Kamis, 04 Januari 2018

Akhir Yang Tak Diinginkan
By : Adinda Mutiara Purnama

Kata orang jika kita berusaha, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Kata orang jika kita berkorban, apapun yang kita korbankan tak akan sia-sia.
Kata orang….
Terlalu banyak kata orang yang aku dengar, begitu manis sampai-sampai aku terbuai dengan mimpi-mimpi indah yang nyatanya tak bisa aku miliki. Aku hanyalah aku, pria dungu yang rela melakukan apapun demi cinta. Bodohnya aku terlena dengan manis fiktif yang ada di awalnya sampai aku lupa bahwa dalam cinta tidak melulu kesenangan yang dapat kita rasakan.  Aku lupa, sungguh sangat lupa.
Aku pernah menjalin sebuah hubungan, yang mana hubungan itu sudah kandas sekarang. Apa kau tahu apa alasan kandasnya hubunganku? “Jenuh”. Aku masih tak habis pikir bagaimana rasa jenuh dapat mengakhiri sebuah hubungan yang sudah terjalin lama? Aku sempat berkaca pada diriku sendiri, apa kurangnya aku? Apa aku terlalu naïf ? Apa aku membosankan? Apa aku… terlalu banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan. Teman-teman ku banyak yang sepertiku, maksudnya menjalin hubungan dalam waktu yang lama, tapi hanya aku di antara mereka yang harus mengalami kejadian pahit seperti ini. Apa Tuhan tidak sayang padaku? Atau apa aku terlalu sering bercumbu dengan makhluknya sehingga dia cemburu? Ah aku tak tahu apa-apa.
Hubungan yang aku jalani dulu sama seperti pasangan biasa, memang pasti ada konflik namun aku selalu bisa bernegosiasi dengannya agar hubungan ini tetap terjaga keselarasannya. Dan dia yang selalu saja luluh dengan negosiasiku, kami pun berdamai lagi. Seperti itu, ya seperti itu. Sangat sederhana namun terasa spesial.
Dalam seminggu selalu aku sisipkan satu hari agar kami dapat bersama, walau sesibuk apapun aku berusaha untuk ada saat satu hari itu. Kami sama-sama sibuk, aku dan dia bukanlah seorang kaula muda yang hanya sibuk dengan urusan asmara. Aku masih ingat tugasku sebagai seorang anak dan juga mahasiswa, begitu pun dia. Jadi, jika frekuensi pertemuan kami sudah agak berkurang maka kami akan tetapkan satu hari itu untuk seharian bersama. Entah menghabiskan waktu untuk pergi ke bioskop untuk menonton film, mengunjungi taman rekreasi untuk melepaskan kejenuhan setelah lelah dengan aktifitas, atau bahkan hanya sekedar untuk mendengarkan keluh kesahnya tentang kesibukannya. Aku selalu senang dengan itu.
Sepanjang itu, hubungan kami tidak ada masalah. Ya, tidak ada masalah besar yang membuat kami bertengkar hebat. Tunggu, aku belum cerita ya? Kami jarang sekali bertemu dengan konflik yang sangat serius. Konflik yang sering kami hadapi paling ya hanya miss komunikasi. Dalam hubungan tentu saja komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting. Pasalnya, bagaimana cara menjalin hubungan jika kita tidak berkomunikasi? Suatu hubungan bisa saja bermulai dari sebuah komunikasi singkat yang kian melebar lantaran dua sejoli yang berkomunikasi itu terbentur dengan rasa “nyaman” yang membuat satu sama lain ingin terus menerus mengetahui kabar masing-masing. Sesederhana itu, memang. Sama seperti aku dan dia. Dulu kami hanya suka bertitip-titip salam lewat teman ku yang kebetulan juga dekat dengannya. Hingga aku memberanikan diri untuk menanyakan kontaknya dan kemudian kami berhubungan via ponsel, lalu meningkat menjadi sering membuat janji untuk sekedar jalan bersama. Dan akhirnya, aku menyatakan perasaanku kepadanya. Oh sungguh, saat itu dewa fortuna sedang berpihak padaku sehingga rencanaku berhasil dan membuatnya menjadi milikku. Lalu, kami pun dimabuk asmara. Terutama aku.
