga Arka. Hanina mencari dan mencari dan mencari dan mencari hingga ia
menemukan Arka, tersungkur di jalanan kotor itu, muntah. Memuntahi semua hal
yang masuk ke mulutnya secara paksa.
Hanina melihat merah, darah, amarah. Punggung,
lutut, sekujur muka dan pahanya terluka. Ada bercak darah di pahanya, kering.
Baru.
Hanina membenci dirinya sendiri sejak saat itu.
Begitupun Arka.
Dina mengetahuinya tiga bulan kemudian.
Arka tidak pernah menelpon; tidak pulang ataupun
sekedar berbagi foto di instagram. Ia menghilang begitu saja. Kadang ia
terlihat sangat kurus, seperti dapat menyelip dalam celah kecil ventilasi kamar
mandi dan lenyap. Dia tidak mengangkat telpon Dina. Pergi ke kampus. Pulang ke
rumah. Dan terus tenggelam dalam lingkaran itu.
Dinapun tidak tahan lagi dan akhirnya memutuskan
untuk mengunjungi apartemen milik adiknya itu. Ia membuka kodenya dengan cepat,
terburu-buru, dan disapa, bukan dengan adiknya, namun dengan keheningan.
Kondisi apartemen Arka bukan seperti ini biasanya. Baju-baju kotor bergeletakan
dimana-mana, ruang tamunya sudah rawut, begitupun dapur dan kamar mandinya.
Ketika ia mencoba menyentuh pundak Arka, adiknya
berteriak.
“Jangan sentuh aku,” Arka terisak, memeluk dirinya
sendiri dan menutupi dirinya dengan selimut. Dina melihat dirinya. Ia melihat
luka di pipinya. Melihat kosongnya mata adiknya. Melihat kosongnya jiwa
adiknya, tidak pernah sekosong ini, sehampa ini.
“Jangan
sentuh aku, aku mohon! aku tidak akan mengadukan apa apa — aku mohon“
Dina merangkul Arka dalam pelukannya. Mencium
keningnya dan mengelus kepalanya dengan lembut. Ia tahu itu tak berguna. Arka
terjebak dalam mimpi buruknya, menjalani mimpi buruknya, setiap hari.
“K-kak?” Suara Arka merintih. Suaranya parau,
seperti ia terlalu sering berteriak, atau mungkin memang benar. Ia terdengar
seperti ia telah berteriak cukup lama, pada dirinya sendiri, dalam bisingnya
kesunyian.
“Gapapa, kakak disini, Arka. It’s okay. Kamu baik
baik aja, kakak disini.” Ia terus melantunkan kata-kata itu sambil mengelus
kepala adiknya.
Akhirnya baru sekarang ia dapat melihat dengan jelas
wajah adiknya. Terdapat luka di pipinya, melintang dari atas pipi hingga ke
mulutnya. Seperti besetan kecil, namun dalam. Di sanapun terdapat warna biru
keunguan. Ia melihat pipi adiknya. Dan jejak-jejak air mata di atasnya.
Mengingat bagaimana dulu ia sering merengek agar Dina mengangkatnya ke kamar.
Merengek ketika ditinggal ke sekolah oleh kakaknya. Bagaimana dulu Dina sering
diam-diam memasukkan permen ke tasnya ketika ibu melarangnya.
*
Hanina adalah rumahku. Aku mempunyai banyak teman,
tentu. Namun kemana pun aku berlari, aku akan pulang ke Hanina. Aku ingat
bagaimana pertama kali aku bertemunya. Di akhir musim panas dimana kami berdua
berjumpa pada hari pertama sekolah. Rambutnya yang diikat dua dan pipinya yang
merah juga masih aku ingat dalam ingatanku.
Itu pertama kalinya Hanina mengajakku ke klub malam.
Di tengah malam pada musim panas, ia menjemputku dengan mobil ayahnya yang ia
bawa. Kita menikmati perjalanan itu. Musik genre pop rock bergema ke seluruh
sisi-sisi jalan, berduet dengan kencangnya angin di malam itu.
Berisik, bau rokok, dan parfum murahan tercium
bahkan dari awal aku memasuki klub. Banyak pria dengan baju yang minim dan
wanita dengan baju yang lebih minim pula. Berdansa, menikmati malam. Aku
membencinya. Aku terus mengikuti jejak Hanina dan akhirnya duduk di satu meja
bersama orang-orang yang tidak kukenal. Maksudku, ini klub. Kita memang
seharusnya minum dengan orang-orang yang belum kita kenal untuk membangun
relasi, bukan? Aku tidak minum sama sekali, hanya memegang mocktail di tangan
kiriku, rokok di tangan kanan, berusaha tidak memalingkan mataku dari hanina
yang sedang berdansa di tengah ruangan.
Seorang pria duduk di sebelahku. Ia tidak berbicara
apapun awalnya, hanya duduk dan melihat orang-orang menari sambil meludahkan
beberapa komentar. Ia mulai membicarakan tentang bagaimana pelayan-pelayan ini
bekerja dengan gelagat lucunya. Tentu saja aku tertawa kecil, mencairkan
suasana yang lama lama tercerai-berai seiring bergantinya malam. Aku terlalu
sibuk melihat kesana kemari mencoba mencari hanina yang lenyap dari lubuk
mataku. Mataku bergerak cepat, mencari dan terus mencari.
*
Ia terkadang mencoba untuk berpikir tentang pria.
Bagaimana rasanya menyentuh mereka dan merasakan hangat badannya — tapi itu
tidak berhasil. Semakin memikirkannya semakin pula ia tercekat dengan
pikiran-pikirannya sendiri. Pikirannya adalah bunga yang tumbuh di
kerongkongan, menghalangi ia untuk bernapas sekaligus mencekiknya dari dalam.
Dia mencoba untuk mengalihkan pandangannya, pikirannya, kepada sekitar, namun
tuhan- oh tuhan- apakah harus sesakit ini?
Dengan getar di tangannya dan peluh di keningnya, ia
basuh mukanya, merenggutnya. Air mengalir di bawah kakinya, meluap dari
wastafel. Hampir setengah pengeluaran ia gunakan untuk air. Membasuh dirinya
dua kali sehari. Namun ia tak pernah bersih jua.
*
Ketika Dina memberi tahu apa yang terjadi pada orang
tuanya, mereka langsung datang ke Jakarta. Mereka datang dari Jogja, menempuh
jalan lewat darat. Delapan jam mengemudi dan khawatir.
Mereka tidak bisa berbuat apa apa. Arka tidak
menangis, berteriak, atau apapun. Ia hanya diam. Menanggapi seperlunya. Asyik
dalam kesunyiannya sendiri. Mereka semua diam dalam kesunyian. Saling mengerti
dan bertukar pandang.
Mereka membawanya ke terapis. Ia seorang wanita,
dengan rambut sebahunya dan senyumnya yang ramah. Arka menyukainya, walaupun ia
tidak bisa melihat matanya. Ia hanya menunduk. Sudah lama rasanya ia tidak
melihat mata seseorang lagi.
*
“Halo, Arka. Hey, semuanya baik baik saja” ia
melihatku, meraih tanganku dan menggegamnya dengan erat. “Apakah kau ingin
mendengar ceritaku?”
Arka mengangguk. Lebih baik daripada ia harus
menceritakan ceritanya.
Ia mengingat banyak hal. Banyak hal untuk
diceritakan.
Suara air yang menggenang di tanah, suara degupan
jantungnya, suara lantang tangan pria itu ketika bertemu dengan pipinya. Ia
melihat sekeliling, dunia terlihat buram dan berbayang, ia merasakan berat
tubuh seseorang yang tertimpa padanya, dengan nafas yang melewati pipinya. Arka
berusaha untuk melepaskan diri, berteriak tidak, berteriak jangan, berteriak
berhenti, yang dijawab oleh sunyinya malam.
*
Ia mengunjungi terapisnya seminggu sekali.
Menghitung obat yang diminumnya dengan baik. Menghitung hari kapan ia akan
sembuh pada akhirnya.
Namun, akankah?
*
Sampai pada suatu hari, ia bertemu dengan seseorang
bernama gilang. Mereka bertemu di sebuah swalayan 24 jam dekat kampus. Mereka
awalnya bersama dalam diam, dari jam dua belas malam hingga menuju subuh, di
temani kesendirian.
Tidak ada yang membuka pembicaraan apapun, namun
anehnya, ia merasa nyaman. Sampai akhirnya, ia pun memulai pembicaraan dan saling
bertukar nama.
*
Ia dan gilang semakin dekat. Arka belum siap, ia
tahu itu. Tidak ada yang memaksanya untuk berhubungan ataupun memberi tahu apa
pun kepada gilang.
Kedai itu sepi. Hanya ada ia dan Gilang serta
beberapa barista di meja pelayan. Arka tidak tahu apa yang ia rasakan. Ia
takut. Akan banyak hal. Akan dirinya sendiri. Ia takut untuk membuka diri,
hanya untuk disakiti lagi. Takut akan kerapuhannya.
Tapi ia tetap berusaha untuk melakukan latihan
nafasnya. Ia mencoba tenang. Mencoba mempraktekan cara-cara yang diberikan
terapisnya. Ia menunggu hingga gilang sudah selesai dengan tugasnya.
“Kamu bilang, kamu melihat ayahmu bunuh diri”
“Iya.” Ia tertegun, merasa sedikit kaget karena arka
menanyakan ini tiba tiba.
“Apakah kamu merindukannya?”
“Terkadang.”
“Tapi kau sekarang ada disini.”
“Apa hubungannya?”
“Mana bisa aku merindukan orang lain ketika kamu
disini?”
*
Sejak saat itu, ia merasa dirinya perlahan kembali.
Ia tidak merasa rusak lagi. Bukan karena Gilang, ia membantu, tentu saja. Namun
karena kepercaayaannya Gilang padanya. Betapa Gilang ada di sampingnya walaupun
ia tahu semuanya. Bagaimana ia terus menerus meyakinkan Arka bahwa cinta adalah
suatu hal yang besar dan indah. Dan sebelum kau memberinya untuk seseorang, kau
harus berikan dulu pada dirimu sendiri.
* * *

0 komentar:
Posting Komentar