Akhir Yang Tak Diinginkan
By : Adinda Mutiara Purnama
Kata orang
jika kita berusaha, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Kata orang jika kita berkorban, apapun yang kita korbankan tak akan sia-sia.
Kata orang….
Kata orang jika kita berkorban, apapun yang kita korbankan tak akan sia-sia.
Kata orang….
Terlalu banyak kata
orang yang aku dengar, begitu manis sampai-sampai aku terbuai dengan
mimpi-mimpi indah yang nyatanya tak bisa aku miliki. Aku hanyalah aku, pria
dungu yang rela melakukan apapun demi cinta. Bodohnya aku terlena dengan manis
fiktif yang ada di awalnya sampai aku lupa bahwa dalam cinta tidak melulu
kesenangan yang dapat kita rasakan. Aku
lupa, sungguh sangat lupa.
Aku pernah menjalin
sebuah hubungan, yang mana hubungan itu sudah kandas sekarang. Apa kau tahu apa
alasan kandasnya hubunganku? “Jenuh”. Aku masih tak habis pikir bagaimana rasa
jenuh dapat mengakhiri sebuah hubungan yang sudah terjalin lama? Aku sempat
berkaca pada diriku sendiri, apa kurangnya aku? Apa aku terlalu naïf ? Apa aku membosankan?
Apa aku… terlalu banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan. Teman-teman ku
banyak yang sepertiku, maksudnya menjalin hubungan dalam waktu yang lama, tapi
hanya aku di antara mereka yang harus mengalami kejadian pahit seperti ini. Apa
Tuhan tidak sayang padaku? Atau apa aku terlalu sering bercumbu dengan
makhluknya sehingga dia cemburu? Ah aku tak tahu apa-apa.
Hubungan yang aku
jalani dulu sama seperti pasangan biasa, memang pasti ada konflik namun aku
selalu bisa bernegosiasi dengannya agar hubungan ini tetap terjaga
keselarasannya. Dan dia yang selalu saja luluh dengan negosiasiku, kami pun berdamai
lagi. Seperti itu, ya seperti itu. Sangat sederhana namun terasa spesial.
Dalam seminggu selalu
aku sisipkan satu hari agar kami dapat bersama, walau sesibuk apapun aku
berusaha untuk ada saat satu hari itu. Kami sama-sama sibuk, aku dan dia bukanlah
seorang kaula muda yang hanya sibuk dengan urusan asmara. Aku masih ingat
tugasku sebagai seorang anak dan juga mahasiswa, begitu pun dia. Jadi, jika
frekuensi pertemuan kami sudah agak berkurang maka kami akan tetapkan satu hari
itu untuk seharian bersama. Entah menghabiskan waktu untuk pergi ke bioskop
untuk menonton film, mengunjungi taman rekreasi untuk melepaskan kejenuhan
setelah lelah dengan aktifitas, atau bahkan hanya sekedar untuk mendengarkan
keluh kesahnya tentang kesibukannya. Aku selalu senang dengan itu.
Sepanjang itu, hubungan
kami tidak ada masalah. Ya, tidak ada masalah besar yang membuat kami
bertengkar hebat. Tunggu, aku belum cerita ya? Kami jarang sekali bertemu
dengan konflik yang sangat serius. Konflik yang sering kami hadapi paling ya
hanya miss komunikasi. Dalam hubungan tentu saja komunikasi adalah suatu hal
yang sangat penting. Pasalnya, bagaimana cara menjalin hubungan jika kita tidak
berkomunikasi? Suatu hubungan bisa saja bermulai dari sebuah komunikasi singkat
yang kian melebar lantaran dua sejoli yang berkomunikasi itu terbentur dengan
rasa “nyaman” yang membuat satu sama lain ingin terus menerus mengetahui kabar
masing-masing. Sesederhana itu, memang. Sama seperti aku dan dia. Dulu kami
hanya suka bertitip-titip salam lewat teman ku yang kebetulan juga dekat
dengannya. Hingga aku memberanikan diri untuk menanyakan kontaknya dan kemudian
kami berhubungan via ponsel, lalu meningkat menjadi sering membuat janji untuk
sekedar jalan bersama. Dan akhirnya, aku menyatakan perasaanku kepadanya. Oh
sungguh, saat itu dewa fortuna sedang berpihak padaku sehingga rencanaku
berhasil dan membuatnya menjadi milikku. Lalu, kami pun dimabuk asmara.
Terutama aku.
Hingga suatu hari,
malam itu saat aku baru pulang setelah mengerjakan tugas dengan teman-temanku.
Ponsel ku berdering dan menunjukkan namanya sebagai pemiliki notif tersebut.
Aku pun langsung membuka pesanku saat itu, aku berharap ada kabar bahagia.
Ternyata, memang benar apa kata orang jangan terlalu banyak berharap dengan
manusia nanti kau kecewa. Tiba-tiba saja dia mengirimiku pesan “kita putus ya” aku kaget bukan main, apa alasannya?
Hubungan kami seminggu terakhir sedang dalam mode baik-baik saja. Lalu, apa
ini? Putus sepihak? Melalui chat? Tidak bisa aku terima, tentu. Aku membalas
pesannya dengan kalimat “kenapa tiba-tiba?” coba kau tebak apa balasannya? “Aku
jenuh”. Deg, lagi-lagi berhasil membuatku terkejut sekali lagi. Jenuh? Apa aku
menjenuhkan? Kenapa dia sebelumnya tidak pernah berbicara tentang ini? Padahal
kita sudah sepakat untuk saling berterus terang jika kita merasa ada yang
mengganjal pada hubungan itu. Tapi, dia melanggarnya.
Aku yang tentu saja tak
terima, ini bukan soal harga diri tetapi ini soal kejelasan. Aku masih tak bisa
percaya, dia bahkan mengakhiri hubungan lewat chat. Aku langsung meluncur ke
rumahnya. Berhubung jarak yang ku tempuh tidak begitu jauh, aku sampai kesana
sekitar 20 menit. Beruntung rumahnya tidak memiliki pagar, jadi aku tak perlu
repot-repot membuka pagar. Sesampainya disana aku langsung menaruh motorku dan
mendekati pintu untuk mengajaknya berbicara. Satu menit, dua menit, lima menit,
sepuluh menit aku mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada jawaban darinya. Dia hanya tinggal dengan kakaknya dan adik
laki-lakinya, kakaknya saat ini tidak ada di rumah dan entah adiknya. Mungkin
dia menyuruh adiknya untuk tidak meresponku. 20 menit berlalu aku masih
tolelir, sudah lewat 30 menit aku langsung membombardirnya lewat whats app. Aku
bahkan melakukan panggilan sebanyak 10 kali namun diabaikan semua. Satu jam,
dan aku masih disana tanpa sebuah kejelasan. Saat aku sudah hampir menyerah,
akhirnya dia pun keluar. Aku yang antusias beda dengan dia yang malah
melontarkan kalimat “Kenapa masih disini ? Pulanglah, tidak ada yang perlu
kujelaskan”. Tidak ada yang perlu dijelaskan katanya? Tentu saja semuanya perlu
dijelaskan. Semuanya tidak ada yang masuk akal. Mulai dari pesan itu sampai
kenapa dia membiarkan aku selama satu jam di luar? Aku semakin dibuat
keheranan. Tapi yang membuat ku heran, malah dengan entengnya masuk kembali ke
dalam dan mengunci pintunya rapat-rapat seolah tidak mengizinkanku untuk
berharap dia kembali dengan sangat. Aku terdiam sejenak, aku mematung selama 5
menit di depan pintunya. Sangat bodoh aku waktu itu, bukannya langsung pergi
malah mematung. Wah, penantian ku sia-sia? Bahkan aku tak dihargi sama sekali.
Selang seminggu setelah
hubungan kami berakhir. Aku yang masih diselimuti rasa sedih, pundung, galau,
dan segala macam rasa menyedihkan lainnya tak sengaja melihat pemandangan yang
sangat membuatku terkejut. Aku melihatnya sedang bersama seorang pria lain. Dia
sedang bersenang-senang, sedangkan aku masih mengenang saat-saat bersamanya.
Aku terpelatuk, saat itu aku berpikir apa usahaku kurang suka? Apa aku pernah
melakukan kejahatan seperti ini sebelumnya? Kenapa aku? Aku benar-benar tidak
mengerti. Yang bisa ku mengerti adalah, dia jenuh karena ada seseorang yang
mampu menggantikan peranku di hidupnya. Dia jenuh karena sudah ada seseorang
yang mampu membuat bibirnya tersenyum selain aku. Dia jenuh, karena dia sudah
menemukan yang lebih baik dariku.
Untuk kamu, masa laluku
terima kasih pernah kau sempatkan hadir dalam hidupku. Walaupun bukan akhir
bahagia yang terukir. Tapi, aku disini mendo’akanmu agar terus bahagia dengan
kisah barumu. Meskipun, itu bukan denganku.

0 komentar:
Posting Komentar