Kamis, 04 Januari 2018


Terungku
By : Dwi Krisna J

Pada akhirnya, aku bangun,

Bangkit dari lungun.

Pada akhirnya, aku tumbuh,

Dari kepingan menjadi utuh.

Aku kokoh, tajam, dan abrasif

Dengan aksaraku yang temaram

Menerungku kegelapan malam.

*          *          *



“Aku menyukai seseorang,” Arka memberi tahu terapisnya, dengan tangannya yang memainkan ujung-ujung bajunya.

“Oh, ya?” Terapisnya mengulum senyum.

“Aku takut,” ia berkata.

“Mengapa?”

“Bagaimana kalau ia menyukaiku juga?” “Apa yang harus aku lakukan? Dok, anda tahu betapa rusaknya saya dibanding siapapun, kan?”

“Tidak ada. Saya ulangi, tidak ada satupun bagian di dirimu yang rusak,” ia menatapku dan meraih tanganku. “Ketika dia menyentuhmu, arka, dia tidak merusakmu. Dia memang berusaha, namun kamu masih disini bukan?”

            *         

Arka tidak berbicara apapun. Ke siapapun. Ia mengurung diri bersama pikirannya dan keinginannya untuk pergi dari sini. Tapi perlahan-lahan, semua tahu.

Hanina yang pertama kali melihatnya. Hanina menyadari hilangnya Arka, di tengah malam menjelang pagi. Ia tahu seharusnya ia yang menjaga Arka. Hanina mencari dan mencari dan mencari dan mencari hingga ia menemukan Arka, tersungkur di jalanan kotor itu, muntah. Memuntahi semua hal yang masuk ke mulutnya secara paksa.

Hanina melihat merah, darah, amarah. Punggung, lutut, sekujur muka dan pahanya terluka. Ada bercak darah di pahanya, kering. Baru.

Hanina membenci dirinya sendiri sejak saat itu. Begitupun Arka.



Dina mengetahuinya tiga bulan kemudian.

Arka tidak pernah menelpon; tidak pulang ataupun sekedar berbagi foto di instagram. Ia menghilang begitu saja. Kadang ia terlihat sangat kurus, seperti dapat menyelip dalam celah kecil ventilasi kamar mandi dan lenyap. Dia tidak mengangkat telpon Dina. Pergi ke kampus. Pulang ke rumah. Dan terus tenggelam dalam lingkaran itu.

Dinapun tidak tahan lagi dan akhirnya memutuskan untuk mengunjungi apartemen milik adiknya itu. Ia membuka kodenya dengan cepat, terburu-buru, dan disapa, bukan dengan adiknya, namun dengan keheningan. Kondisi apartemen Arka bukan seperti ini biasanya. Baju-baju kotor bergeletakan dimana-mana, ruang tamunya sudah rawut, begitupun dapur dan kamar mandinya.

Ketika ia mencoba menyentuh pundak Arka, adiknya berteriak.

“Jangan sentuh aku,” Arka terisak, memeluk dirinya sendiri dan menutupi dirinya dengan selimut. Dina melihat dirinya. Ia melihat luka di pipinya. Melihat kosongnya mata adiknya. Melihat kosongnya jiwa adiknya, tidak pernah sekosong ini, sehampa ini.

 “Jangan sentuh aku, aku mohon! aku tidak akan mengadukan apa apa — aku mohon“

Dina merangkul Arka dalam pelukannya. Mencium keningnya dan mengelus kepalanya dengan lembut. Ia tahu itu tak berguna. Arka terjebak dalam mimpi buruknya, menjalani mimpi buruknya, setiap hari.

“K-kak?” Suara Arka merintih. Suaranya parau, seperti ia terlalu sering berteriak, atau mungkin memang benar. Ia terdengar seperti ia telah berteriak cukup lama, pada dirinya sendiri, dalam bisingnya kesunyian.

“Gapapa, kakak disini, Arka. It’s okay. Kamu baik baik aja, kakak disini.” Ia terus melantunkan kata-kata itu sambil mengelus kepala adiknya.

Akhirnya baru sekarang ia dapat melihat dengan jelas wajah adiknya. Terdapat luka di pipinya, melintang dari atas pipi hingga ke mulutnya. Seperti besetan kecil, namun dalam. Di sanapun terdapat warna biru keunguan. Ia melihat pipi adiknya. Dan jejak-jejak air mata di atasnya. Mengingat bagaimana dulu ia sering merengek agar Dina mengangkatnya ke kamar. Merengek ketika ditinggal ke sekolah oleh kakaknya. Bagaimana dulu Dina sering diam-diam memasukkan permen ke tasnya ketika ibu melarangnya.



            *         



Hanina adalah rumahku. Aku mempunyai banyak teman, tentu. Namun kemana pun aku berlari, aku akan pulang ke Hanina. Aku ingat bagaimana pertama kali aku bertemunya. Di akhir musim panas dimana kami berdua berjumpa pada hari pertama sekolah. Rambutnya yang diikat dua dan pipinya yang merah juga masih aku ingat dalam ingatanku.

Itu pertama kalinya Hanina mengajakku ke klub malam. Di tengah malam pada musim panas, ia menjemputku dengan mobil ayahnya yang ia bawa. Kita menikmati perjalanan itu. Musik genre pop rock bergema ke seluruh sisi-sisi jalan, berduet dengan kencangnya angin di malam itu.

Berisik, bau rokok, dan parfum murahan tercium bahkan dari awal aku memasuki klub. Banyak pria dengan baju yang minim dan wanita dengan baju yang lebih minim pula. Berdansa, menikmati malam. Aku membencinya. Aku terus mengikuti jejak Hanina dan akhirnya duduk di satu meja bersama orang-orang yang tidak kukenal. Maksudku, ini klub. Kita memang seharusnya minum dengan orang-orang yang belum kita kenal untuk membangun relasi, bukan? Aku tidak minum sama sekali, hanya memegang mocktail di tangan kiriku, rokok di tangan kanan, berusaha tidak memalingkan mataku dari hanina yang sedang berdansa di tengah ruangan.