Hingga suatu hari, malam itu saat aku baru pulang setelah mengerjakan tugas dengan teman-temanku. Ponsel ku berdering dan menunjukkan namanya sebagai pemiliki notif tersebut. Aku pun langsung membuka pesanku saat itu, aku berharap ada kabar bahagia. Ternyata, memang benar apa kata orang jangan terlalu banyak berharap dengan manusia nanti kau kecewa. Tiba-tiba saja dia mengirimiku pesan “kita putus  ya” aku kaget bukan main, apa alasannya? Hubungan kami seminggu terakhir sedang dalam mode baik-baik saja. Lalu, apa ini? Putus sepihak? Melalui chat? Tidak bisa aku terima, tentu. Aku membalas pesannya dengan kalimat “kenapa tiba-tiba?” coba kau tebak apa balasannya? “Aku jenuh”. Deg, lagi-lagi berhasil membuatku terkejut sekali lagi. Jenuh? Apa aku menjenuhkan? Kenapa dia sebelumnya tidak pernah berbicara tentang ini? Padahal kita sudah sepakat untuk saling berterus terang jika kita merasa ada yang mengganjal pada hubungan itu. Tapi, dia melanggarnya.
Aku yang tentu saja tak terima, ini bukan soal harga diri tetapi ini soal kejelasan. Aku masih tak bisa percaya, dia bahkan mengakhiri hubungan lewat chat. Aku langsung meluncur ke rumahnya. Berhubung jarak yang ku tempuh tidak begitu jauh, aku sampai kesana sekitar 20 menit. Beruntung rumahnya tidak memiliki pagar, jadi aku tak perlu repot-repot membuka pagar. Sesampainya disana aku langsung menaruh motorku dan mendekati pintu untuk mengajaknya berbicara. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit aku mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada jawaban darinya.  Dia hanya tinggal dengan kakaknya dan adik laki-lakinya, kakaknya saat ini tidak ada di rumah dan entah adiknya. Mungkin dia menyuruh adiknya untuk tidak meresponku. 20 menit berlalu aku masih tolelir, sudah lewat 30 menit aku langsung membombardirnya lewat whats app. Aku bahkan melakukan panggilan sebanyak 10 kali namun diabaikan semua. Satu jam, dan aku masih disana tanpa sebuah kejelasan. Saat aku sudah hampir menyerah, akhirnya dia pun keluar. Aku yang antusias beda dengan dia yang malah melontarkan kalimat “Kenapa masih disini ? Pulanglah, tidak ada yang perlu kujelaskan”. Tidak ada yang perlu dijelaskan katanya? Tentu saja semuanya perlu dijelaskan. Semuanya tidak ada yang masuk akal. Mulai dari pesan itu sampai kenapa dia membiarkan aku selama satu jam di luar? Aku semakin dibuat keheranan. Tapi yang membuat ku heran, malah dengan entengnya masuk kembali ke dalam dan mengunci pintunya rapat-rapat seolah tidak mengizinkanku untuk berharap dia kembali dengan sangat. Aku terdiam sejenak, aku mematung selama 5 menit di depan pintunya. Sangat bodoh aku waktu itu, bukannya langsung pergi malah mematung. Wah, penantian ku sia-sia? Bahkan aku tak dihargi sama sekali.
Selang seminggu setelah hubungan kami berakhir. Aku yang masih diselimuti rasa sedih, pundung, galau, dan segala macam rasa menyedihkan lainnya tak sengaja melihat pemandangan yang sangat membuatku terkejut. Aku melihatnya sedang bersama seorang pria lain. Dia sedang bersenang-senang, sedangkan aku masih mengenang saat-saat bersamanya. Aku terpelatuk, saat itu aku berpikir apa usahaku kurang suka? Apa aku pernah melakukan kejahatan seperti ini sebelumnya? Kenapa aku? Aku benar-benar tidak mengerti. Yang bisa ku mengerti adalah, dia jenuh karena ada seseorang yang mampu menggantikan peranku di hidupnya. Dia jenuh karena sudah ada seseorang yang mampu membuat bibirnya tersenyum selain aku. Dia jenuh, karena dia sudah menemukan yang lebih baik dariku.
Untuk kamu, masa laluku terima kasih pernah kau sempatkan hadir dalam hidupku. Walaupun bukan akhir bahagia yang terukir. Tapi, aku disini mendo’akanmu agar terus bahagia dengan kisah barumu. Meskipun, itu bukan denganku.



0 komentar:

Posting Komentar

Love is...
© Karomatul Faiza - Template by Blogger Sablonlari - Font by Fontspace