Seorang pria duduk di sebelahku. Ia tidak berbicara apapun awalnya, hanya duduk dan melihat orang-orang menari sambil meludahkan beberapa komentar. Ia mulai membicarakan tentang bagaimana pelayan-pelayan ini bekerja dengan gelagat lucunya. Tentu saja aku tertawa kecil, mencairkan suasana yang lama lama tercerai-berai seiring bergantinya malam. Aku terlalu sibuk melihat kesana kemari mencoba mencari hanina yang lenyap dari lubuk mataku. Mataku bergerak cepat, mencari dan terus mencari.

            *         

Ia terkadang mencoba untuk berpikir tentang pria. Bagaimana rasanya menyentuh mereka dan merasakan hangat badannya — tapi itu tidak berhasil. Semakin memikirkannya semakin pula ia tercekat dengan pikiran-pikirannya sendiri. Pikirannya adalah bunga yang tumbuh di kerongkongan, menghalangi ia untuk bernapas sekaligus mencekiknya dari dalam. Dia mencoba untuk mengalihkan pandangannya, pikirannya, kepada sekitar, namun tuhan- oh tuhan- apakah harus sesakit ini?

Dengan getar di tangannya dan peluh di keningnya, ia basuh mukanya, merenggutnya. Air mengalir di bawah kakinya, meluap dari wastafel. Hampir setengah pengeluaran ia gunakan untuk air. Membasuh dirinya dua kali sehari. Namun ia tak pernah bersih jua.

            *         

Ketika Dina memberi tahu apa yang terjadi pada orang tuanya, mereka langsung datang ke Jakarta. Mereka datang dari Jogja, menempuh jalan lewat darat. Delapan jam mengemudi dan khawatir.

Mereka tidak bisa berbuat apa apa. Arka tidak menangis, berteriak, atau apapun. Ia hanya diam. Menanggapi seperlunya. Asyik dalam kesunyiannya sendiri. Mereka semua diam dalam kesunyian. Saling mengerti dan bertukar pandang.




Mereka membawanya ke terapis. Ia seorang wanita, dengan rambut sebahunya dan senyumnya yang ramah. Arka menyukainya, walaupun ia tidak bisa melihat matanya. Ia hanya menunduk. Sudah lama rasanya ia tidak melihat mata seseorang lagi.

*

“Halo, Arka. Hey, semuanya baik baik saja” ia melihatku, meraih tanganku dan menggegamnya dengan erat. “Apakah kau ingin mendengar ceritaku?”

Arka mengangguk. Lebih baik daripada ia harus menceritakan ceritanya.

Ia mengingat banyak hal. Banyak hal untuk diceritakan.

Suara air yang menggenang di tanah, suara degupan jantungnya, suara lantang tangan pria itu ketika bertemu dengan pipinya. Ia melihat sekeliling, dunia terlihat buram dan berbayang, ia merasakan berat tubuh seseorang yang tertimpa padanya, dengan nafas yang melewati pipinya. Arka berusaha untuk melepaskan diri, berteriak tidak, berteriak jangan, berteriak berhenti, yang dijawab oleh sunyinya malam.

*

Ia mengunjungi terapisnya seminggu sekali. Menghitung obat yang diminumnya dengan baik. Menghitung hari kapan ia akan sembuh pada akhirnya.

Namun, akankah?

*

Sampai pada suatu hari, ia bertemu dengan seseorang bernama gilang. Mereka bertemu di sebuah swalayan 24 jam dekat kampus. Mereka awalnya bersama dalam diam, dari jam dua belas malam hingga menuju subuh, di temani kesendirian.

Tidak ada yang membuka pembicaraan apapun, namun anehnya, ia merasa nyaman. Sampai akhirnya, ia pun memulai pembicaraan dan saling bertukar nama.

*

Ia dan gilang semakin dekat. Arka belum siap, ia tahu itu. Tidak ada yang memaksanya untuk berhubungan ataupun memberi tahu apa pun kepada gilang.

Kedai itu sepi. Hanya ada ia dan Gilang serta beberapa barista di meja pelayan. Arka tidak tahu apa yang ia rasakan. Ia takut. Akan banyak hal. Akan dirinya sendiri. Ia takut untuk membuka diri, hanya untuk disakiti lagi. Takut akan kerapuhannya.

Tapi ia tetap berusaha untuk melakukan latihan nafasnya. Ia mencoba tenang. Mencoba mempraktekan cara-cara yang diberikan terapisnya. Ia menunggu hingga gilang sudah selesai dengan tugasnya.

“Kamu bilang, kamu melihat ayahmu bunuh diri”

“Iya.” Ia tertegun, merasa sedikit kaget karena arka menanyakan ini tiba tiba.

“Apakah kamu merindukannya?”

“Terkadang.”

“Tapi kau sekarang ada disini.”

“Apa hubungannya?”

“Mana bisa aku merindukan orang lain ketika kamu disini?”

*

Sejak saat itu, ia merasa dirinya perlahan kembali. Ia tidak merasa rusak lagi. Bukan karena Gilang, ia membantu, tentu saja. Namun karena kepercaayaannya Gilang padanya. Betapa Gilang ada di sampingnya walaupun ia tahu semuanya. Bagaimana ia terus menerus meyakinkan Arka bahwa cinta adalah suatu hal yang besar dan indah. Dan sebelum kau memberinya untuk seseorang, kau harus berikan dulu pada dirimu sendiri.



*          *          *








0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace